Rabu, 02 Oktober 2013

Kakek Penanda Waktu

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Kakek Penanda Waktu

Selasa, 01 Oktober 2013, 23:00 WIB

Shalat berjamaah (ilustrasi).

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Prof Yunahar Ilyas
Walaupun umurnya sudah mendekati tujuh puluh tahun, tetapi badannya masih tegap.  Kalau berjalan masih cepat seperti kebiasaannya sejak muda.

Setiap pagi setelah shalat Subuh sang kakek rutin jalan pagi menempuh jarak 6-8 km pulang pergi. Menurut pengakuannya, waktu muda sang kakek suka main sepak bola. Bergabung dengan klub sepak bola di kampungnya.
   
Setelah menamatkan pendidikan setingkat sekolah lanjutan pertama, dia mulai  berdagang, walaupun bapaknya sebenarnya menginginkan dia meneruskan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi, minimal setingkat sekolah lanjutan atas.

Sebagai seorang pedagang yang sukses, bapaknya sanggup membiayai pendidikannnya sampai ke perguruan tinggi. Tetapi rupanya darah dagang bapaknya lebih menonjol mempengaruhi dirinya.

Mula-mula dia berdagang di kota tempat kelahirannya, lalu kemudian merantau. Berpindah dari satu kota ke kota lainnya di pulau Sumatera, kemudian ke Singapura dan Malaysia. Pada akhir masa-masanya berdagang,  sempat juga dia merasakan bagaimana kerasnya kehidupan di kota Jakarta.

Sudah lebih sepuluh tahun sang kakek pensiun dari berdagang dan menetap di kampung halamannya. Hari-hari tuanya benar-benar dia nikmati untuk beribadah.

Hidupnya hanya bergerak dari rumah ke masjid. Setelah selesai shalat malam, dia bersiap pergi ke masjid untuk shalat Subuh. Selesai shalat Subuh, kalau tidak ada pengajian, dia bergegas pulang berganti pakaian olah raga, terus jalan pagi.

Sebelum waktu Zhuhur dia sudah berjalan menuju masjid. Begitu juga sebelum Ashar dan Maghrib. Setelah Maghrib dia tidak pulang, membaca Al-Qur'an dan berzikir di masjid menunggu Isya'.

Kadang-kala antara Maghrib dan 'Isya ada pengajian, maka sang kakek akan mengikutinya dengan tekun. Para muballigh yang rutin mengisi pengajian di masjid itu sudah hafal dengan wajah sang kakek.

Kalau shalat dia selalu di shaf pertama, mengambil posisi tidak tepat di belakang imam, tetapi agak kekiri sedikit. Jamaah lain pun sudah hafal posisi sang kakek, sehingga tidak ada yang mengambil posisi itu.

Kalau pun ada yang akan mengambil posisi itu, biasanya kalah cepat dari sang kakek, karena dia sudah berada di sana sebelum waktu shalat masuk.

Seisi rumah, apalagi cucu-cucunya sudah hafal. Jika sang kakek sudah sibuk ke kamar mandi pertanda tidak lama lagi waktu shalat akan masuk.

Sebelum meninggalkan rumah, tidak lupa sang kakek mengingatkan seisi rumah untuk segera bersiap-siap melaksanakan shalat.

Terutama sebelum Ashar dan Maghrib, tatkala cucu-cucunya masih asyik menonton televisi, akan terdengar suara kakek: "Ayoo semua, shalat…shalat…matikan tivi…"

Tidak jarang cucunya menjawab: "belum azan kakek…waktunya masih lama..." Jika cucu-cucunya masih membandel, tidak  jarang kakek bertindak mematikan televisi. Baginya shalat di awal waktu lebih penting dari semua acara televisi itu.

Jarak dari rumah sang kakek ke masjid sekitar setengah kilometer. Melewati jalan yang kiri kanannya penuh warung dan toko. Penjaga warung dan toko sudah sangat hafal, jika sang kakek lewat di depan warung dan toko mereka menuju arah masjid, berarti waktu shalat sudah hampir masuk.

Sang kakek dijadikan sebagai penanda waktu-waktu shalat akan masuk. Setelah sang kakek meninggal dunia, tidak ada lagi orang lewat di depan warung dan toko yang bisa dijadikan penanda waktu.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

Awalnya Mengajak Muslim untuk Murtad, Misionaris Ini Justru Terpikat Islam

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Awalnya Mengajak Muslim untuk Murtad, Misionaris Ini Justru Terpikat Islam

Senin, 23 September 2013, 07:57 WIB

Dua Kalimat Syahadat (ilustrasi).

