Kamis, 23 Mei 2013

FW: Pengumuman Panitia Seleksi Calon Jemaah Haji BDI VICO Indonesia 2013 (1434H)

 

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Pengurus BDI Jakarta
Sent: Thursday, May 23, 2013 2:51 PM
To: BDI
Cc: Budi Srisantoso; Ade Diar Suhendar; Akhmad Jaeni; Myrna Zachraina; Gunna Satria Hijrah Kusumah; Alfin Priambudi; M. Nurwahyudi; Bambang Prasetyo; Abdul Qodir; Deni Badruzaman; Sawedy Salehe; Sophian Bey; Wilson Sormin
Subject: Pengumuman Panitia Seleksi Calon Jemaah Haji BDI VICO Indonesia 2013 (1434H)

 

Rabu, 22 Mei 2013

FW: Beginilah Cara Benar Memandang Harta

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

 

From: Suparman
Sent: Thursday, May 23, 2013 6:59 AM
To: BDI
Subject: Beginilah Cara Benar Memandang Harta

 

Beginilah Cara Benar Memandang Harta

Wednesday, 22 May 2013, 11:42 WIB

koin emas

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh KH Muhammad Dawam Saleh
Harta merupakan salah satu benda dunia yang dihamparkan Allah untuk manusia (QS Ali Imron: 14). Ada tiga golongan manusia dalam memandang harta. Golongan pertama beranggapan bahwa harta adalah tujuan hidup mereka. Mereka mencintai, menggandrungi, mengejar, lalu bergantung pada harta seperti seorang bayi yang bergantung kepada ASI.

Mereka adalah orang-orang materialis yang tidak memiliki suatu idealisme. Islam hal itu sebagai perbuatan sia-sia dan batal. “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan“ (QS Hud: 15-16).

Kaum materialis yang hanya mengejar kepentingan dunia ini disebut sebagai orang-orang kafir yang seperti binatang. “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahanam adalah tempat tinggal mereka“ (QS Muhammad: 12).

Golongan kedua adalah kebalikan dari golongan pertama, yaitu mereka yang hidup zuhud, mengelak dari kemewahan harta benda dunia. Mereka tidak kawin, tidak berpakaian. Mereka adalah para pendeta Buddha, Hindu, Yahudi, Nasrani dan orang-orang sufi Muslim. Jumlah mereka amat sedikit.

Terhadap golongan kedua ini, Alquran mengatakan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas“ (QS Al-Maidah: 87).

Cara-cara kependetaan tidak dibenarkan dalam Islam. “Dan  mereka mengada-adakan rahbaniyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya“ (QS Al-Hadid: 27).

Golongan ketiga inilah yang dibenarkan Islam. Mereka bekerja mencari rezeki, memakmurkan dunia tetapi mereka tidak tenggelam atau larut dalam gebyar dunia. Mereka berpendapat bahwa harta benda dunia adalah modal ibadah kepada Allah.

Mereka mengikuti perintah Allah, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.“ (QS Al-Qashas: 77).

Alquran pun mengajarkan keseimbangan dunia dan akhirat seperti. “Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". Mereka Itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.“ (QS Al-Baqarah: 202).

Pengasuh PP. Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

FW: Zikir di Jalan Macet

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

 

From: Gunawan Abdi Darma
Sent: Wednesday, May 22, 2013 8:43 AM
To: BDI
Subject: Zikir di Jalan Macet

 

Artikel Opini Republika:

Zikir di Jalan Macet

Oleh: Setiyo Purwanto, S.Psi., M.Si.

republika 16 mei 2013

Problematika kemacetan yang pelik di Ibu Kota dan kota-kota besar di Tanah Air rupanya berdampak dan menyentuh hingga ranah spiritual. Tidak sekadar menyulut emosi negatif dalam bentuk stres, amarah, egoisme, atau amuk, kemacetan lalu lintas berpotensi mengarah pada degradasi spiritualitas bagi kalangan muslim. Setidaknya, inilah isu yang diturunkan dalam pemberitaan oleh Harian Republika, edisi Kamis, 2 April 2013. Mental dan spiritual masyarakat muslim terancam terkikis oleh kemacetan akut yang menghiasi hampir seluruh hari-hari warga Ibu Kota.

Tiga tokoh sumber berita dalam pemberitaan itu, Asrorun Niam, Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, KH. Satori Ismail, Ketua Ikatan Dai Indonesia/IKADI, dan Yayat Supriyatna, Pakar Tata Kota, bersepakat bahwa umat Islam terancam dari fenomena amburadulnya manajemen lalu lintas ini. Ancaman kelumpuhan arus transportasi yang menghambat laju produktivitas ekonomi sudah pasti mengkhawatirkan. Namun tergerusnya spiritualitas kaum muslim, tentu jauh lebih menggiriskan.

