Senin, 30 Juni 2014

Annisa Muslimah Meninggalkan Kampung Halaman demi Iman

Annisa Muslimah Meninggalkan Kampung Halaman demi Iman

Minggu, 15 Juni 2014, 04:37 WIB

Dua Kalimat Syahadat (ilustrasi).

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fuji Pratiwi
Pembinaan mualaf dinilai masih sangat minim.

Lahir dari keluarga Tionghoa, Annisa Muslimah merasa semua yang dijalankannya sebagai penganut Buddha tak lebih dari doktrin dan tradisi.

Sebagai anak tunggal, ia merasa kehilangan bimbingan sejak sang ibu wafat, umurnya ketika itu tujuh tahun. Setelah ayahnya menikah lagi ketika ia SMA, Annisa juga menghadapi hubungan yang buruk dengan ibu tirinya.

Ketertarikan Annisa terhadap Islam berawal dari pembantu rumah tangga yang bekerja di rumahnya kala itu. Ia sering memperhatikan perempuan itu shalat.

Larangan keluarga besar agar mendekati pembantunya itu, ia campakkan. ''Saya diam-diam ke kamarnya. Ya bagaimana, tidak ada ibu, tidak ada yang membimbing,'' ungkap Annisa.

Mendiang ayah Annisa sebenarnya juga tertarik dengan Islam. Namun, keluarga besarnya melarang. Sang ayah kadang menyumbang masjid sebelah rumahnya saat Jumat dan memakai peci.

Sajadah pertama yang dimiliki Annisa setelah menjadi Muslimah, juga diberikan sang ayah. Sang ayah sudah merelakan Annisa memeluk Islam.

Sejak mereka masih bersama pun, ayahnya justru menyuruh Annisa  menikah dengan pria Muslim. Meski tradisi dalam keluarganya, etnis Tionghoa harus menikah dengan sesama etnis.

Pernah juga Annisa diajak ke gereja oleh kakak sepupunya, tapi ia tidak  mengerti apa yang disampaikan di sana. Diakuinya, membaca Alkitab tidak menumbuhkan perasaan apa pun di hatinya. Perayaan Natal juga malah ia manfaatkan sebagai ajang bermain.

Meski mayoritas teman-teman perempuan 30 tahun ini selama bersekolah di sebuah SMA Surabaya pada 1999-2002 beragama Kristen, ia sendiri lebih merasa nyaman dan dekat dengan teman-temannya yang Muslim.

 

Annisa sering memperhatikan mereka berpuasa. ''Pernah ada iklan shalawat di televisi saat itu, saya langsung hafal hanya sekali melihat,'' ungkap warga Jakarta Pusat ini.

Lulus kuliah pada 2005, antara masa jeda setelah ujian dan masuk kuliah, Annisa memanfaatkan layanan percakapan internet yang sedang ramai kala itu, yakni MIRC dan Yahoo Messenger untuk mengobrol dengan banyak orang.

Tak punya banyak teman bicara, ia memilih orang-orang di dunia maya untuk berbagi cerita. Secara acak, Annisa bertemu Fajar yang mengenalkan Islam padanya.

Percakapan online berlanjut menjadi diskusi via telepon. Sekitar dua bulan ia berdiskusi tentang Islam dengan teman yang tak pernah ditemuinya langsung dari bilik wartel. Sampai akhirnya, Annisa bersyahadat via telepon pada 2002.

Meski Annisa yakin ayahnya membolehkan, ia tidak segera mengabarkan keislamannya. Ia khawatir sang ayah akan menerima tekanan ibu tirinya yang tidak suka Annisa berstatus Muslimah. Belum lagi reaksi penolakan kakak sepupunya.

Ia masih ingat, ketika sedang berada di rumah sepupunya, ia sering diminta mematikan televisi saat sesi azan Maghrib berkumandang.

Ia bertanya sendiri, mengapa begitu? ''Susah sekali bahkan untuk sekadar mendengar azan. Saya curi-curi dengar azan di rumah jadinya,'' ungkap Annisa.

Semasa kuliah pun pada 2002-2005, ia lebih dekat dengan teman-teman Muslim. Ia sempat diajak shalat, tetapi urung dilakukan. Ia belum tahu bagaimana melakukan shalat yang benar.

Annisa mengungkapkan, pertama kali shalat, ia menggunakan jaket sebagai pengganti mukena atas dan seprai sebagai pengganti mukena bawah.

 

Ia shalat di atas tempat tidur sambil membaca buku bacaan shalat. Ramadhan ia gunakan untuk ikut berpuasa dan berbuka puasa bersama teman-temannya.

Diakuinya, pembinaan mualaf masih kurang sehingga selepas bersyahadat, mereka yang baru masuk Islam tidak tahu bagaimana harus belajar shalat, membaca Alquran, dan lain-lain. Selama di Surabaya, ia hanya belajar Islam dari buku-buku.