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa 
"Selama bertahun-tahun, saya berusaha membujuk muslimin di negara saya untuk murtad. Namun saya justru mendapat mimpi yang membujuk saya untuk memeluk Islam,” ujar Musa Bangura, seorang misionaris asal Sierra Leone Afrika, mengawali kisahnya.

Bukan menjalankan tugas sebagai misionaris, Bangura justru tertarik dengan Islam. Bukan menyudutkan agama Islam agar muslimin tertarik untuk murtad, Bangura justru mendapati hatinya tertarik pada risalah Rasulullah.

Kisah Bangura bermula sekitar dua puluh tahun yang lalu saat mendapati mimpi yang mengajaknya pada Islam. Mimpi itu pun bukan sekali, melainan tiga kali di malam yang berurutan. Ia pun kemudian merasa terpanggil dengan mimpi "aneh" itu. Bangura mulai mempelajari Islam.

Sebagai misionaris, tentu Bangura tahu betul apa itu Islam dan siapa itu muslim. Namun pengetahuan yang ia tahu itu hanyalah dari sudut pandang agamanya. Dengan panggilan mimpi itu, ia pun kemudin mempelajari Islam dengan benar dan secara kaffah. Hasilnya, banyak pengetahuan dan logika baru yang ia peroleh.

Ketauhidan Allah menggerakkan hatinya. Ia kemudian bertanya-tanya akan paham anak tuhan yang selama ini ia yakini. Keyakinan pada agama sebelumnya pun mulai luntur. Ia kemudian mendatangi pendeta untuk berdiskusi. Pergulatan hati akan dua paham berbeda membuat benaknya dipenuhi pertanyaan.

"Saya mengungkapkan kontradiksi dalam agama saya kepada pendeta, dan kami pun berdiskusi," ujarnya kepada kantor berita Anadolu, dikutip onislam.

Kontradiksinya mulai terlihat terang. Bukan menemukan kembali keyakinan pada agamanya, namun menemukan agama baru seperti dalam mimpinya; Islam. Setelah banyak melakukan diskusi, ia pun kemudian mendapat keyakinan bahwa Islam lah agama yang haq. "Saya membuktikan (saat diskusi dengan pendeta) bahwa Islam adalah agama yang benar," tuturnya.

Bangura pun kemudian melantunkan syahadat, saat itu tahun 1993. Saat ini ia menjadi ulama yang melakukan safari dakwah di kawasan Afrika, terutama di negaranya, Sieraa Leone. Ia banyak menjadi perantara jalan hidayah masyarakat disana.

Begitu semangatnya Bangura dalam dakwah Islam, ia pun kemudian mendirikan sebuah organisasi bernama Why Islam In Action (WIIA) pada tahun 1995. Organisasi non-pemerintah ini sebetulnya bergerak di bidang kemanusiaan. Bangura mengajak para muslimin untuk peduli pada kemiskinan di kampungnya, Sierra Leone. Namun Bangura yang telah menjadi da'i kemudian mendapat banyak apresiasi positif dari masyarakat setempat. WIIA pun menjadi sumber informasi terpercaya mengenai Islam.

Organisasi besutan Bangura ini pun makin berkembang. Sebuah organisasi di Turki bersedia menjadi sponsor dan memberikan dana yang dibutuhkan WIIA. Kesuksesan pun diraih WIIA ketika membantu lebih dari 8 ribu masyarakat dalam memeluk agama Islam.

Saat ini Sierra Loenne pun dihuni mayoritas muslimin. Dari total 6 juta warga Sierra Lonne, 4 juta merupakan muslimin. "Saya menjadi seorang yang membantu mereka melihat kebenaran dan merasakan hidayah Islam," tuturnya.
 

Ditinggal Keluarga

Saat memeluk Islam, para mualaf selalu dihadapi rintangan dan tantangan sebagai ujian keimanan mereka. Bagi Bangura, di tinggal keluarga merupakan ujian yang sangat berat. Setelah bersyahadat, ia di tinggal seluruh anggota keluarga termasuk istrinya. Ia berhasil mendakwahkan banyak orang, namun tidak keluarganya. Ia bahkan berusaha mendakwahkan Islam pada teman-teman misionaris lain. Namun hidayah hanya Allah yang mampu memberi.

Tak berlarut dalam kesedihan, Bangura bangkit dan berusaha mengabdikan diri pada agama. Dari keterpurukan hati itulah Bangura membentuk WIIA yang disana ia mendapat keluarga baru yang jumlahnya jauh lebih besar. Ia membantu dalam kemanusaiaan, sekaligus berdakwah, sekaligus membentuk keluarga besar yang baru.

