Tampilkan postingan dengan label kisah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah Islam. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Oktober 2012
Mina dan Harapan
Oleh: Luthfan
Ummul Mukminin, Aisyah RA berkata, “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, tidakkah (sebaiknya) kami bangunkan rumah untuk engkau di Mina (sebagai tempat bernaung)?”
Beliau menjawab, “Tidak perlu, karena Mina tempat singgah siapa yang datang lebih dahulu.” (HR Tirmidzi, hadis hasan sahih).
Pada zaman dahulu, Mina merupakan hamparan padang luas dan belum dibangun seperti sekarang ini. Dengan luas sekitar 650 hektare, Mina mampu menampung jamaah haji dalam jumlah yang cukup besar, kendati tidak sama dengan saat ini.
Di sekitar Mina, belum ada pengaturan tempat, pembangunan jembatan, terowongan, dan perkemahan serapi saat ini.
Namun, perkembangan jamaah yang terus meningkat hingga mencapai tiga juta orang, mendorong Pemerintah Arab Saudi untuk meningkatkan layanan ibadah haji. Hal itu dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa saat melempar jumrah.
Kondisi demikian sangat jauh berbeda dengan masa Rasulullah SAW, jamaah haji yang datang menaiki unta dan datang lebih awal ke Mina, dipersilakan untuk mengikatkan untanya di tempat yang ia kehendaki. Bagi jamaah haji yang datangnya belakangan, tidak mendapatkan tempat sebagaimana yang datang lebih dahulu.
Mina atau Muna dalam bahasa Arab berarti harapan, tempat ini menjadi harapan bagi Nabi Adam AS, setelah dibisiki bertemu dengan Hawa karena perpisahan selama dua ratus tahun. Pada kisah yang sama, Mina berasal dari kata Amna berarti mengalirkan darah.
Mina menjadi tempat bagi Nabi Ibrahim AS melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ibadah ini kemudian disyariatkan kepada umat Islam untuk menyembelih hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha hingga hari Tasyrik, untuk mengenang peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim itu.
Mina berarti juga mengalami cobaan. Tidak saja harus mengorbankan putra tersayangnya, Ibrahim juga diuji oleh setan. Karena itulah, Nabi Ibrahim AS melempari setan itu dengan batu. Kisah ini diabadikan dengan kewajiban setiap jamaah untuk melempar jumrah (Aqabah, Ula, Wustha).
Tidak hanya berhenti sampai di situ, Rasulullah SAW juga dibaiat oleh orang-orang Anshar untuk menjadi warga setempat ketika tiba di Mina. Di Mina, jamaah haji tidak diperbolehkan melakukan hubungan suami istri sampai prosesi ibadah hajinya selesai.
Peristiwa-peristiwa besar di atas menggambarkan akan harapan-harapan dan kebaikan saat melaksanakan ibadah haji di Mina. Mina menjadi saksi atas berkumpulnya dua perkara penting yaitu perintah (amr) dan juga larangan (nahy). Ibrahim menaati perintah Allah untuk menyembelih putra yang disayanginya, dan larangan mengikuti setan, serta menjauhi hubungan suami istri.
Di Mina, jamaah disunahkan berdoa, “Ya Allah, tempat ini adalah Mina, maka anugerahilah aku apa yang telah engkau anugerahkan kepada orang-orang yang selalu dekat dan taat kepada-Mu.”
Mari kita berlomba-lomba menuju Mina agar mendapatkan tempat paling baik untuk memperoleh harapan dan kebaikan di Mina. Wallahu a’lam
Becanda Doa Apalagi Ayat Lebih dari Kualat
Di bulan Ramadhan kemarin saya mendapatkan blackberry messenger
(BBM) dari mbak Lenny salah seorang sahabat yang selalu membantu dakwah iHAQi
di Jakarta.
Isinya tentang kekhawatiran beliau mengenai beredarnya plesetan-plesetan do’a dan pertanyaan tentang bagaimana Islam memandang ini secara hukumnya.
Astaghfirullah, Saya sendiri terkejut melihat contoh plesetan do’a yang beredar di sosial media. Saya pernah membaca dahulu salah satu becandaan dengan mengedepankan kata-kata “Barang siapa”, yang memang seringkali kita dengar dalam hadits-hadits Rasulullah SAW. Seperti hadits “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim). Nah kata-kata barang siapa inilah yang dahulu sering diplesetkan menjadi guyonan yang menurut saya tidaklah pantas.