Setelah skripsi pada 2005, ia tak lagi tahan dengan tekanan sanak keluarga di Surabaya. Ia tak punya saudara maupun guru agama untuk bertanya dan belajar di sana. ''Susah, tidak bisa apa-apa jadinya,'' ungkap Annisa.

Tiga tahun menjadi Muslimah, pada tahun yang sama ia akhirnya memilih kabur dari Surabaya ke Jakarta. Ia menyelamatkan keislamannya akibat tekanan tiada henti dari sanak keluarga yang tak rela ia berislam.

Dengan bantuan temannya sesama etnis Tionghoa, ia membulatkan tekad kabur ke Jakarta meski harus berpisah dengan ayahnya. Saat awal pindah ke Jakarta dan kos di Depok, Annisa tidak tahu jika wanita Muslimah wajib berjilbab.

Ia sempat berpikir pasti menyenangkan bisa berjilbab. Ia lalu mencoba menggunakan kerudung dan menemukan kenyamanan serta rasa aman. Ia pun prihatin dan kasihan melihat mualaf banyak yang belum bisa mengaji dan tidak berkerudung. “Harus dibimbing memang,'' kata dia.

Di Jakarta, ia baru bisa belajar Islam secara intensif. Sekitar 2007, ia dikenalkan oleh temannya untuk belajar Islam dengan Herry H Hidayat yang menjadi suaminya sekarang. Ia pernah berhenti bekerja karena atasannya malah memintanya kembali meninggalkan Islam.

Sampai sekarang, Annisa masih terus belajar Islam. Sudah lancar membaca Alquran, suaminya meminta Annisa untuk mengajarkan Alquran juga kepada mualaf lainnya.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

Ali Farqu Thoha, Dai Senduro, Lumajang Jawa Timur Dakwah dalam Gigitan Puncak Senduro

Ali Farqu Thoha, Dai Senduro, Lumajang Jawa Timur Dakwah dalam Gigitan Puncak Senduro

Sabtu, 21 Juni 2014, 11:10 WIB


Mualaf Tengger

 

REPUBLIKA.CO.ID, LUMAJANG -- Seorang lelaki setengah baya berjenggot tipis duduk di tengah kerumunan orang. Dia  memakai jaket tebal dan berbulu berwarna putih. Tidak hanya itu, karena hawa dingin masih menggigit tubuh, dia menambah dua kaos tipis di bagian dalam. Peci putih kusut kain juga menghias di kepalanya. Sesekali, terlihat badanya menggigil menahan tusukan hawa dingin. 
 
Sejumlah orang di sekelilingnya juga memakai jaket. Hanya bedanya, mereka mengenakan sarung yang diselempangkan di badan. Khas orang gunung. Maklum, di dusun Puncak, Desa Argosari, Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Jatim, ketinggiannya sekitar 2.000 meter dari permukaan laut. Tak cukup hanya mengenakan satu helai baju untuk mengusir dingin.     
 
Lelaki tersebut adalah Ali Farqu Thoha. Da’i yang telah 20 tahun lebih berdakwah di kampung mualaf Senduro. Pria kelahiran Lumajang 28 Desember 1958 ini pandai berceramah. Isi ceramahnya ringan tapi mengena. Sesekali diselelingi humor cerdas yang mengundang gelak tawa jamaah. Tak jarang, jika tidak sedikit mualaf tertawa lebar.
 
Di sela-sela ceramahnya, sesekali Ali—sapaan akrabnya—bertanya seputar kondisi ibadah para mualaf: “Gimana shalat lima waktu kalian. Tidak pernah bolong-bolong, lagi kan ?”  “Insya Allah, jalan terus pak ustadz meski sering telat,” jawab Sukari, salah seorang jamaah. Ali pun bernafas lega. Berarti, usaha kerasnya selama ini membuahkan hasil meski belum begitu signifikan.
 
Kegiatan itu secara rutin dilakukan Ali. Terkadang sepekan sekali. Atau juga bisa lebih. Tergantung kebutuhan dan undangan mualaf. “Jika mualaf membutuhkan, mau tidak mau, saya harus datang,” ujar ayah dua anak ini. Selain untuk ceramah, terkadang Ali diundang untuk menangani masalah sepele; urusan keluarga, cocok tanam, cekcok sesama warga dan sebagainya. Bagi masyarakat, Ali dianggap seperti keluarga. Tak ada sekat lagi. Masalah apapun diadukan padanya. Masalah kecil atau besar sedikit-sedikit memanggil Ali.

Dusun Puncak merupakan dusun tertinggi di Desa Argosari ketimbang tiga dusun lainnya; Gedok, Pusung Duwur dan Bakalan. Wajar saja jika hawanya lebih menusuk. Selain itu, medannya juga menantang; terjal, licin dan menanjak.