Ketiga nara sumber dalam berita itu pun bersepakat bahwa harus ada strategi dan solusi. Shalat yang diqada dan dijamak adalah salah satunya dari sisi fiqih. Solusi yang lebih bersifat praktis-agamis, yakni untuk bergegas menuju masjid di waktu shalat juga dinilai mampu mengurangi pertemuan kendaraan yang memicu kemacetan.

Dalam tulisan ini, sambil tetap mengapresiasi upaya pemerintahan provinsi DKI dalam mengurai macet yang sedang dilaksanakan, dan dalam waktu yang sama merasa prihatin melihat dampak negatif dari kemacetan yang telah menggerus spiritualitas kaum muslim, saya hendak menambahkan solusi baru dari pendekatan psikologis dan spiritual yang diharapkan efektif dalam menjawab ketergerusan nilai-nilai spiritual pada umat ini.

Dalam tulisan ini, saya hendak menyodorkan suatu solusi berupa metode praktis yang diharapkan bisa membalik realita. Dari solusi ini diharapkan mampu mengubah situasi macet  menjadi momen yang justru konstruktif untuk membangun spiritualitas seorang muslim. Karena di balik fenomena ini, sejatinya ada peluang-peluang yang untuk dibangun ke arah ini (baca: kebangkitan spiritual, sebagai lawan ketergerusan spiritual). Dengan metode ini, kemacetan di jalan raya tak sekadar membuang toksin-toksin jiwa, namun juga menjadi arena meningkatkan kualitas spiritualitas.


Bahagia di Jalan

            Adalah fakta bahwa macet di Ibu Kota sudah menyandera kehidupan sosial dan spiritual. Ini boleh jadi tercetus karena frekuensi dan periode kejadiannya yang teramat massif. Kemacetan hampir terjadi dalam kisaran antara 2 hingga 6 jam per hari dan terjadi setiap hari. Ini tentu sebuah stresor yang kuat bagi semua pemakai jalan. Namun, dengan solusi praktis ini, kita bisa membalik realita.

Apakah yang terjadi pada pengendara yang sedang terjebak dalam macet? Dalam jebakan kemacetan, para pengendara atau pemakai jalan secara fisik hanya berdiam di belakang kemudi mobil. Postur tubuh duduk di atas jok. Kedua tangan memegangi setir. Kedua mata dengan kewaspadaan tinggi mengawasi kondisi jalanan dan kendaraan lainnya di sekelilingnya. Sementara, isi kepala dan hati tak bisa terdeteksi dengan mudah. Namun tampaknya dari sisi luaran fisik dan ekspresi verbal, dengan mudah terdeteksi isi kepala dan hati para pengendara yang sedang terjebak macet ini.

Bila ada rasa marah disertai dengan umpatan-umpatan, maka itulah respon dan reaksi pikiran dan hati terkait tekanan kemacetan. Pikiran dan hati para pengemudi berada dalam emosi yang negatif. Amarah, geram, stres, sikap mau menang sendiri, antipatis, atau bahkan mengamuk adalah tanda psikofisiologis yang menunjukkan para pengguna jalan berada dalam keadaan emosi negatif yang sangat dalam. Emosi sejenis ini sangat jauh dari ketenangan, apalagi kebahagiaan.

Memang berada atas jalan beraspal di tengan kemacetan yang akut, respon ini barangkali bisa dimaklumi. Karena boleh jadi inilah yang lazim terjadi pada nyaris semua pengendara. Namun tentu saja ada respon lain yang juga bisa ditampilkan dan wujudkan. Manusia memiliki perangkat yang sama, baik untuk 'menjadi marah' (being angry) ataupun 'menjadi bahagia' (being happy), yakni pikiran dan hati. Hati dan pikiran bisa dibuat negatif, bisa pula dibuat positif.

Untuk itu, sebenarnya ada pilihan lain yang jarang diambil oleh para pengendara, yakni praktik berdzikir, terkhusus dzikir nafas. Memilih ber-dzikir nafas di atas kendaraan dengan berbekal hati, jiwa, dan pikiran akan membangun kebahagiaan. Bisakah kebahagiaan dibangun di tengah kemacetan? Harus saya katakan bisa. Karena setiap pemakai jalan atau pengendara mobil mempunyai jiwa, pikiran, dan hati. Hati bisa tenang dan bahagia dalam situasi apapun, terkhusus dengan metode dzikir nafas yang memang didesain secara khusus.