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

More Important than the right answers are the right question

Disclaimer:
The contents of this email, together with its attachments, may contain confidential information belong to Virginia Indonesia Co., LLC ("VICO") and Virginia Indonesia Co., CBM Limited  ("VICO CBM"). If you are not the intended recipient, please notify the sender immediately and delete this e-mail from your system, and you should not disseminate, distribute, copy or otherwise use this email or any part thereof.

Golongan Orang yang Sedikit dan Air Mata Doa

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Golongan Orang yang Sedikit dan Air Mata Doa

Senin, 30 September 2013, 16:35 WIB

Para pengantar calon haji yang akan berangkat ke Tanah Suci

 

REPUBLIKA.CO.ID,  Labbaika Allohumma Labbaik, Labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syarii kalak. "Aku penuhi panggilan MU ya Allah, Aku penuhi panggilan MU ya Allah. Tidak ada sekutu bagi MU, sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milik MU. Tidak ada sekutu bagi MU.

Kalimat Talbiyah pelepasan keberangkatan haji selalu menguras emosi. Dikarenakan harapan semua jamaah baik yang pergi maupun yang melepas untuk selalu mencari ridha Allah SWT.

Dalam keterbatasan kuota tahun ini dikarenakan renovasi besar masjidil Haram), Alhamdulillah saya termasuk menjadi salah satu tamu Allah yang sangat bersyukur. Betapa jutaan jamaah menunggu kuota dari berbagai sudut daerah di Indonesia bahkan Dunia untuk melaksanakan ibadah eksklusif  yaitu Haji. Ya karena hanya bisa dilaksanakan di tempat tertentu (Makkah), dan juga khusus di waktu tertentu (bulan haji).

 Dari berjuta-juta manusia yang berniat haji, kami menjadi golongan yang sedikit di tahun ini yang terpilih untuk memenuhi undangan Allah SWT. Berbicara mengenai golongan yang sedikit. Teringat satu doa yang berbunyi "Allohummaj'alni min 'ibadikaal qoliil. Ya Allah jadikanlah aku golongan dari hamba-hambu MU yang sedikit”. 

Doa ini dahulu dipanjatkan oleh seorang pemuda yang sedang berthawaf, pemuda tersebut mengulang-ngulang doa tersebut yang akhirnya memancing sahabat Umar RA untuk bertanya "kenapa engkau berdoa seperti itu?", maka pemuda tersebut menjawab teringat surah dalam Alquran, Allah SWT menyatakan dalam surah  Al Araf 10, surah Hud 40, atau surah Saba 13. Yang menyatakan hanya sedikit orang-orang yang bersyukur. 

Seperti dalam surah Al Araf ayat 10; "Sesungguhnya Kami telah menempatkan Kamu sekalian di muka Bumi dan Kami adakan bagimu di muka Bumi (sumber) penghidupan, Amat sedikit lah Kamu bersyukur". Atau dalam surah Hud ayat 40; "dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit"

Diakhiri air mata doa mengiringi langkah tamu-tamu Allah yang semringah. Langkah pejuang-pejuang ridho Allah. Jangan takut atau merasa tidak berkemampuan untuk berangkat haji, Insya Allah, Allah yang akan memampukan kita. Kuatkan niat untuk berhaji, karena faktanya Allah sendiri yang akan memilih tamu NYA. 

Banyak dari mereka yang mempunyai harta yang banyak, kedudukan yang tinggi, tapi tidak bisa berhaji. Malah tidak sedikit orang-orang yang kurang harta, tidak lengkap panca indranya, dan sebagainya yang berhaji. Namun hanya sedikit orang-orang yang kuat niatnya untuk berhaji dengan cara mengimplementasikan amalan haji dalam keseharian seperti memuliakan tamu, ikhlas, berzuhud, dsb.  

Ya, hanya sedikit yg bersyukur, sedikit yang bangun di sepertiga malam utk qiyamul lail, hanya sedikit yang patuh, yang mendapat nikmat patuh, mari menjadi golongan yang sedikit! Insya Allah.

 Ustaz Erick Yusuf

@erickyusuf

Pendiri yayasan dakwah iHAQi

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

21 September 2013 = Pilih Dunia atau Akhirat ?

Visit waysofmuslim.blogspot.com

21 September 2013 = Pilih Dunia atau Akhirat ?

Lilik Wijayati

antaranews.com

Mungkin tulisan ringan yang kutulis ini adalah pengalaman seseorang yang dekat denganku. Namun di manapun dia berada, semoga Allah melimpahkan kasih sayangNya padanya. Karena melalui dia aku menemukan dunia baru yang belum kujumpai sebelumnya, baik dari kehidupan nyata maupun dalam buku. Dunia baru tersebut kutemui ketika aku menggunakan "telingaku".