Namun kali ini jauh lebih buruk lagi dari contoh di atas. Saya pun tidak kuasa menuliskan contohnya disini. Tetapi agar ada sedikit bayangan untuk tujuan agar jangan sampai salah seorang dari kita merespons apalagi terseret menjadi bagian dari guyonan ini. Saya akan angkat sedikit saja. Judulnya “do’a minta THR” ; “…blabla (depannya saya edit), innizammanzulit, wainnibulanazzaib, mawufinzamfullus..blablabla”. Masya Allah cukup panjang dan mengutip nama Allah di depannya.
Isinya tentang kekhawatiran beliau mengenai beredarnya plesetan-plesetan do’a dan pertanyaan tentang bagaimana Islam memandang ini secara hukumnya.
Astaghfirullah, Saya sendiri terkejut melihat contoh plesetan do’a yang beredar di sosial media. Saya pernah membaca dahulu salah satu becandaan dengan mengedepankan kata-kata “Barang siapa”, yang memang seringkali kita dengar dalam hadits-hadits Rasulullah SAW. Seperti hadits “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim). Nah kata-kata barang siapa inilah yang dahulu sering diplesetkan menjadi guyonan yang menurut saya tidaklah pantas.
Namun kali ini jauh lebih buruk lagi dari contoh di atas. Saya pun tidak kuasa menuliskan contohnya disini. Tetapi agar ada sedikit bayangan untuk tujuan agar jangan sampai salah seorang dari kita merespons apalagi terseret menjadi bagian dari guyonan ini. Saya akan angkat sedikit saja. Judulnya “do’a minta THR” ; “…blabla (depannya saya edit), innizammanzulit, wainnibulanazzaib, mawufinzamfullus..blablabla”. Masya Allah cukup panjang dan mengutip nama Allah di depannya.
Na’udzubillah, innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’un.
Betapa potensi energi kreatif yang dahsyat ini digunakan hanya untuk guyonan
belaka yang niatnya mungkin hanya untuk mengundang tawa namun tanpa bimbingan
walhasil mudhorot. Tapi sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar,
tahu atau tidak tahu, mau atau tidak mau, suka tidak suka hal seperti ini
termasuk ke dalam memperolok-olok ayat Allah SWT. Sebagaimana dalam surat An
Nisaa ayat 140 dinyatakan: “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di
dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan
diperolok-olokan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta
mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya
(kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya
Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di
dalam jahannam.”
Berturut-turut pula diterangkan dalam surat At Taubah: “Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: "Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya)". Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti.” (QS. At Taubah : 64)
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?" (QS. At Taubah : 65)
“Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema'afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At Taubah : 66)
Ayat ini menjelaskan sikap orang-orang munafik terhadap Allah, RasulNya dan kaum mukmin. Kebencian yang selama ini mereka pendam, terlahir dalam bentuk ejekan dan olok-olokan terhadap Allah dan RasulNya. Dahulu musuh-musuh Allahpun memelesetkan ucapan salam menjadi assaamu 'alaikum, yang artinya (semoga kematianlah atas kamu). Dan banyak lagi plesetan serta olok-olok seperti itu. Mereka tujukan ucapan itu kepada Rasulullah SAW.
Dalam istilah bahasa Arab dikenal kata Istihza', secara bahasa artinya sukhriyah, yaitu melecehkan. “Al huzu', adalah senda-gurau yang tersembunyi. Kadang-kala disebut juga senda-gurau atau kelakar." Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui makna istihzaa', yaitu pelecehan dan penghinaan dalam bentuk olok-olokan dan kelakar. Secara syar'i Istihza' adalah suatu bentuk pelecehan atau memperolok-olok agama. Barangsiapa yang memperolok Rasul-Nya, berarti ia telah memperolok Allah. Barang siapa yang memperolok ayat-ayat-Nya, berarti ia telah memperolok Rasul-Nya. Barang siapa yang memperolok sebagiannya maka ia telah memperolok seluruhnya.
Jika kita melihat judul di atas saya menuliskan “BECANDA DOA APALAGI AYAT LEBIH DARI KUALAT!”. Jika kita lihat arti kualat dalam kamus besar bahasa Indonesia yaitu; 1. Mendapat bencana (karena berbuat kurang baik kepada orang tua dsb); kena tulah; 2. Cak celaka; terkutuk. Melihat arti kata kualat dan pemahaman ayat-ayat di atas maka bisa kita sama-sama pahami bahwa ; dalam memperolok-olok agama musibah yang didapatakan lebih dari kualat.