Di tempat ini, jika menjelang siang kabut tebal turun. Tak pelak, sejauh mata memandang hanya kabut putih yang terlihat. Jarak pandang pun hanya sekitar 15 meter sehingga harus berhati-hati. Sebab, jika tidak, bisa jatuh ke pematang sawah yang cukup curam. Sementara, untuk menempuh tiga dusun lainnya, butuh waktu sekitar satu sampai dua jam. 
 
Menurut sumber, warga desa Argosari dulunya mayoritas Muslim. Fakta itu dengan adanya peninggalan sejumlah mushola. Namun, lantaran ditinggal da’i, Islam kemudian perlahan redup hingga lambat laun mati. Sebagai gantinya, mereka memeluk Hindu. Keadaan itu membuat Ali prihatin. Jiwa dakwahnya bangkit. Hatinya tergerak untuk menyadarkan masyarakat kembali pada jalan yang benar, Islam. Ali pun mengepakkan sayap dakwahnya. Dia melakukan pendekatan pada masyarakat sambil mengenalkan Islam kembali. Alhamdulillah, berkat hidayah dari Allah, kini sekitar 80 persen masyarakat telah kembali memeluk Islam.
 
Namun, hasil itu tidak serta merta didapat. Ali membutuhkan waktu sekitar 22 tahun silam. Tanpa kendaraan dan hanya berjalan kaki. Padahal, jaraknya sangat jauh, kelok-kelok, dan mendaki. Kadang melalui jalan terjal yang ditutupi awan tebal. Karena itu terkadang harus pelan. Risikonya perjalanan memakan tempo lama, bisa tiga sampai empat jam.  Objek dakwah Ali adalah mayoritas Hindu. Dia pun harus menggunakan cara yang jitu. Dia memiliki tiga cara yang dia sebut 3 K: Kelihatan, kenal dan kena. Untuk memperakrab, Ali selalu menyapa orang yang dijumpai.
 
Lambat laun, usaha Ali menuai hasil. Keramahannya itu mengundang simpati masyarakat. Mereka mulai penasaran pada agama yang dibawa Ali dan mulai banyak bertanya soal Islam. Meski begitu, Ali sangat berhati-hati dalam menjawab. Aplagi untuk soal yang sensitif, seperti neraka, surga, halal dan haram.
 
“Jangan sampai mereka takut duluan dan lari. Padahal, Islam belum dikenalkan secara baik,” ujarnya.
 
Cara itu cukup jitu. Satu persatu tertarik dan memeluk Islam. Alasanya macam-macam. Tapi, yang paling menarik adalah soal kebersihan dan kesehatan. Seperti kebersihan kala masuk masjid.

“Kalau di Hindu masuk Pura pake sandal. Tapi, di Islam masuk masjid harus dilepas,” tutur Karyo Slamet, mualaf Senduro yang dulunya beragama Hindu.
 
Karyo juga tertarik konsep kebersihan Islam dalam hal sunat ata khitan. Dalam Islam, laki-laki harus dikhitan. Dia menggambarkan seperti pisang: “Biar rasanya lebih enak, kan harus dikoncei kulite,” ujarnya sambil tersenyum malu.
 
Islam juga dirasakan membuat hati lebih damai dan bahagia. Hal serupa dialami Sukari. Mantan tokoh Hindu ini sebelum masuk Islam, selalu merasa tidak tenang. Tapi, usai masuk Islam, hidupnya bisa lebih tenang dan bahagia. “Entah kenapa. Setelah masuk Islam, hidup ini lebih bahagia,” ucapnya. Nampaknya, hal senanda juga banyak dialami orang Hindu lainnya. Karena itu, dari waktu ke waktu, satu persatu dari mereka banyak yang memeluk Islam. Hingga angka mualaf menjadi kian naik drastis.
 
Diancam Dibunuh
 
Hal tersebut nampaknya menjadi ancaman sejumlah pihak. Mungkin saja, mereka takut jika Islam berkembang pesat di sana . Karena itu, Ali pun mulai mendapat teror. Suatu saat, Ali mendapat pesan singkat (sms) bernada ancaman dari orang tak dikenal. Sms tersebut berbunyi: “Hentikan dakwah Islam di Senduro jika tidak ingin istrimu menjadi janda dan anakmu menjadi yatim.”
 
Tidak cuma sekali, menurut Ali sms seperti itu hampir setiap hari masuk di layar ponselnya. Takut? Ternyata, Ali tidak gentar sedikit pun. Dengan tegas dia katakan: “Barang siapa yang menolong agama Allah. Maka dia akan ditolong Allah.” Benar saja, ternyata sms tersebut tidak terjadi. Dia dan keluarganya masih sehat dan utuh.
 
Tidak itu saja. Pernah, ketika selepas pulang dakwah dari dusun Bakalan bersama Sutomo dihadang 70 orang tak dikenal. Tampang mereka sangar. Mirip preman bayaran. “Ali, hentikan dakwahmu! Jika tidak, lihat saja apa yang akan terjadi nanti,” teriak salah seorang dari mereka.
 