21 September 2013...

Dia mendapat panggilan tes tertulis di sebuah perusahaan yang cukup terkenal. Kebetulan dia termasuk di gelombang tes yang kedua, yang pertama dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang.

Jam 2 tepat masuklah dia ke ruangan tes bersama peserta lain yang jumlahnya ratusan. Waktu itu seorang petugas yang mendapat giliran menjaga selama tes berlangsung mengatakan beberapa aturan yang harus ditaati oleh semua peserta. "TIDAK BOLEH KELUAR RUANGAN, BAGI YANG MELAKUKAN DIANGGAP MENGUNDURKAN DIRI".

Seorang peserta bertanya, "Bagaimana kalau ijin sholat Ashar, karena secara logika pasti tes akan selesai lebih dari jam enam petang".

Dengan enteng petugas penjaga tersebut menjawab, "Tak kecuali dengan sholat, jika kalian mau sholat, silakan sholat di sudut ruangan."

"Bagaimana dengan wudhunya?" tanya seorang peserta lagi.

"Kan bisa dengan tayamum," jawab petugas enteng.

"Ya, nggak bisa bu, tayamum diperbolehkan bila kita tidak menjumpai air."

"Itu urusan kalian, jika kalian ingin keluar, kalian tahu konsekuensinya."

Alhasil tes tsb terus berlanjut.

Saat ada adzan Ashar berkumandang, si petugas ini gak ada tanda-tanda mengijinkan peserta untuk keluar. Di antara keheningan tes yang berlangsung, sesosok pemuda bangkit berdiri, dia mengambil tasnya dan berjalan keluar ruangan."

Ruanganpun heboh, "Dia telah memutuskan keluar, artinya peserta tersebut mengundurkan diri."

Satu per satu pesertapun meninggalkan bangkunya mengikuti si pemuda, karena menunggu gak ada kepastian untuk istirahat guna melaksanakan sholat. Sebagian lagi pada bimbang, sambil berbisik mereka saling bertanya, "Kamu milih mana dunia atau akhirat".

Dan akhirnya sepertiga orang mengundurkan diri karena lebih memilih untuk sholat dibandingkan meneruskan ujiannya. Sebagian peserta yang di ruangan ada yang senang, mereka dengan sumringah berkata, "Akhirnya sainganku berkurang".

Namun kesempatan tak akan lari kemana, tak lama setelah itu sepertiga anak yang meninggalkan ruangan tersebut kembali lagi, karena ada salah seorang petugas yang membawa mereka kembali ke ruangan tes.

Dan dari cerita ini ada banyak makna yang tersimpan   ...   Kita bisa menilai seperti apa watak peserta ujian tersebut dari keputusan yang mereka ambil.

 

http://penulis165.esq-news.com/2013/artikel/10/01/21-september-2013-pilih-dunia-atau-akhirat.html

Selasa, 01 Oktober 2013

Tukang Becak naik Haji

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Tukang Becak Berhaji

Keinginan Haji Terwujud Setelah Abdullah Menabung 22 Tahun

Syaiful Kusmandani - detikNews

 

Menabung 22 tahun Abdullah bisa berangkat haji/File

 

Jember - Keinginan untuk naik haji butuh perjuangan panjang dan bertahun-tahun. Abdullah bin Saiful Hadi (60), bapak dua anak asal Dusun Klanceng Desa/Kecamatan Ajung, Jember, ini harus menyisihkan sisa belanjanya selama 22 tahun. Upaya menabung dilakukan sejak 1987 silam.
Abdullah yang akan berangkat pada Senin (7/9/2013), dalam kloter 62 wilayah Jember, menceritakan kisahnya hingga akhirnya bisa berangkat haji di tengah keterbatasan ekonomi seorang tukang becak.
Di usia remaja, Abdullah sering sholat malam bahkan setiap selesai sholat 5 waktu, dia tak lepas dari mengaji. Saat itulah timbul keinginan untuk menunaikan rukun Islam kelima, namun impian itu seakan hanyalah mimpi mengingat dirinya berasal dari kalangan ekonomi bawah.
Tapi bagi Abdullah impian itu haruslah terwujud, saat itulah timbul keinginan untuk menabung meski penghasilan dari seorang tukang becak tidak menetap setiap harinya.
"Kadang saya menabung Rp 20 ribu, kadang pula tiga hari sekali bahkan pernah satu minggu sekali cuma menabung Rp 25 ribu. Semua itu tergantung sisa uang belanja di rumah," cerita Abdullah kepada detikcom di rumahnya, Selasa (24/9/2013).
Semangat Abdullah untuk menabung tak pernah berhenti, bahkan dia pernah menabung Rp 5 ribu saja di kala sepi penumpang. Semangat Abdullah kini telah menjadi impian nyata.