Secara umum, ritual dzikir adalah tipe aktivitas atau format ibadah yang tidak dibatasi oleh persyaratan-persyaratan rumit. Mengingat atau menyadari Allah sebagai wujud praktis dzikir bisa dilakukan kapan dan dimanapun, dan dalam keadaan apapun. Dan, dzikir nafas sebagai solusi dan stretegi adalah jenis dzikir yang paling mudah, praktis, dan ringan yang dilakukan dengan melafaz 'Huu Allah'.
Dasar Dzikir Nafas

Kaum muslim banyak menerima anjuran tentang dzikir dalam dogma ajaran Islam. Salah satu anjuran itu ada pada ungkapan 'dzikran katsir', yang bermakna 'perbanyaklah dzikir'. Pesan dari ajaran ini mengandung ajakan kepada kaum muslimi untuk dan agar senantiasa sadar terhadap Allah di setiap waktu, di setiap keadaan, dan di setiap tindakan. Dzikir pun bisa dilakukan dalam semua aktivitas manusia, dari sambil nonton televisi, menyetir mobil, membaca buku, makan, minum, bahkan tidur sekalipun.

Dzikir sejatinya pun bukanlah sekadar mengingat Allah. Karena, pikiran kita tidak akan mampu mengingat Allah. Dzikir adalah menyadari Allah, yaitu Allah yang dekat, Allah yang Maha Meliputi Segala Sesuatu (Al-Muhiith). Dzikir yang benar adalah dzikir dengan kesadaran, bukan dzikir dengan pikiran.

Kesadaran ke Allah bisa dilakukan dan terus-menerus dilatih dan ditempa dimanapun, kapanpun, dan dalam situasi apapun. Karena itu pula, dzikir adalah suatu aktivitas dawam (tidak putus). Dzikir yang dawam mempertebal keimanan. Dzikir sejenis ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan hembusan dan tarikan nafas. Karena itu, istilah untuk dzikir ini adalah dzikir nafas. Sebagai sebuah metode, tipe dzikir nafas sudah banyak terbukti efektif dalam membangun kesadaran, ketenangan, dan kebahagiaan.

Metode dzikir nafas dilakukan dengan mengikuti irama keluar-masuknya nafas melalui rongga hidung sampai ke paru-paru, dan kemudian dihembuskan melalui rongga hidung lagi. Cara mempraktikkannya juga sangat mudah, yakni ketika menghirup udara, hati ber-dzikir 'Huu' (yang artinya Dia, Allah), dan ketika mengeluarkan nafas, hati ber-dzikir 'Allah'.

Praktik ini sangat tepat dan positif untuk dipraktikkan bagi para pengendara atau pengguna jalan yang terjebak dalam kemacetan. Semua kondisi yang terjadi pada para pengendara ketika terjebak kemacetan sangat kondusif dalam mempraktikkan dzikir nafas. Tubuh yang terduduk di belakang kemudi dalam waktu cukup lama sangat tepat untuk dimanfaatkan dengan praktik dzikir nafas dalam relaksasi yang mendekati sempurna. Karena kepraktisan ini, amaliah dzikir nafas adalah jenis amal yang paling mudah dan paling ringan dan sekaligus efektif dalam menanggulangi atau mencegah ketergerusan spiritual.

Efek dari praktik dzikir nafas memberi sensasi ketenangan, kebahagiaan, dan kepuasan spiritual. Bila para pengendara mempraktikkannya, semua emosi akan beralih positif. Derajat spiritualitas akan meningkat tajam. Sebagaimana dalam makna asalnya, jenis ibadah dzikir selalu berorientasi pada Allah, sumber dari segala sumber Kebahagiaan dan Keberadaan.

Umat Islam terutama yang hidup di kota besar perlu menjadikan ini sebagai solusi yang praktis dan mudah. Meningkatkan spiritualitas bisa dijalani sambil duduk di tengah kemacetan Ibu Kota, karena seperti pesan yang termaktub dalam Surah Ali Imran: 191, orang-orang yang menyadari Allah bisa dilakukan dalam semua kondisi dan postur tubuh: sambil duduk, berdiri, atau berbaring. Ber-dzikir nafas di tengah keramaian kemecatan lalu lintas adalah habit spiritual baru (new spiritual habit) yang layak untuk dipraktikkan oleh semua masyarakat urban muslim di manapun berada. 

* Pengajar  Psikologi Islam, di Fakultas Psikologi,
Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo,
Penulis Buku 'Dzikir Nafas'

 

 

 

Disclaimer:
The contents of this email, together with its attachments, may contain confidential information belong to Virginia Indonesia Co., LLC ("VICO") and Virginia Indonesia Co., CBM Limited  ("VICO CBM"). If you are not the intended recipient, please notify the sender immediately and delete this e-mail from your system, and you should not disseminate, distribute, copy or otherwise use this email or any part thereof.