Ketika itu, jam menunjukkan pukul 22.00 malam. Gelap gulita. Tak ada seorang pun selain mereka. Jadi, seandainya terjadi sesuatu pasti tidak akan ada yang menolong. Ali hanya terdiam dan berdoa. Tapi, hal itu tak membuat mereka berhenti berteriak. Justru makin berani. Tiba-tiba, tak dinyana, Sutomo bertakbir:“Allahu Akbar.” Aneh, entah kenapa tiba-tiba 70 pria sangar itu lari tunggang langgang setelah mendengar takbir pria yang buta penglihatannya itu.

Berdakwah di Senduro bukan itu saja rintangannya. Alam juga menjadi ujian yang tak kalah beratnya. Pasalnya, medan yang sulit jika tidak hati-hati bisa berbahaya. Suatu malam, sekitar pukul 22.00 Ali pulang dari dusun Gedok ke rumahnya di Lumajang. Dia mengendarai sepeda motor. Karena sepedanya sudah lama, bunyinya seperti kumbang: Ngoongg...ngguungg ngggung. Keras sekali. Apalagi, jika harus melewati tanjakan. Motornya pun sampe terkentut-kentut.
 
Tiba-tiba, dari arah belawanan, ada truk lewat dengan kecepatan penuh. Kebetulan, jalannya sempit dan menanjak. Takut keserempet, motornya diarahkan ke pinggir jalan. Na’as, karena tak seimbang, Ali terjatuh. Dia pun masuk ke jurang. Untung saja tak dalam. Meski taka pa-apa, tapi sekujur tubuhnya seperti remuk.
 
“Sekujur tubuh sakit semua,” tuturnya.
 
Berdakwah di daerah tersebut bukan hal mudah. Selain karena sejumlah rintangan, yang menjadi kendala adalah dana dan jumlah da’i. Parahnya lagi, sangat jarang ada da’i yang rela berdakwah di tempat itu.
 
Ali pun sangat terbantu setelah berkerjasama dengan Warsito, DPD Hidayatullah Lumajang. Berkat kerjasama itu, dakwah di Senduro makin tertata. Jika Ali fokus berdakwah di Senduro, Warsito mencari dana ke sejumlah instansi, terutama Baitul Mal Hidayatullah (BMH), baik di Surabaya maupun Malang . Kini, telah ada seju mlah sarana ibadah; 4 masjid dan 10 mushola. 
 
Tak hanya itu, Warsito sendiri sering berdakwah ke Senduro. Dengan motor Suzuki GX tahun 1995 dia naik turun bukit bersama Ali untuk menyemai Islam di sana.

Nikah Masal Hingga Konversi Ternak

Dalam upaya meretas masalah yang ada, sejumlah program telah digulirkan. Mulai dari nikah masal bagi 68 pasangan muallaf suku Tengger. Mereka yang baru masuk islam di nikahkan di Masjid Nurul Huda, Dusun Tempuran, Kec.Senduro, Lumajang. Maka sebanyak 35 penghulupun didatangkan untuk memimpin prosesi ijab Kabul. Program berlanjut dengan khitanan masal untuk para muallaf, persertanya pun beragam usia, dari remaja hingga usia lansia .

Untuk meretas masalah ekonomi, BMH bekerjasama dengan dai-dai setempat melakukan pemberdayaan dibidang pertanian dengan penanaman bibit bawang serta menggulirkan program

Konversi ternak yang diberikan kepada mullaf suku Tengger Senduro Lumajang. Program ini bertujuan untuk mendorong masyarakat mengganti kebiasaan berternak babinya dengan berternak kambing.

Dai serta tokoh Senduro akan hadir dalam acara Inspirasi Dai Tangguh pada 22 Juni 2014 di SMESCO. Semoga kisahnya meninspirasi kita serta berperan untuk turt mendoakan para pembinasuku tengger disekitar lereng gunung Bromo Jawa Timur untuk tetap istiqomah. Semoga ikhtiar menguatkan hidayah yang terus berkesinambungan ini menjadi jalan meraih kemuliaan.

 

Redaktur : Maman Sudiaman

 

 

Selamat Shiyam Ma'af Lahir Bathin

      Perhatikan sabda sang Nabi,

      "Sesama muslim adalah keluarga"

      "Seperti tubuh, ketika kaki tertusuk duri,

      yang teriak adalah mulutnya,

      seluruh anggota tubuh yang lainnya juga ikut merasakan sakitnya"

      Maka angan-anganku melantur,

      rasanya seolah keluarga mafia lebih baik

      Sedikit saja kulit tersentuh,

      Sedikit saja kulit terluka,

      Sedikit saja teriakan ditelinga,

      Tak dapat diterima di dalam keluarga mafia.

      Nyawa taruhannya bagi si pengganggu.

      he..he..he....

    aku tersenyum senyum sendiri

    "Dulu saja ketika butuh,

      ketika sang kekasih terantuk batu,

      bersegera berlari untuk menolong,

      kalau perlu menjadi bantalan tempat jatuh sang kekasih".