MABRUR SETELAH HAJI

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Mengapa sudah puluhan juta jama’ah Haji Indonesia, sepulang dari Haji hanya sangat sedikit yang yang dampaknya terasa berubah ?.

 

Karena mayoritas tidak mengetahui makna Ibadah Haji. Sesungguhnya ibadah Haji itu adalah Training Simulasi Kehidupan kita mengenai

Bagaimana kita harus menjadi seorang Leader baik itu Pemimpin Rumah Tangga ataupun sebagai Pemimpin dalam pekerjaan kita sehari-hari.

 

Seorang Leader itu harus mempunyai urutan prioritas kalau ingin menjadi seorang Leader yang lebih baik, urutan-urutannya adalah sebagai berikut :

 

I.   REFINING (disimulasikan dengan Ihram)

 

Sebelum memimpin orang lain, kita harus mampu memimpin diri sendiri. Caranya, kita harus bisa melepaskan rasa lebih tinggi dan lebih hebat dari yang lain. Disimulasikan dengan pakaian ihram, manusia sama didepan Allah. Jadi, sucikan dahulu jiwa dan raga (pangkat, kedudukan, harta, dsb.) baru kita bisa memimpin diri sendiri dan orang lain.

 

 

II.  PLANNING (disimulasikan dengan Wukuf )

 

Setelah jiwa dan raga kita bersih, baru kita merenung bahwa kita ada untuk maksud apa ?. Kenapa kita dipilih mengemban amanah ? Kok tidak yang lain ? Darimana asal kita dan mau kemana kita ? Apa misi hidup kita ? Apa tujuan kita jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek kita ?. Untuk berhasil mencapai tujuan jangka panjang, tujuan jangka menengah harus tercapai dahulu. Dan untuk berhasil mencapai tujuan jangka menengah, tujuan jangka pendek harus harus berhasil !. Kemudian langkah2 apa yang seharusnya dilakukan agar arahnya benar dan selamat untuk mencapai tujuan tsb ?

 

Didalam pencarian untuk menemukan visi, misi, langkah2 dalam perenungan kita. Kenali juga kendala2  apa yang bisa menghalangi agar  langkah2 kita agar selamat dan tidak melenceng dari tujuan ?.

 

Didalam perenungan, kita dibatasi oleh "Dead Line" untuk WUKUF di Arafah, artinya didunia kerjapun engkau tidak boleh berlama-lama merenung.

 

Mengapa “Dead Line” itu harus ada ? Karena “Dead Line” memaksa kita untuk segera :

 

1.  Memberikan jadwal yang membuat kita produktif.

2.  Meningkatkan etika kerja & disiplin.

3.  Secara kontinyu membawa kita semakin dekat dengan tujuan.

4.  Memberikan dorongan untuk segera menuntaskan.

5.  Menghindari keinginan untuk menunda-nunda pekerjaan.

6.  Menghindari penumpukan pekerjaan.

 

Semoga sudah menemukan jawaban2nya. Kita harus segera Keluar dari Arafah menuju Muzdalifah untuk mengambil 7 batu kerikil di kegelapan malam.

 

 

III. IDENTIFYING (disimulasikan dengan pengambilan 7 Batu di Muzdalifah)

 

Dalam simulasi ibadah haji, dilambangkan kendala2 tersebut adalah batu-batu yang kita ambil di kegelapan malam. Artinya, kita ada didalam dunia yang kita tidak tahu kendala2 yang dihadapi. Kenali kendala2 itu, paling tidak ambil 7 batu kerikil di kegelapan malam. Mengapa 7 batu kerikil ?. Ketujuh batu tersebut melambangkan 7 Kendala yang harus dikenali dan dihilangkan yang mengotori jiwa kita sebelum kita  melangkah.