Karena itu mulai sekarang mari hati-hati, segera bertaubat. Saya yakin tidak ada unsur kesengajaan di dalam prosesnya. Tapi setelah ini jauhi becandaan seperti itu. Jangan ikut-ikutan walaupun sekedar gaul. Mendingan dibilang ga gaul daripada becanda doa, apalagi ayat, ingat jangan mau kualat, mending segera taubat!
Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Erick Yusuf (pemrakarsa Training iHAQi – Integrated Human Quotient)
Berturut-turut pula diterangkan dalam surat At Taubah: “Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: "Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya)". Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti.” (QS. At Taubah : 64)
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?" (QS. At Taubah : 65)
“Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema'afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At Taubah : 66)
Ayat ini menjelaskan sikap orang-orang munafik terhadap Allah, RasulNya dan kaum mukmin. Kebencian yang selama ini mereka pendam, terlahir dalam bentuk ejekan dan olok-olokan terhadap Allah dan RasulNya. Dahulu musuh-musuh Allahpun memelesetkan ucapan salam menjadi assaamu 'alaikum, yang artinya (semoga kematianlah atas kamu). Dan banyak lagi plesetan serta olok-olok seperti itu. Mereka tujukan ucapan itu kepada Rasulullah SAW.
Dalam istilah bahasa Arab dikenal kata Istihza', secara bahasa artinya sukhriyah, yaitu melecehkan. “Al huzu', adalah senda-gurau yang tersembunyi. Kadang-kala disebut juga senda-gurau atau kelakar." Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui makna istihzaa', yaitu pelecehan dan penghinaan dalam bentuk olok-olokan dan kelakar. Secara syar'i Istihza' adalah suatu bentuk pelecehan atau memperolok-olok agama. Barangsiapa yang memperolok Rasul-Nya, berarti ia telah memperolok Allah. Barang siapa yang memperolok ayat-ayat-Nya, berarti ia telah memperolok Rasul-Nya. Barang siapa yang memperolok sebagiannya maka ia telah memperolok seluruhnya.
Jika kita melihat judul di atas saya menuliskan “BECANDA DOA APALAGI AYAT LEBIH DARI KUALAT!”. Jika kita lihat arti kualat dalam kamus besar bahasa Indonesia yaitu; 1. Mendapat bencana (karena berbuat kurang baik kepada orang tua dsb); kena tulah; 2. Cak celaka; terkutuk. Melihat arti kata kualat dan pemahaman ayat-ayat di atas maka bisa kita sama-sama pahami bahwa ; dalam memperolok-olok agama musibah yang didapatakan lebih dari kualat.
Karena itu mulai sekarang mari hati-hati, segera bertaubat. Saya yakin tidak ada unsur kesengajaan di dalam prosesnya. Tapi setelah ini jauhi becandaan seperti itu. Jangan ikut-ikutan walaupun sekedar gaul. Mendingan dibilang ga gaul daripada becanda doa, apalagi ayat, ingat jangan mau kualat, mending segera taubat!
Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Erick Yusuf (pemrakarsa Training iHAQi – Integrated Human Quotient)
http//www.ihaqishop.com
twitter @erickyusuf – erickyusuf@yahoo.com
Cut Nyak Meutia, Mujahidah dari Serambi Makkah
REPUBLIKA.CO.ID, Cantik, pemberani dan cerdas. Itulah sosok
seorang Cut Nyak Meutia, Pahlawan Kemerdekaan Nasional dari bumi Serambi
Makkah, Aceh.
Di awal abad ke-20 M, Cut Nyak Meutia berjuang dengan mengorbankan harta dan jiwanya demi memerangi dan mengusir penjajah Belanda dari Tanah Rencong.
Putri Teuku Ben Daud dan Cut Jah atau Cut Mulieng itu tak rela tanah kelahirannya dijajah tentara kafir.
Kecintaannya terhadap tumpah darah dan rakyat Aceh telah mengobarkan semangat perlawanan pada dirinya. Muslimah pemberani itu pun angkat senjata, meski harus mengarungi lembah dan hutan. Semua dilakukannya demi mempertahankan kedaulatan negerinya.
Sang mujahidah pun gugur sebagai syahidah. Pada 25 Oktober 1910, Muslimah pemberani itu menghembuskan nafas terakhirnya, setelah tiga peluru yang meletus dari moncong senapan tentara Belanda menembus kepada dan badannya.