      Setelah menjadi keluarga sendiri

      Ketika sang kekasih terantuk batu,

      yang keluar adalah kata makian,

      "Kamu letakkan dimana … matamu !!!"

      apa mau dikata,

      bagaimana bisa batu menempatkan dirinya diatas emas ?

      bagaimana matahari menempatkan dirinya dibawah bumi ?

       

      batu tetap batu, bagaimanapun tetap lebih mulia emas dari batu"

          bumi tetap bumi dan matahari tetap matahari,

    yang tetap memancarkan sinarnya untuk bumi

      Maka ketika kupandang diriku sendiri,

      aku tak lebih keras dari batu,

      aku tak lebih sinar dari bumi,

      aku tak lebih dari orang awam,

      yang senantiasa kurang sopan,

      berdiri di 'atas' kepala mereka yang lebih paham.

      Selamat Menunaikan Shiyam

      Memohon ma’af lahir dan bathin

Aa Gym: Banyak Orang Berilmu Malah Merusak Bangsa

Aa Gym: Banyak Orang Berilmu Malah Merusak Bangsa

Saturday, 28 June 2014, 15:52 WIB

H Abdullah Gymnastiar memberikan tauziah kepada jamaah yang hadir di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (13/3).

 

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- KH Abdullah Gymnastiar mengatakan, saat ini banyak orang yang berilmu, namun tidak dilandasi dengan nilai-nilai keimanan atau tauhid. Akibatnya, banyak orang yang berilmu tinggi, tetapi justru menjadi perusak sendi-sendi bangsa.

Ustaz yang biasa dipanggil Aa Gym tersebut menyatakan, ilmu pengetahuan hendaknya dilandasi dengan nilai-nilai keimanan atau tauhid. Pasalnya, tanpa tauhid, ilmu pengetahuan yang tinggi ibarat bangunan yang megah dengan pondasi rapuh.

"Sehingga justru membahayakan pemiliknya," katanya dalam pengajian Ramadhan 1435 H seusai shalat Subuh di Masjid Ulil Albab, Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Sabtu (28/6).

Menurut dia, ilmu pengetahuan merupakan pondasi bagi pembangunan peradaban sebuah bangsa. Islam pun mengajarkan kepada pemeluknya untuk senantiasa mencintai ilmu pengetahuan. Bahkan di dalam Alquran, Allah menyebut keutamaan orang berilmu yang akan ditinggikan derajatnya di antara manusia.

“Saat ini tidak cukup jika hanya memberi bekal pengetahuan yang mumpuni kepada generasi muda kita. Mereka juga tetap membutuhkan sentuhan nilai-nilai tauhid agar menjadi cendekiawan yang bermoral dan berakhlak mulia,” kata Aa Gym. 

Menanggapi paparan Aa Gym, Rektor UII Harsoyo menyatakan, kampusnya memang selalu menekankan pendidikan karakter kepada mahasiswanya. Hal tersebut sejalan dengan cita-cita pendiri UII yang ingin melahirkan cendekiawan Muslim dan pemimpin bangsa yang tidak hanya cerdas namun juga berakhlak mulia.

“Kiat-kiat dalam menyeleraskan antara ilmu dan iman adalah lewat berbagai kegiatan Islami yang menjadi bagian dari sistem pendidikan di UII, seperti Orientasi Nilai Dasar Islam (ONDI), pesantrenisasi, dan Latihan Kepemimpinan Islam Dasar (LKID),” tandas Harsoyo.
 

Reporter : Heri Purwata

Redaktur : Erik Purnama Putra

 

 

Menyambut Ramadhan

Menyambut Ramadhan

Sabtu, 28 Juni 2014, 14:28 WIB

Ramadhan (ilustrasi)

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh:  A Ilyas Ismail
Rasulullah SAW dan para sahabat menyambut bulan Ramadhan dengan penuh sukacita. Dalam pidato menyambut datangnya bulan Ramadhan,

Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan agung (syahrun 'azhim), bulan kebajikan (syahrun mubarak), dan bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan.” (HR Ibn Khuzaimah dari Salman).

Ramadhan tak pelak lagi merupakan anugerah dan rahmat dari Allah SWT (fadhlun min Allah wa rahmatuh). Sebagai anugerah dan rahmat, kita mensyukurinya. Bersyukur menyambut datangnya bulan Ramadhan dilakukan dengan empat hal.

Pertama, senang dan gembira karena datangnya rahmat Allah. Bagi orang Muslim, kegembiraan itu tak melulu karena adanya nikmat fisik atau kesenangan duniawi, tetapi lebih dari itu, justru karena adanya kenikmatan rohani (spiritual).

Firman Allah, Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS Yunus [10]: 58).

Kedua, mempertinggi ibadah dan amal shaleh. Seperti diterangkan dalam hadis di atas, kita diperintahkan puasa pada siang hari sebagai kewajiban dan shalat malam, yaitu shalat Tarawih, pada malam hari, sebagai anjuran (sunah).