 

 

IV.CONTROLLING (Disimulasikan dengan Lempar Jumrah di Jumratul Aqobah, Wustho’ dan U’la di Mina)

 

Belenggu2/kendala2 tadi berasal dari syetan yang ada dalam aliran darah setiap kita, itulah esensi dari LEMPAR JUMROH di Mina. Yang dilempar batu bukan syetan yang ada di tugu jumratul tapi syetan yang ada didalam diri kita.  Lempar 7 Batu, esensinya yang kita lempar syetan yang membelenggu kita :

 

Minimal ada 7 kendala yang harus dikenali dan dihilangkan yang mengotori jiwa kita sebelum kita  melangkah yaitu :

 

1.  Pembanding (Batu ke 1)                  : Suka membanding-bandingkan (subyektif)

 

2.  Literatur (Batu ke 2)                         : Tidak mau menerima hal-hal baru yang lebih baik dari literatur yang selama ini dia pegang

 

3.  Kepentingan (Batu ke 3)                   : Lebih mementingkan diri sendiri atau golongan daripada kepentingan orang lain

 

4.  Sudut Pandang (Batu ke 4)              : Tidak mau menerima sudut pandang orang lain yang berbeda atau tidak mau melepaskan sudut pandang diri sendiri yang salah.

 

5.  Pengalaman Masa Lalu (Batu ke 5)  : Tidak mau belajar dari kesalahan2 masa lalu dan tidak mau menerima hal2 baru disebabkan tidak bisa melepaskan trauma masa lalunya.

 

6.  Prinsip Hidup (Batu ke 6)                 : Prinsip yang salah tetap dilakukan. Jangan berprinsip pokoknya saya benar, orang lain selalu salah.

 

7.  Prasangka Negatif (Batu ke 7)          : Sering berparsangka negatif yang dikedepankan.

 

Itulah makna pelemparan ke 7 batu. Setelah ke 7 Batu itu kamu lempar, mudah2an hati dan pikiranmu sebagai seorang leader menjadi bersih sebelum melangkah berikutnya.

 

 

V.  ORIENTATING (Disimulasikan dengan Thawaf mengelilingi Ka’abah)

 

Kini kita telah mengetahui diri dan hati serta pikiran suci bersih. Selanjutnya, kita berangkat menuju Masjidil Haram untuk thawaf mengelilingi ka'bah.

 

Esensi dari mengelilingi ka'bah berlawanan arah jarum jam adalah engkau bersinergi dengan alam semesta, dengan elektron kesemuanya mengorbit berlawanan jarum jam.

 

Kita berbaur dan bersosialisasi dengan orang lain berbagai bangsa tanpa membedakan pangkat, kedudukan, pakaian ihram sama dan bersinergi dengan orang lain dalam mencapai tujuan yang sama.

 

Kita akan menangis pada putaran ke 7 akan kita rasakan Kasih Sayang dari Allah yang ditanamkan kepada setiap orang yang thawaf. Rasakan Energi Positif yang dahsyat dari bermilyar orang seluruh dunia sholat berkiblat ke satu titik, ka'bah. Rasakan efek Lorentz ketika ka'bah dikitari, terjadi Medan Magnet yang dahsyat dimana semua do'a2 langsung menembus langit menuju Arsy Allah. sekaligus menghunjam hati dimana Allah ada didalam hati ini. Kita akan menangis terisak-isak karena pada dasarnya berthawaf dengan pakaian ihram esensinya adalah lepaskan semua atribut kebesaran, tdak boleh memakai parfum agar engkau tidaik merasa lebih wangi dari yg lain krn Allah hanya akan mau menerima hambaNya dlm keadaan suci bersih fisik, hati, jiwa dan pikiran.

 

Jangan ada berhala apapun didalam hati ini, sebagaimana ka'bah yg kau kitari didalamnya juga kosong tanpa ada materi apapun. Jangan pernah mengucapkan kata-kata negatip (rafats) bertamu kepada-Nya.

 

Ka'bah adalah Bangunan Kasih Sayang yg Allah meminta Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as utk membangunnya dan memanggil semua manusia dtg ke ka'bah, sbg peringatan cinta manusia hny kpd Allah melebihi kpd anaknya sendiri (setelah kedua Nabi tsb lulus dari ujian Allah menyembelih yg plng disayangi setiap manusia yaitu anaknya sendiri dan diganti seekor domba besar).

 

Labbaik Allahumma labbaik ... labbaik la syarikalaka labbaik .. Innalhamda wal nikmata lakawal mulk laa syarikalak. Allah ... Allah... aku datang memenuhi panggilan-Mu ... bergetar seluruh tubuh, jiwa dan hati serta air mata karena cinta ... karena cinta ... hanya karena cinta.