Meski begitu, Cut Nyak Meutia telah meniupkan semangat juang bagi kaumnya. Sebuah semangat yang tak akan pernah padam dan selalu dikenang sejarah.
Cut Nyak Meutia terlahir di Perlak, Aceh pada 1870. Suami pertamanya bernama Teuku Muhammad alias Teuku Cik Tunong, wafat Mei 1905. Suami keduanya bernama Pang Nangru meninggal pada September 1910 di Paya Cicem. Semangat jihad fi sabilillahnya begitu tinggi. Ia pun menamai putranya, Raja Sabil.
Tentara kolonial Belanda telah bercokol dan menguasai Aceh, sebelum Cut Nyak Meutia terlahir. Kezaliman dan kesewenang-wenangan yang dilakukan tentara Belanda terhadap rakyat Aceh telah memicu dan mengobarkan semangat perlawanan.
Tepat, tiga tahun sebelum Perang Aceh berkobar, seorang bayi perempuan yang diberi nama Cut Nyak Meutia terlahir.
Di awal abad ke-20 M, Cut Nyak Meutia berjuang dengan mengorbankan harta dan jiwanya demi memerangi dan mengusir penjajah Belanda dari Tanah Rencong.
Putri Teuku Ben Daud dan Cut Jah atau Cut Mulieng itu tak rela tanah kelahirannya dijajah tentara kafir.
Kecintaannya terhadap tumpah darah dan rakyat Aceh telah mengobarkan semangat perlawanan pada dirinya. Muslimah pemberani itu pun angkat senjata, meski harus mengarungi lembah dan hutan. Semua dilakukannya demi mempertahankan kedaulatan negerinya.
Sang mujahidah pun gugur sebagai syahidah. Pada 25 Oktober 1910, Muslimah pemberani itu menghembuskan nafas terakhirnya, setelah tiga peluru yang meletus dari moncong senapan tentara Belanda menembus kepada dan badannya.
Meski begitu, Cut Nyak Meutia telah meniupkan semangat juang bagi kaumnya. Sebuah semangat yang tak akan pernah padam dan selalu dikenang sejarah.
Cut Nyak Meutia terlahir di Perlak, Aceh pada 1870. Suami pertamanya bernama Teuku Muhammad alias Teuku Cik Tunong, wafat Mei 1905. Suami keduanya bernama Pang Nangru meninggal pada September 1910 di Paya Cicem. Semangat jihad fi sabilillahnya begitu tinggi. Ia pun menamai putranya, Raja Sabil.
Tentara kolonial Belanda telah bercokol dan menguasai Aceh, sebelum Cut Nyak Meutia terlahir. Kezaliman dan kesewenang-wenangan yang dilakukan tentara Belanda terhadap rakyat Aceh telah memicu dan mengobarkan semangat perlawanan.
Tepat, tiga tahun sebelum Perang Aceh berkobar, seorang bayi perempuan yang diberi nama Cut Nyak Meutia terlahir.
Ya, Cut Nyak Meutia dibesarkan dalam suasana peperangan dan
pertempuran. Dalam darahnya mengalir semangat jihad dan keberanian.
Menginjak dewasa, sang mujahidah pun menikah dengan seorang pejuang Aceh bernama Teuku Muhammad yang dikenal dengan panggilanTeuku Cik Tunong.
Semangat perlawanan rakyat Aceh untuk mengusir penjajah terus berkobar. Cut Nyak Meutia tak bisa tinggal diam. Ia bersama sang suami, Teuku Cik Tunon, langsung memimpin perang di wilayah Pasai.
Perang rakyat Aceh terhadap Belanja yang terjadi pada 1900 itu telah menelan korban jiwa yang begitu banyak, baik dari Aceh maupun Belanda.
Mendapat perlawanan yang kian sengit, kolonial Belanda menambah persenjataannya. Cut Nyak Meutia pun harus memutar otak untuk menghadapi pasukan Belanja dengan senjata yang mutakhir.
Bersama suaminya, ia memimpin perang gerilya. Berkali-kali pasukannya berhasil mencegat patroli pasukan Belanda. Bahkan, mereka pun sempat menggempur markas pasukan Belanda di Idie.
