Selasa, 01 Oktober 2013

Semangat Berkurban Untuk Membangun Bangsa

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Semangat Berkurban Untuk Membangun Bangsa

Senin, 30 September 2013, 06:01 WIB

Penyembelihan hewan kurban pada hari raya Idul Adha 1433 H (ilustrasi).

 

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Dr HM Harry Mulya Zein

Dua pekan lagi kita umat Islam akan merayakan hari Raya kurban. Kurban  berasal dari kata Arab yakni Qurbah, yang bermakna mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam ritual Kurban, umat Islam juga melakukan udlhiyah atau juga berarti penyembelihan hewan kurban. Seluruh umat Islam di muka bumi melaksanakan penyembelihan hewan kurban seperti domba, sapi atau unta, sebagai tanda memenuhi panggilan Allah SWT.

 

Hari Raya Kurban juga merupakan refleksi atas catatan sejarah perjalanan kebaikan umat manusia pada masa lalu. Dalam konteks sejarah, Hari Raya Kurban berarti refleksi atas ketulusan dan loyalitas Nabi Ibrahim terhadap perintah-perintah Allah SWT.

 

Dalam konteks ini, mimpi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail, merupakan sebuah ujian Tuhan, sekaligus perjuangan maha berat seorang Nabi Ibrahim yang diperintah oleh Tuhannya melalui malaikat Jibril untuk mengurbankan anaknya. Peristiwa itu harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang menunjukkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepasrahan seorang Ibrahim pada titah sang pencipta.

 

Hampir seluruh ulama sepakat bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap Ismail adalah bukti penyerahan diri sepenuhnya terhadap perintah Tuhan. Oleh karenanya ajaran Nabi Ibrahim disebut sebagai ajaran Islâm atau (penyerahan diri). Seorang mufassir modern, Muhamad Ali (1874-1951) memaknai kurban sebagai tindakan kerendahan hati dan kesabaran dalam penderitaan dan ketakjuban kepada Ilahi. Dalam hal penyembelihan hewan sebagai simbol kurban.

 

Sementara intelektual Muslim asal Iran, Ali Syariati, dalam bukunya ‘Hajj’, ibadah ritual Kurban bukan sekadar memiliki makna bagaimana manusia (baca: umat Islam) mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama manusia, terutama mereka yang tergolong sebagai kaum dhuafa dan marginal.

 

Ali Syariati memaknainya sebagai sebuah perumpamaan atas kemusnahan dan kematian ego. Berkurban berarti menahan diri dari, dan berjuang melawan, godaan ego. Kurban atau penyembelihan hewan sebenarnya adalah lambang dari penyembelihan hewan (nafsu hewani) dalam diri manusia.

 

Ibadah Kurban juga memiliki pesan bahwa umat Islam diharuskan lebih mendekatkan diri dengan kaum dhuafa (kaum miskin) dan lebih mengutamakan nilai-nilai persaudaraan dan kesetiakawanan sosial.

 

Ibadah Kurban juga mengajarkan bahwa umat Islam tidak mengambil harta kekayaan orang lain. seruan “Korbanlah Ismalilmu” yang bernada perintah tidak hanya saran tetapi juga merupakan sebuah keharusan.

 

Dengan begitu, melalui berqurban, kita dapat mendekatkan diri kepada kaum dhuafa. Bila kita diberikan kenikmatan dari Allah, maka kita diwajibkan untuk berbagi kenikmatan dengan orang lain. Ibadah kurban mengajak mereka yang termasuk dalam golongan dhuafa untuk merasakan kenyang.

 

Atas dasar spirit itu, peringatan Idul Adha dan ritus kurban memiliki tiga makna penting sekaligus. Pertama, makna ketakwaan manusia atas perintah sang Khalik. Kurban adalah simbol penyerahan diri manusia secara utuh kepada sang pencipta, sekalipun dalam bentuk pengurbanan seorang anak yang sangat kita kasihi.

 

Dalam tataran sosial, spirit ibadah berqurban sebaiknya kita jadikan sebagai prinsip hidup dalam berbagai sesama umat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Spirit berqurban janganlah sekadar kita implementasikan hanya membeli hewan ternak lalu disembelih dan dagingnya dibagikan kepada kaum dhuafa. Sebaiknya lebih dari itu. Spirit berkurban harus kita jadikan spirit hidup sepanjang masa.

