Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/
Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI
From: Danang Setiawan
Sent: Wednesday, January 09, 2013 9:33 AM
To: BDI
Subject: RE: Siapakah Tuhanmu?
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" [QS. Al- Fushshilat]
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Alastu bi robbikum ? (Bukankah Aku ini Tuhanmu ?"). Mereka menjawab:"Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Balaa, Syahidnaa) (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Al-A'raaf:172)
Agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?" (Al-A'raaf:173)
"Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitaan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".
(Q.S. At Taubah : 105)
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzaariyat : 56)
From: Suparman
Sent: Tuesday, January 08, 2013 6:38 AM
To: BDI
Subject: Siapakah Tuhanmu?
Siapakah Tuhanmu?
Senin, 07 Januari 2013, 19:08 WIB
Ilustrasi
Oleh: Ustaz Yusuf Mansur
"Siapakah Tuhanmu?" Jika ditanyakan kepada semua orang, termasuk diri kita sendiri, jawabannya suka meyakinkan, Allah adalah Tuhanku, tak ada yang lain. Terkadang agar lebih meyakinkan, pakai tanda seru, biar jelas dan tegas.
Padahal, dalam realitasnya kita tak sepenuhnya demikian. Kita sering salah menempatkan posisi Tuhan. Karena itu, semuanya perlu pembuktian.
Sekarang, cobalah hal yang sederhana. Silakan ibu-ibu pergi ke pasar seperti biasa belanja harian tanpa membawa uang. Untuk bapak-bapak, silakan pergi ke rumah makan dan makanlah disana, tanpa membawa uang. Gimana, bisa?
Biasanya suka pada tertawa. "Emangnya ke pasar, muter doang? Lah, nggak bawa uang, mau belanja pakai apa?" Yang bapak-bapak juga menjawab sambil tertawa kecil, sebab dianggapnya pertanyaan ini ada-ada saja. "Ngutang mah bisa kali. Yang namanya makan, ya bayar. Apalagi di rumah makan tertentu, bayarnya duluan."
Ini dia. Ini baru contoh kecil. Tuhannya udah bukan Allah, tapi duit. La ilaha illa fulus (uang). Nggak ada uang, maka kita nggak bisa berbuat apa-apa. Nggak bisa beli ini dan itu.
Sekarang, bertanyalah pada diri sendiri. Semua yang ada di langit dan di bumi ini, milik siapa? Milik Allah, kan? Termasuk pasar dengan segala isinya, juga milik Allah.
Nah, sekarang berangkatlah ke pasar. Minta terlebih dahulu kepada Allah. Masak iya yang berangkat ke pasar bawa uang, lalu ditemani Yang Punya Uang dan Punya Pasar, kemudian pulang ke rumah nggak bawa barang-barang belanja?
Cobalah cara yang kecil ini. Untuk sementara, nggak usah yang besar dulu, seperti pergi haji umrah, nggak pakai uang. Bangun rumah, nggak pakai uang. Memulai usaha, mengembangkan usaha, juga nggak pakai uang. Menyekolahkan dan nguliahin anak, nggak pakai uang. Beli motor atau mobil, nggak pakai uang.
Cobalah yang kecil dulu. Benar-benar pergi ke warung makan. Minta sama Allah dengan meyakinkan, bahwa kalau minta, ya mesti dikasih. Jangan minta sama yang menjaga dan menunggu warung. Minta sama Yang Punya Warung. Insya Allah dikasih. Malah bisa dikasih lebih. Plus bungkus, he he.
Insya Allah, cara-cara-Nya akan ditunjukkan oleh Allah untuk mereka yang percaya dan yakin. Tapi bagaimana mau yakin? Belum apa-apa sudah meminggirkan Allah. Dan tuhannya semakin banyak saja. Selain uang, dia ada berbentuk pikiran, atau kadang ikhtiar.
Ya, ikhtiar suka jadi tuhan juga. Belum lagi kehadiran kenalan, sahabat, keluarga, yang juga kerap menjadi Tuhan.
Oke. Mumpung masih di awal tahun, kembalilah bertuhan Allah. Sebenar-benarnya bertuhan Allah. Apa saja, andalkan Allah, berharap sama Allah. Bahwa kita bermuamalah, berdagang, bekerja, berusaha, berikhtiar, semua hanyalah adab kita, akhlak kita, dan ibadah kita, kepada Allah. Wallahu a'lam.
Redaktur: Chairul Akhmad

Tidak ada komentar:
Posting Komentar