Perlawanan yang dikobarkan Cut Nyak Meutia bersama sang suami terus membakar semangat rakyat Aceh. Belanda pun mulai keteteran. Beragam upaya dilakukan untuk menghentikan bara perlawanan yang terus dikobarkan Cut Nyak Meutia bersama sang suami dan rakyat Aceh. Penjajah sempat membujuk keluarga Cut Nyak Meutia agar menghentikan perlawanan.
Semua upaya Belanda itu gagal. Tak ada kata tunduk terhadap penjajah kafir bagi Cut Nyak Meutia. Tanpa mengenal rasa takut, Cut Nyak Meutia bersama suaminya terus menggerakkan perlawanan.
Menginjak dewasa, sang mujahidah pun menikah dengan seorang pejuang Aceh bernama Teuku Muhammad yang dikenal dengan panggilanTeuku Cik Tunong.
Semangat perlawanan rakyat Aceh untuk mengusir penjajah terus berkobar. Cut Nyak Meutia tak bisa tinggal diam. Ia bersama sang suami, Teuku Cik Tunon, langsung memimpin perang di wilayah Pasai.
Perang rakyat Aceh terhadap Belanja yang terjadi pada 1900 itu telah menelan korban jiwa yang begitu banyak, baik dari Aceh maupun Belanda.
Mendapat perlawanan yang kian sengit, kolonial Belanda menambah persenjataannya. Cut Nyak Meutia pun harus memutar otak untuk menghadapi pasukan Belanja dengan senjata yang mutakhir.
Bersama suaminya, ia memimpin perang gerilya. Berkali-kali pasukannya berhasil mencegat patroli pasukan Belanda. Bahkan, mereka pun sempat menggempur markas pasukan Belanda di Idie.
Perlawanan yang dikobarkan Cut Nyak Meutia bersama sang suami terus membakar semangat rakyat Aceh. Belanda pun mulai keteteran. Beragam upaya dilakukan untuk menghentikan bara perlawanan yang terus dikobarkan Cut Nyak Meutia bersama sang suami dan rakyat Aceh. Penjajah sempat membujuk keluarga Cut Nyak Meutia agar menghentikan perlawanan.
Semua upaya Belanda itu gagal. Tak ada kata tunduk terhadap penjajah kafir bagi Cut Nyak Meutia. Tanpa mengenal rasa takut, Cut Nyak Meutia bersama suaminya terus menggerakkan perlawanan.
Pada Mei 1905, ia harus menerima kenyataaan pahit.
Suaminya, Teuku Cik Tunong tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Perlawanan tak berhenti. Cut Nyak Meutia menikah lagi dengan Pang Nangru, pria yang ditunjuk suami pertamanya untuk mendampingi perjuangan mujahidah dari Perlak itu.
Pang Nangru merupakan orang kepercayaan Teuku Cik Tunong. Bersama suami keduanya, Cut Nyak Meutia terus melanjutkan perjuangan melawan penjajah Belanda.
Belanda pun kian marah. Pengepungan terhadap Cut Nyak Meutia kian diperketat. Pasukan sang mujahidah pun kian terpukul.
Dengan cara bergerilya, Cut Nyak Meutia menghindar ke pedalaman rimba Pasai. Ia bersama pejuang Aceh berpindah-pindah tempat. Hingga akhirnya, pada September tahun 1910, Pang Nangru gugur. Cut Nyak Meutia berhasil meloloskan diri.
Kekuatan pun kian melemah. Terlebih, beberapa teman Pang Nangru akhirnya menyerahkan diri. Cut Nyak Meutia tak gentar. Ia terus melakukan perlawanan sembari bergerilya bersama putranya, Raja Sabil. Pada 24 Oktober 1910, pasukan Belanda mengetahui tempat persembunyiannya.
Berbekal sebilah rencong di tangannya, Cut Nyak Meutia tetap melawan gempuran senjata api. Sampai tetes darah penghabisan, sang mujahidah tetap membela keyakinannya.
Ia gugur setelah tiga butir peluru bersarang di kepala dan dadanya. Ia gugur sebagai seorang pahlawan bagi rakyat Aceh dan mujahidah bagi agamanya.
Perlawanan tak berhenti. Cut Nyak Meutia menikah lagi dengan Pang Nangru, pria yang ditunjuk suami pertamanya untuk mendampingi perjuangan mujahidah dari Perlak itu.
Pang Nangru merupakan orang kepercayaan Teuku Cik Tunong. Bersama suami keduanya, Cut Nyak Meutia terus melanjutkan perjuangan melawan penjajah Belanda.