Selain itu, kita disuruh banyak membaca Alquran, berzikir, dan istighfar, memohon petunjuk dan ampunan dari Allah SWT. Ketiga, berbagi dengan sedia membantu fakir miskin dan orang tak mampu.

Rasulullah SAW adalah manusia paling dermawan (ajwad al-nas), terlebih lagi pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini, beliau berlari kencang dalam kebajikan, lebih kencang dari angin barat. (HR. Bukhari dari Ibn Abbas).

Memberi makan dan minum (buka) kepada orang yang puasa merupakan salah satu bentuk dari berbagi. Nabi SAW menyebut pahala memberi buka kepada orang puasa, sama dengan pahala puasa itu sendiri, tak berkurang sedikit pun. (HR. Ahmad dari Khalid al-Juhani).

Bahkan, orang yang menyediakan segelas air putih (apalagi segelas susu) bagi orang puasa, Allah SWT memberinya minum dari telaga surga yang siapa meminumnya, ia tak pernah haus selama-lamanya. (HR. Baihaqi dari Salman).

Keempat, berdoa, memohon petunjuk dan ampunan dari Allah SWT. Di bulan suci ini, kita diperintahkan banyak berdoa, karena Allah berkenan mendengar dan menerimanya.

Perhatikan ayat ini: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186).

Inilah hal yang perlu dilakukan sebagai syukur kepada Allah di bulan baik ini. Syukur, seperti dijanjikan, membawa dan mendatangkan kebaikan (nikmat) lebih besar bila kita melakukannya dengan benar. (QS Ibrahim [14]: 7)

Syukur yang benar meminta kita tak hanya pandai menerima nikmat Allah, tetapi mampu memperbaharui dan mengembangkannya. Ramadhan adalah sarana yang tepat untuk mendidik dan melatih kita menjadi hamba-hamba yang penuh syukur kepada-Nya. Wallahu a'lam.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

Amalan-Amalan agar dibangunkan rumah di surga

Amalan-Amalan agar dibangunkan rumah di surga

 

 

 

Saudara ku, dalam agama kita ada beberapa amalan ringan yang balasannya adalah dibangunkan rumah di surga kelak. Apa saja amalan tersebut? Langsung saja kita bahas satu per satu

1.Ke masjid waktu subuh dan malam hari untuk shalat jamaah dan kegiatan ibadah lainnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ غَدَا إِلَى المَسْجِد أَوْ رَاحَ ، أَعَدَّ اللهُ لَهُ في الجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ)). متفق عليه

"Siapa yang ke masjid waktu subuh atau malam hari, maka Allah menyiapkan baginya tempat tinggal di surga setiap kali ia berangkat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Al-Haafizh ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 2:183, menyatakan: (نُزُلاً) dengan di-dhommah-kan huruf nun dan zainya berarti tempat yang disiapkan untuk istirahat  dan dengan disukunkan huruf zai-nya berarti semua yang disiapkan untuk yang baru datang berupa penyambutan tamu dan sejenisnya.

Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin, 3:202 menyatakan:

((وظاهر الحديث أن من غدا إلى المسجد أو راح، سواءً غدا للصلاة أو لطلب علم أو لغير ذلك من مقاصد الخير أن الله يكتب له في الجنة نزلاً((

Makna textual dari hadis ini menunjukkan bahwa orang yang pergi ke masjid pagi-pagi atau sore hari, baik berangkat pagi-pagi untuk shalat atau menuntut ilmu atau selainnya dari kebaikan, maka Allah akan menetapkan untuknya tempat tinggal di surga.

2. Menyambung barisan dalam shalat dengan menutup sela-sela antara dia dengan sebelahnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

 مَنْ سَدَّ فُرْجَةًّ بَنَي اللهُ لَهُ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً . الصحيحة : 1892

"Siapa yang menutup sela-sela barisan dalam shalat, maka Allah bangunkan rumah di surga dan angkat derajatnya." (HR al-Muhaamili dalam amaalinya dan dishahihkan al-Albani dalm Silsilah ash-Shahihah no. 1892).

Gimana tidak mau? Hanya cukup 3 detik saja.

 

3.Shalat sunah rawatib sebanyak 12 rakaat setiap hari, yakni, empat rakaat sebelum shalat zuhur dan dua rakaat setelahnya, 2 rakaat setelah shalat maghrib, 2 rakaat setelah shalat isya dan dua rakaat sebelum shalat subuh. Rasul  bersabda :

((مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً من السُنة بَنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ)). [صحيح الجامع : 6183]

"Siapa yang selalu shalat 12 rakaat setiap hari dan malam, maka dibangunkan baginya rumah di surga. yakni empat rakaat sebelum shalat zuhur dan dua rakaat setelahnya, 2 rakaat setelah shalat maghrib, 2 rakaat setelah shalat isya dan dua rakaat sebelum shalat subuh." (HR an-nasaa'i dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jaami' no. 6183)