 

Bagi seorang aparatur pemerintah, spirit berqurban bisa dijadikan sebagai prinsip hidup dalam memberikan pelayanan publik terbaik dan menuju yang paling terbaik untuk masyarakat. Memberikan pelayanan publik kepada masyarakat tidak pandang bulu, suku, ras, agama, latarbelakang ekonomi serta tidak bermotifkan keuntungan.

 

Bagi seorang akademisi, pelajar dan mahasiswa, sebaiknya spirit berkurban bisa menjadi landasan dalam belajar, mengajar dan melakukan penelitian yang menghasilkan ilmu bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

 

Spirit berqurban bisa menjadi prinsip hidup sipapun dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Mulailah dari sekarang. 

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

Syukurnya Anggota Badan

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Syukurnya Anggota Badan

Jumat, 27 September 2013, 20:44 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Bahron Ansori
Suatu hari, seseorang bertanya kepada Abu Hazim, “Bagaimana bentuk syukurnya kedua mata, wahai Abu Hazim?”
Abu Hazim menjawab, “Jika engkau melihat kebaikan, engkau mengumumkannya (memberitahukan kepada yang lainnya). Dan, sebaliknya jika engkau melihat kejelekan, engkau menyembunyikannya.”

Laki-laki tadi bertanya lagi, “Bagaimana syukurnya kedua telinga?” “Jika engkau mendengar kebaikan maka engkau menjaganya. Dan, jika engkau mendengar kejelekan, engkau menolaknya.”

“Bagaimana syukurnya kedua tangan?” “Janganlah engkau mengambil apa-apa yang bukan milik keduanya. Dan, janganlah engkau tahan hak untuk Allah apa yang ada pada keduanya.”

Lelaki itu bertanya lagi, “Bagaimana syukurnya perut?” Abu Hazim menjawab, “Jadikanlah makanan di bawahnya dan ilmu di atasnya.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana syukurnya kemaluan?”

Ia menjawab dengan membacakan ayat, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS al-Mukminun: 5-7).

Lelaki itu bertanya lagi, “Bagaimana syukurnya kedua kaki?” Abu Hazim pun menjawab, “Jika engkau mengetahui suatu mayat yang engkau iri kepadanya (karena ketika hidupnya melakukan ketaatan kepada Allah) maka pergunakan keduanya sebagaimana dia amalkan.”

“Jika engkau tidak bersyukur dengan seluruh anggota badanmu maka perumpamaannya adalah seperti seseorang yang mempunyai pakaian, lalu dia mengambil ujungnya dan tidak memakainya. Maka pakaian itu tidak memberikan manfaat sedikit pun kepadanya untuk menghindari panas, dingin, salju, dan hujan.”

Sebagian ulama telah menulis surat kepada salah seorang saudaranya, “Sungguh kami telah berada di pagi hari dengan nikmat-nikmat dari Allah yang tidak dapat dihitung bersamaan dengan banyaknya maksiat yang telah kami lakukan. Maka, kami tidak tahu mana di antara keduanya yang kami bisa syukuri. Apakah keindahan (yaitu kebaikan-kebaikan) yang telah dimudahkan bagi kita ataukah kejelekan-kejekan yang telah ditutupi?”

Subhanallah, seorang Muslim tidak boleh sekejap pun untuk melupakan syukur kepada Allah. Mengapa? Tidakkah kita sadari betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita meski kita sering berbuat maksiat.

Bahkan, Allah senantiasa menutup aib-aib kita walau kita sering memaksiati-Nya. Untuk itu, bersegeralah kembali dan tobat kepada-Nya. Mintalah pada-Nya agar kita dijadikan sebagai orang-orang yang pandai bersyukur.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

Menakar Sabar

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Menakar Sabar

Jumat, 27 September 2013, 10:56 WIB

Sabar (ilustrasi).