Belanda pun kian marah. Pengepungan terhadap Cut Nyak Meutia kian diperketat. Pasukan sang mujahidah pun kian terpukul.
Dengan cara bergerilya, Cut Nyak Meutia menghindar ke pedalaman rimba Pasai. Ia bersama pejuang Aceh berpindah-pindah tempat. Hingga akhirnya, pada September tahun 1910, Pang Nangru gugur. Cut Nyak Meutia berhasil meloloskan diri.
Kekuatan pun kian melemah. Terlebih, beberapa teman Pang Nangru akhirnya menyerahkan diri. Cut Nyak Meutia tak gentar. Ia terus melakukan perlawanan sembari bergerilya bersama putranya, Raja Sabil. Pada 24 Oktober 1910, pasukan Belanda mengetahui tempat persembunyiannya.
Berbekal sebilah rencong di tangannya, Cut Nyak Meutia tetap melawan gempuran senjata api. Sampai tetes darah penghabisan, sang mujahidah tetap membela keyakinannya.
Ia gugur setelah tiga butir peluru bersarang di kepala dan dadanya. Ia gugur sebagai seorang pahlawan bagi rakyat Aceh dan mujahidah bagi agamanya.
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter:
Heri Ruslan
Bisnis yang Dijamin Tidak Rugi
Baru-baru ini ada berita yang menghebohkan, salah satu perusahaan Robert T Kiyosaki bangkrut. Saya tidak tahu pasti berita tersebut benar atau tidak. Saya juga enggan mencari kebenaran berita itu. Mengapa? Bagi saya, walau dikelola orang hebat sekalipun, bisnis apapun berpeluang bangkrut. Pikiran saya yang lain, jangan-jangan ini strategi bisnis Kiyosaki untuk meraih keuntungan.
Bicara bisnis bangkrut, saya jadi teringat ketika tahun 2001 semua bisnis saya ludes bahkan meninggalkan hutang. Saat hati gundah gulana, saya mencari ketenangan hati dengan belajar ke berbagai guru kehidupan di Bogor. Saya menerima banyak nasihat, ada yang normatif tetapi banyak juga yang ‘nancep’ ke dalam hati.
Salah satu nasihat yang membekas hingga sekarang adalah: Semua bisnis berpeluang rugi. Hanya tiga jenis bisnis yang dijamin tidak akan rugi selama-lamanya. Anda ingin berbisnis yang tidak akan pernah rugi? Berbisnislah ketiga hal tersebut segera, jangan ditunda-tunda karena yang menjamin tidak rugi adalah Allah SWT, Sang Maha Tahu. Mau? Benar?
Nah, apa saja tiga jenis bisnis yang dijamin tidak akan pernah rugi itu? Di dalam Al-Qur’an surat Al Fathir: 29, Allah memberitahukan: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.”
Bisnis yang dijamin tidak rugi hanya tiga, yaitu: membaca Al Qur’an, mendirikan sholat, dan sedekah. Jadi, segeralah melakukan ketiga bisnis tersebut, maka dijamin tidak akan pernah merugi. Hebat ya? Modalnya kecil, mudah pula melakukannya, tidak perlu studi kelayakan tetapi bisnisnya dijamin tidak rugi. Anda akan sangat merugi apabila tidak mengambil ketiga bisnis itu.
“Wah, saya belum bisa membaca Al-Qur’an!” Belajarlah segera. Semakin ditunda semakin rugi Anda. “Wah, saya belum bisa konsisten untuk sholat lima waktu!” Ya ampun, hanya beberapa menit saja tidak mau dan mampu. Anda memang pemalas tingkat dewa dan orang yang tidak tahu diri. Hanya diminta “lapor” beberapa menit kepada yang memberi kehidupan saja tidak sempat.
“Wah, saya belum kaya belum bisa sedekah!” Sedekah tidak perlu menunggu kaya. Kecil tapi rutin dan terus meningkat sedekahnya seiring dengan meningkatnya penghasilan itu jauh lebih menyelamatkan. Ingat, ini bisnis yang dijamin tidak rugi, sangat bodoh bila kita tidak ikut di dalamnya.
Ketiga bisnis ini bisa dilakukan oleh siapapun, tidak perlu memiliki mental dan nyali bisnis. Saya yakin bila Anda beriman, cerdas, dan tidak sakit jiwa maka Anda tidak akan pernah meninggalkan ketiga bisnis ini. Setuju?
Salam SuksesMulia!
Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini
Langganan:
Postingan (Atom)