Juga Imam Muslim meriwayatkan dari an-Nu'maan bin Salim dari Amru bin Aus beliau berkata: Telah menceritakan kepadaku Ambasah bin Abi Sufyaan dalam masa sakit yang membawanya pada kematian satu hadis yang dibanggakannya. Ambasah  berkata: Aku mendengar Ummu Habibah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ)) )مسلم(

Siapa yang shalat 12 rakaat setiap hari dan malam, maka dibangunkan baginya rumah di surga

قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
وَقَالَ عَنْبَسَةُ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ أُمِّ حَبِيبَةَ.
وَقَالَ عَمْرُو بْنُ أَوْسٍ مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَنْبَسَةَ.
وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ سَالِمٍ مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ

Ummu Habibah berkata: "Tidaklah aku meninggalkannya sejak aku mendengarkannya dari Rasulullah."

Ambasah berkata: "Tidaklah aku meninggalkannya sejak aku mendengarkannya dari Ummu habibah."

Amru bin Aus berkata: "Tidaklah aku meninggalkannya sejak aku mendengarkannya dari Ambasah."

An-Nu'maan bin Saalim  berkata: "Tidaklah aku meninggalkannya sejak aku mendengarkannya dari Amru bin Aus."

Bagaimana mungkin seorang tidak menginginkan pahala ketaatan ini. Ketaatan yang hanya menghabiskan kurang lebih 30 menit.

4.Shalat dhuha empat rakaat dan empat rakaat sebelum zuhur. Seperti yang diriwayatkan Al-bani dan kumpulan hadist-hadis shahih, Rasul  Bersabda :

((مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعاً وَقَبْلَ الأُوْلَى أَرْبَعاً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ)) [الصحيحة : 2349]

"Siapa yang shalat dhuha empat rakaat dan empat rakaat sebelum shalat pertama (shalat zuhur), maka dibangunkan baginya rumah di surga." (HR ath-Thabrani dalam al-Ausath dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Ahaadits Shahihah no. 2349).

Syaikh al-Albani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan shalat pertama adalah shalat zuhur.

Bagaimana mungkin seorang meninggalkannya padahal hanya butuh 20 menit saja.

5.Memperbanyak membaca surat Al-Ikhlas, minimal 10 kali setiap hari. Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. bersabda:

مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِذَنْ أَسْتَكْثِرَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَكْثَرُ وَأَطْيَبُ [الصحيحة : 2/137]

"Siapa yang membaca  qulhuwa allahu ahad sampai selesai sebanyak sepuluh kali, maka Allah akan membangunkan baginya istana di surga." Umar bertanya: "Kalau begitu  kita memperbanyak istana wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Allah lebih banyak dan lebih baik." (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 589 juz 2:137).

Bagaimana seorang meninggalkan pahala besar ini, padahal hanya butuh 3 menit saja!

 

 

6. Bicara yang baik, memberikan makan pada fakir miskin, rajin berpuasa dan shalat malam (tahajjud). Rasul Saw. bersabda :

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

"Sesungguhnya di surga itu ada kamar-kamar yang dapat dilihat luarnya dari dalamnya, dan dalamnya dari luarnya." Maka seorang Badwi berkata: "Untuk siapa itu wahai Rasulullah?" Beliau berkata: "Untuk orang yang baik perkataannya, memberikan makan pada orang lain, terus menerus berpuasa (puasa Daud) dan shalat di malam hari sedangkan manusia sedang tidur nyenyak." (HR. At-Tirmizi  dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1984)

 

 

 

7.Mengunjungi orang sakit atau saudara seiman, berdasarkan sabda Rasulullah:

((مَنْ عَادَ مَرِيضاً أَوْ زَارَ أخاً لَهُ في الله ، نَادَاهُ مُنَادٍ : بِأنْ طِبْتَ ، وَطَابَ مَمْشَاكَ ، وَتَبَوَّأتَ مِنَ الجَنَّةِ مَنْزِلاً)). [صحيح الترمذي : 1633]

"Siapa yang mengunjungi orang sakit atau saudaranya seiman (seagama Islam), maka ia diseru oleh orang (malaikat): 'Engkau adalah orang baik dan baik pula perjalananmu dan Allah telah menyiapkan bagimu rumah di surga'." (HR. At-Tirmizi dan dishahihkan al-Albani dalan Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1633)

 

 

8. Mengucapkan doa masuk pasar. Seperti dijelaskan dalam sabda beliau:

مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَبُنِيَ لَهُ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ

Siapa yang masuk pasar berdoa dengan doa:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Maka Allah akan tetapkan sejuta kebaikan dan menghapus darinya sejuta dosa dan mengangkat sejuta derajat serta dibangunkan baginya rumah di surga." (HR at-Tirmidzi dan ibnu Majah dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jaami' no. 11176)

Inipun tidak membutuhkan lebih dari 15 detik.