FW: Reminder - Kajian Antar Kita - Mei 2013 - Tips Menjadi Hafidz, Menghapal itu Mudah (Kok)

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

 

From: Pengurus BDI Jakarta
Sent: Thursday, May 23, 2013 11:14 AM
To: BDI
Subject: Reminder - Kajian Antar Kita - Mei 2013 - Tips Menjadi Hafidz, Menghapal itu Mudah (Kok)

 

Selasa, 21 Mei 2013

FW: Bersegera dalam Lima Perkara

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Suparman
Sent: Tuesday, May 21, 2013 6:51 AM
To: BDI
Subject: Bersegera dalam Lima Perkara

 

Bersegera dalam Lima Perkara

Senin, 20 Mei 2013, 18:42 WIB

Tobat (ilustrasi).

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ina Itt 
Allah Swt mengaruniakan hamba-hambaNya berbagai macam nikmat yang tidak akan pernah dapat dihitung. Nikmat-nikmat itu tak hanya bersifat materi, namun juga immateri.

Kategori nikmat dalam bentuk harta (maal), akan habis jika kita tidak pandai dalam pengelolaan rezeki Allah. Dengan kata lain, ada ni’mat dari Allah yang kasat mata, namun bernilai ibadah tiada hingga, yakni semangat (ghirah) ibadah.

Dalam satu tahun, Allah Swt pula yang menyediakan beberapa bulan khusus, termasuk di dalamnya rajab, yang disebut sebagai syahrullah (bulan Allah). Selain rajab, Allah juga menjadikan sya’ban, sebagai bulannya Rasulullah (syahru ar-rasuul).

Selain dua bulan tersebut, satu bulan mulia yang jika kita beribadah maka akan dilipatgandakan pahalanya ialah ramadhan. Oleh karenanya, ramadhan disebut-sebut sebagai bulannya umat Nabi Muhammad, sebab di dalamnya terdapat banyak ganjaran pahala yang Allah berikan, jika kita ikhlas beribadah pada-Nya.

Dalam Qs Ali Imran, Allah berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Qs Ali Imran: 133)

Allah membuka surah Ali Imran ayat 133 ini dengan anjuran untuk ‘bersegera’. Bersegera berarti menyegerakan hal-hal baik untuk segera dilaksanakan—yang dalam konteks di atas ialah menyegerakan diri meraih ampunan untuk memperoleh surgaNya Allah. Tentu saja, bersegera berbeda dengan ‘cepat-cepat’ atau ‘tergesa-gesa’ yang datangnya cenderung dari setan.

Sedangkan yang dimaksud dengan takwa dalam surah di atas, dijawab Allah pada ayat berikutnya, “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Qs Ali Imran: 134-135)

Ada lima kategori yang harus disegerakan dalam konteks ayat di atas, yaitu pertama, menafkahkan harta. Kedua, menahan amarah. Ketiga, memaafkan kesalahan orang lain. Keempat, bertobat saat melakukan perbuatan keji. Kelima, bertobat saat menganiaya diri sendiri. Kelima hal tersebut, Allah anjurkan untuk ‘disegerakan’ terlebih dua hal terakhir di atas, yakni ‘tobat’.

Allah sediakan bulan rajab ini sebagai bulanNya, dalam arti bahwa kita selaku hamba-hambaNya yang mungkin, lebih banyak dosa ketimbang pahala, untuk bersegera datang memohon dan mengharap ampunanNya. Bersegera dalam taubat juga mengandung makna bahwa timbul kesadaran penuh bahwa ‘usia adalah rahasia Allah’.

Saat kita memutuskan untuk ‘menunda’ pertobatan, maka yang ada hanyalah penyelesaian, ketika ternyata, Allah ‘selesaikan’ usia hidup di dunia dalam kondisi belum bertaubat. Dengan kata lain, Allah mengajak hamba-hambaNya untuk segera bertaubat di bulan ini, agar ramadhan mendatang, hati ini sudah diliputi kesucian lahir batin.