 

 

VI. ACTION (Disimulasikan dengan melakukan Sa'i)

 

Rukun Haji selanjutnya setelah Wukuf, Lempar Jumroh dan Thawaf adalah Sa'i. Esensi dari SA'I adalah bukan hanya napak tilas Bunda Hajar dari Bukit Soffa dan Bukit Marwa p.p dalam 7 x. Namun, SA'I adalah perjuangan manusia tanpa kenal lelah  karena suatu keyakinan bahwa pada ambang batas dimana seorang manusia sudah tidak sanggup lagi, maka pertolongan Allah akan datang secara tidak terduga.

 

Ketika bayi Isma'il menangis karena tidak ada minuman ditengah padang pasir panas terik. Bunda Hajar tidak berpangku tangan dg hny berdo'a. Namun, dia mencari air dari bukit soffa ke bukit marwa. Tidak hanya berjalan, tetapi berlari bolak-balik. Setiap 1x bolak-balik dia tetap berprasangka baik dengan memuji Allah yang sekarang diabadikan oleh setiap jama'ah Haji yaitu mengucapkan :"Bismillahi Allahu Akbar"

 

Setelah ke 7x nya dia sudah tidak sanggup lagi, dia lemah dan lunglai kehausan, pasrah dan dikembalikannya semua urusan kepada Allah. Subhanallah, ternyata dia dapati dikaki Ismail adalah rembesan air yg kemudian digalilah sehingga menjadi tempat minum. Bukan sekedar air tetapi air yg mengenyangkan dan mengobati...Itulah Air Zamzam.

 

Bunda Hajar berlari2 kesana kemari bukan karena AIR, tetapi karena KEYAKINAN bahwa pertolongan Allah pasti datang menyelamatkan.

 

 

VII.   RESULTING (Disimulasikan dengan Zamzam)

 

Jika step I s/d VII telah dilakukan dengan baik dan benar, maka kemakmuran /kesejahteraan kita, keluarga kita, perusahaan tempat kita bekerja dan lingkungan kita akan terpancar jelas sejelas Sumur Air Ajaib yang TAK PERNAH KERING, MENGOBATI, DIMINUM BERMILYAR ORANG sejak 5,000 tahun yang lalu hingga sekarang serta SUMBER AIR SATU2NYA dan TIDAK BISA DI DRILL TWIN WELL.

 

Begitulah kita, sepulang dari Haji bisa mengerti bahwa kita (dilambangkan dengan usaha Bunda Hajar) bekerja bukan karena GAJI tetapi karena KEYAKINAN bahwa Allah akan memberikan JALAN untuk menyelamatkan serta mensejahterakan perusahaan, keluarga, masyarakat (dilambangkan dg Ismail).

 

Bekerjanya kita harus sepenuh hati (Bunda Hajar bukan hanya Berjalan tetapi Berlari-lari), TOTAL ACTION.

 

Hingga tercapailah Keselamatan, Kemajuan, Kemakmuran yg kenikmatannya dirasakan oleh Pribadi, Perusahaan, Keluarga, Kaum Dhua'fa yang diidam-idamkan setiap orang. Itulah perlambang AIR ZAMZAM yang diidam-idamkan oleh setiap orang. Itulah Leader, itulah Kita yang mempunyai Tugas dari Allah untuk mensejahterakan dan menyelamatkan ummat-Nya dan lingkungan yang diciptakan-Nya.

 

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH HAJI

 

From: Suparman
Sent: Monday, September 23, 2013 6:58 AM
To: BDI
Subject: Mabrur Pascahaji

 

Mabrur Pascahaji

Sabtu, 21 September 2013, 10:12 WIB

Jamaah Haji di Masjidil Haram

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhbib Abdul Wahab 
Musim haji sudah tiba. Syawal, Dzul Qaidah, dan Dzul Hijjah adalah bulan-bulan haji. Umat Islam yang kini tengah menunaikan rukun Islam kelima ini tentu sudah bersiap diri, baik fisik, finansial, maupun mental spiritual.

Para tamu Allah  (dhuyuf ar-Rahman) itu tentu juga berniat dan berharap memperoleh haji mabrur, yang balasannya tidak lain adalah surga (HR Muslim).
   
Jamaah haji Indonesia termasuk yang terbesar di dunia, dan boleh jadi yang paling banyak membelajakan hartanya di Tanah Suci.

Para alumni Tanah Suci itu sering digugat: "Mengapa jumlah jamaah haji yang terus meningkat setiap tahun, bahkan ngantri bertahun-tahun, tidak berbanding lurus dengan penurunan angka korupsi atau perbaikan integritas dan akhlak  umat Islam?" "Apa bukti kemabruran haji mereka?