Alhamdulillah begitu banyak amalan ringan yg diberikan balasan luar biasa dalam islam, termasuk amalan yang kita bahas di atas.

Semoga Allah memberikan Taufiq nya kepada kita agar senantiasa melaksanakan amal soleh. Amin…..

 

 

Disclaimer:
The contents of this email, together with its attachments, may contain confidential information belong to Virginia Indonesia Co., LLC ("VICO") and Virginia Indonesia Co., CBM Limited  ("VICO CBM"). If you are not the intended recipient, please notify the sender immediately and delete this e-mail from your system, and you should not disseminate, distribute, copy or otherwise use this email or any part thereof.

Rabu, 02 Oktober 2013

Kakek Penanda Waktu

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Kakek Penanda Waktu

Selasa, 01 Oktober 2013, 23:00 WIB

Shalat berjamaah (ilustrasi).

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Prof Yunahar Ilyas
Walaupun umurnya sudah mendekati tujuh puluh tahun, tetapi badannya masih tegap.  Kalau berjalan masih cepat seperti kebiasaannya sejak muda.

Setiap pagi setelah shalat Subuh sang kakek rutin jalan pagi menempuh jarak 6-8 km pulang pergi. Menurut pengakuannya, waktu muda sang kakek suka main sepak bola. Bergabung dengan klub sepak bola di kampungnya.
   
Setelah menamatkan pendidikan setingkat sekolah lanjutan pertama, dia mulai  berdagang, walaupun bapaknya sebenarnya menginginkan dia meneruskan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi, minimal setingkat sekolah lanjutan atas.

Sebagai seorang pedagang yang sukses, bapaknya sanggup membiayai pendidikannnya sampai ke perguruan tinggi. Tetapi rupanya darah dagang bapaknya lebih menonjol mempengaruhi dirinya.

Mula-mula dia berdagang di kota tempat kelahirannya, lalu kemudian merantau. Berpindah dari satu kota ke kota lainnya di pulau Sumatera, kemudian ke Singapura dan Malaysia. Pada akhir masa-masanya berdagang,  sempat juga dia merasakan bagaimana kerasnya kehidupan di kota Jakarta.

Sudah lebih sepuluh tahun sang kakek pensiun dari berdagang dan menetap di kampung halamannya. Hari-hari tuanya benar-benar dia nikmati untuk beribadah.

Hidupnya hanya bergerak dari rumah ke masjid. Setelah selesai shalat malam, dia bersiap pergi ke masjid untuk shalat Subuh. Selesai shalat Subuh, kalau tidak ada pengajian, dia bergegas pulang berganti pakaian olah raga, terus jalan pagi.

Sebelum waktu Zhuhur dia sudah berjalan menuju masjid. Begitu juga sebelum Ashar dan Maghrib. Setelah Maghrib dia tidak pulang, membaca Al-Qur'an dan berzikir di masjid menunggu Isya'.

Kadang-kala antara Maghrib dan 'Isya ada pengajian, maka sang kakek akan mengikutinya dengan tekun. Para muballigh yang rutin mengisi pengajian di masjid itu sudah hafal dengan wajah sang kakek.

Kalau shalat dia selalu di shaf pertama, mengambil posisi tidak tepat di belakang imam, tetapi agak kekiri sedikit. Jamaah lain pun sudah hafal posisi sang kakek, sehingga tidak ada yang mengambil posisi itu.

Kalau pun ada yang akan mengambil posisi itu, biasanya kalah cepat dari sang kakek, karena dia sudah berada di sana sebelum waktu shalat masuk.

Seisi rumah, apalagi cucu-cucunya sudah hafal. Jika sang kakek sudah sibuk ke kamar mandi pertanda tidak lama lagi waktu shalat akan masuk.

Sebelum meninggalkan rumah, tidak lupa sang kakek mengingatkan seisi rumah untuk segera bersiap-siap melaksanakan shalat.

Terutama sebelum Ashar dan Maghrib, tatkala cucu-cucunya masih asyik menonton televisi, akan terdengar suara kakek: "Ayoo semua, shalat…shalat…matikan tivi…"

Tidak jarang cucunya menjawab: "belum azan kakek…waktunya masih lama..." Jika cucu-cucunya masih membandel, tidak  jarang kakek bertindak mematikan televisi. Baginya shalat di awal waktu lebih penting dari semua acara televisi itu.

Jarak dari rumah sang kakek ke masjid sekitar setengah kilometer. Melewati jalan yang kiri kanannya penuh warung dan toko. Penjaga warung dan toko sudah sangat hafal, jika sang kakek lewat di depan warung dan toko mereka menuju arah masjid, berarti waktu shalat sudah hampir masuk.

Sang kakek dijadikan sebagai penanda waktu-waktu shalat akan masuk. Setelah sang kakek meninggal dunia, tidak ada lagi orang lewat di depan warung dan toko yang bisa dijadikan penanda waktu.

Redaktur : Damanhuri Zuhri