Selain kesucian lahir maupun batin, orang-orang yang bersegera mengharap ampunannya, maka akan diganjar surga olehnya. Ganjaran ini dipertegas melalui ayat setelahnya, yaitu, “Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Qs Ali Imran: 136)

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

FW: Tiga Penghancur Manusia

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Suparman
Sent: Wednesday, May 22, 2013 6:53 AM
To: BDI
Subject: Tiga Penghancur Manusia

 

Tiga Penghancur Manusia

Wednesday, 22 May 2013, 02:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID. Oleh Samson Rahman
Ada tiga penghancur paling ampuh yang membuat manusia tak berdaya dan membuatnya tersungkur dalam kehinaan baik di dunia , di mata manusia, dan di akhirat, di sisi Allah. Ketiga hal itu adalah harta, tahta dan wanita.

Rasulullah saw senantiasa mengingatkan dan berwasiat kepada umatnya agar senantiasa mawas diri terhadap godaan menggiurkan tiga penghancur sendi sendi iman itu.

Dalam sebuah sabdanya mengenai keharusan kita waspada terhadap pesona dunia dan goda rayu wanita, Rasulullah saw berujar, ''Hati-hatilah kalian dari pesona dunia dan hati-hatilah dari goda rayu wanita. (HR. Ad-Dailami).

Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah saw berujar, ''Janganlah seorang lelaki berdua-duaan dengan wanita (bukan mahram) karena sesungguhnya syetan akan menjadi orang ketiga.'' (HR. Thabrani).

Rasulullah saw mewasiatkan umatnya tidak kemaruk dunia dan hendaklah berlaku zuhud terhadapnya. Jangan tamak jangan rakus. Sebab kecintaan pada dunia tidak akan ada batasnya.

Manusia tamak dan rakus dunia tidak akan pernah mencapai puncak bahagia karena dia terus memburunya dengan ruhani yang terengah engah.

Rasulullah bersabda, ''Zuhudlah pada dunia, Allah pasti akan mencintaimu dan zuhudlah (tidak berkeinginan) pada apa yang ada di tangan manusia, pasti manusia mencintaimu. (HR. Ibnu Majah).

Semakin banyak manusia yang mencinta dunia, gambaran kiamat semakin dekat. Dan manusia semakin jauh dari Allah. Mereka berlomba membidik dunia namun semakin menjaga jarak dari Allah.

Rasulullah saw bersabda, ''Hari kiamat semakin dekat. Dan tidaklah manusia kecuali semakin tamak pada dunia dan kepada Allah semakin jauh.'' (HR. Hakim).

Dunia itu indah dan sedap namun beracun sehingga banyak manusia yang tertipu oleh cita rasanya. Mereka yang tak memiliki filter ruhani yang baik akan semakin terangsang untuk senantiasa menikmatinya.

Hingga akhirnya dia tersedak. Daya tahan ruhaninya menjadi lumpuh dan tumpul. Kepekaan batinnya lemah.

''Dinar dan dirham telah membinasakah orang-orang yang datang sebelum kalian, dia juga akan membinasakan kalian.'' (HR. Thabrani dan Baihaqi), demikian sabda Sang Nabi.

Kekuasan juga sering kali menjadikan manusia terpuruk. Tatkala kekuasan dan tahta itu dianggap sebagai kesempatan untuk berbangga diri, untuk memperkaya diri, dan untuk dinikmati.

Padahal kekuasan hendaknya diperlakukan sebagai amanah yang tidak ada khianat di dalamnya. Mereka yang dianggap lembek dan lemah untuk memegang amanah ini jangan coba-coba masuk ke dalamnya, sebab dia akan terjungkal dan akan merana.

Rasulullah saw pernah memperingatkan sahabat utama Abu Dzar dengan berkata, ''Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah dan sesungguhnya dia (kekuasaan itu) adalah amanah dan di hari kiamat akan menjadi siksa dan sesal kecuali yang mengambil sesuai haknya dan melaksanakan apa seharusnya dilaksanakan. (HR. Muslim).

Kesungguhan dalam menjalankan kekuasan inilah yang oleh Rasulullah dituntut dari umatnya yang diberi amanah kekuasaan. Sebagaimana sabdanya: ''Tidaklah ada seorang pemimpin yang mengurusi urusan kaum muslimin namun kemudian tidak bersungguh-sungguh dan tidak memberikan nasehat kecuali dia tidak akan masuk surga bersama mereka.'' (rakyatnya) (HR. Muslim).

Semoga kita terhindar dari godaan genit tahta, harta dan wanita di sebuah zaman yang mulai menggila.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

FW: Kajian Antar Kita - 23 Mei 2013 - Tips Menjadi Hafidz, Menghapal itu Mudah (Kok)

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Pengurus BDI Jakarta
Sent: Tuesday, May 21, 2013 3:50 PM
To: BDI
Subject: Kajian Antar Kita – 23 Mei 2013 - Tips Menjadi Hafidz, Menghapal itu Mudah (Kok)