Oleh karena itu, aktualisasi kemabruran pascahaji merupakan sebuah keharusan, agar ritualitas ini tidak berhenti pada tataran pemenuhan atau pengguguran kewajiban, melainkan harus membuahkan perilaku moral yang mulia dan terhormat.

Berhaji bukan sekadar untuk mengejar dan memperoleh gelar haji, tetapi yang lebih penting lagi adalah menjadi orang benar-benar mengamalkan nilai-nilai moral-spiritual pascahaji.
    
Haji itu ibadah multidimensional. Manasik haji bukan sekadar ritualitas fisik tanpa makna. Prosesi manasik haji adalah sebuah drama kehidupan yang kaya makna, terutama makna sosial kultural.

Haji dimulai dengan niat ihram. Pakaian ihram mengandung pesan bahwa menjadi tamu Allah itu harus suci lahir batin, tidak egois, tapi emansipatoris dan siap memenuhi panggilan ketaatan (talbiyah) hanya kepada-Nya dan hanya berharap memperoleh ridha-Nya.
   
Thawaf bukan sekadar mengelilingi Ka'bah tujuh kali. Thawaf mendidik jamaah haji bergerak dinamis dalam orbit tauhid. Keteguhan dan konsistensi dalam bertauhid memacu gerak untuk maju dan terus maju.

Orang yang berthawaf adalah orang yang antikemunduran dan kejumudan. Thawaf menyadarkan pentingnya nilai progresivitas sosial yang bersendikan nilai-nilai tauhid.
   
Sa'i antara Shafa dan Marwa melambangkan etos dan disiplin kerja yang tinggi. Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail AS, memberikan keteladanan sebagai seorang ibu yang tidak pernah menyerah untuk berusaha demi masa depan anaknya yang saat itu menghadapi kesulitan.

Etos dan disiplin kerja itu harus dimulai dari shafa (ketulusan hati dan kejernihan pikiran). Etos dan disiplin sa'i harus maksimal agar mencapai Marwa (kepuasan hati, hasil maksimal atau prestasi tinggi).
   
Wuquf di Arafah adalah kesadaran terhadap pentingnya berhenti sejenak sambil makrifat diri untuk dapat merasakan kehadiran Allah SWT.

Sebagai lambang miniatur makhsyar di akhirat kelak, wukuf memberi kesadaran akan pentingnya introspeksi diri, pengenalan jati diri, dan yang lebih penting lagi "pengadilan terhadap diri sendiri". Jika selama ini manusia cenderung mengadili orang lain, atau tidak pernah berbuat adil,

Wuquf di Arafah adalah momentum yang tepat untuk mengambil keputusan yang arif: apakah selama ini yang berwukuf sudah benar-benar menjadi hamba-Nya ataukah masih menjadi hamba-hamba selain-Nya? Apakah yang berwukuf itu sudah meneladani akhlak Allah atau masih selalu mengikuti hawa nafwu dan setan?
   
Karena itu, di malam hari menuju Mina, para jamaah haji diminta bermabit di Muzdalifah (mendekatkan diri), sekali lagi bertaubat dan bermunajat kepada Allah sambil menyiapkan amunisi jihad di jamarat Mina.

Mina adalah simbolisasi cita dan cinta. Karena cinta-Nya yang tulus kepada Allah, Nabi Ibrahim rela mengorbankan anak kesayangannya, Ismail. Berjuang melawan setan dan hawa nafsu hanya bisa dimenangi oleh rasa cinta yang tulus kepada Allah.

Dengan cinta karena-Nya, Ibrahim akhirnya memperoleh cita-citanya: anaknya tidak jadi korban, karena manusia memang tidak pantas dikorbankan. Ismail adalah generasi masa depan, penerus perjuangan ayahnya.
    
Haji adalah ibadah yang paling multikultural; diikuti oleh aneka suku bangsa, bahasa, negara, adat-istiadat, watak, karakter, latar belakang sosial ekonomi dan budaya. 

Melalui syariat haji ini, Allah sungguh menitipkan pesan-pesan moral agar manusia saling bersikap emansipasi, toleransi, saling menghargai, cinta damai, disiplin dan etos kerja tinggi, dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia sebagaimana dipesankan dalam khutbah wada' Nabi Muhammad SAW.

Dengan memahami nilai-nilai moral haji tersebut, para jamaah haji diharapkan dapat mempertahankan kemabruran pascahaji! Semoga!

Redaktur : Damanhuri Zuhri