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ina salma Febriany 
Sabar. Perpaduan lima huruf yang mudah dilontarkan, namun cukup sulit dipraktikkan. Sabar dalam makna sebenarnya ialah bukan diam tanpa usaha, putus asa tanpa mau bangkit dan berprasangka baik pada Allah. Hakikat sabar ialah ‘dinamis’ dan bergerak menuju perubahan. Sabar tidak statis yang jika kita diam ketika ‘dicoba’ oleh Allah, maka akan sulit menemukan jalan keluar.

Hidup memang menyisakan misteri, sebagai manusia biasa, kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidup ini meski sedetik kemudian. Jangankan kita, Nabi Muhammad Saw saja yang diberikan gelar kehormatan sebagai penerima wahyu Al-Quran, tidak mengetahui sekecilpun tentang peristiwa hari kiamat, pun tentang diri beliau sendiri.

Kendati demikian, bukan berarti dalam ‘ketidaktahuan’ kita akan ilmu Allah, membuat kita pasrah berusaha. Allah memiliki cara yang tak terhingga dan unik luar biasa dalam rangka mengangkat derajat manusia.    

Salah satu contoh dari cobaan itu misalnya saja kecelakaan. Secara lahiriah, mungkin kita akan beranggapan bahwa kecelakaan itu terjadi lantaran kurangnya kewaspadaan dalam berkendara. Namun sebenarnya, ada ‘makna’ tersirat dari cobaan itu. Mungkin teguran, atau mungkin pula cobaan Allah yang tak lain adalah untuk mendidik kita untuk naik ke tingkat sabar yang lebih baik.

Berdiskusi tentang sabar, tak lepas dari kisah-kisah inspiratif para Nabi utusan Allah dalam mengemban risalah-Nya. Contoh dari sekian Nabiyallah yang dikaruniakan kesabaran itu ialah Nabi Ya’qub as, atas kerinduan pada Yusuf as, menyebabkan kedua mata beliau buta karena terus menerus menangis. Atau kisah Nabi Ayyub, yang Allah ‘coba’ dengan hilangnya harta benda lalu penyakit kulit menahun. Dan terakhir, Rasulullah SAW, suri tauladan kita—berkat kesabaran beliau—islam bisa tumbuh dan berkembang hingga seperti masa ini.

Berbagai kalangan menyoal sabar. Sabar sendiri, menurut kaum sufi terbagi atas tiga tingkatan yaitu mutashabbir fillah yang berarti seseorang yang belum sepenuhnya sabar. Kesedihan terus menimpanya saat Allah memberikan cobaan. Kedua, Shaabir Fillah wa Lillah, sabar tingkat dua ini dimiliki oleh sebagian orang yang sudah dapat bersabar (meski belum sepenuhnya) dengan tetap mengeluh atas ketetapan-Nya. Ketiga, Shabbar—nah, sabar jenis ketiga inilah sabar yang terbaik di antara dua jenis tersebut di atas karena orang yang telah memiliki sifat ini, mereka mengurangi ‘keluhan’ dan sedih yang berlebihan, saat Allah menyapanya dengan cobaan.

Ibn Qayyim AL-Jauzi menggolongkan sabar kedalam dua jenis yaitu shabru ‘alaa Allah (Uluhiyyah) yakni bersabar karena mengingat Allah-lah yang Maha Menciptakan kita sepaket dengan cobaan-cobaan-Nya. Sabar yang kedua ialah Shabru Billah (Rubuubiyyah) yaitu bersabar dengan meyakini bahwa ada ‘didikan’ Allah yang mengandung hikmah atas cobaan itu.


Siapapun yang menggolongkan dan apapun definisi dari makna ‘sabar’, sejatinya sabar hanya menyiratkan satu hal: menakar sabar itu dalam diri kita, mengoreksi diri, apakah selama ini kita telah benar-benar bersabar atas ujian-Nya? Ataukah sabar kita hanya sampai di mulut dan belum turun ke hati? Atau bahkan kita lebih sering berprasangka atas ujian-Nya, kendati sebenarnya kita tahu ada ‘hikmah’ dalam setiap kejadian yang tidak diperkenankan.

“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik," begitu Allah ungkapkan dalam  Qs Al-Ma'arij ayat 10. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah Saw bersabda, "Siapa yang sabar saat ditimpa suatu cobaan, atau sampai ia ditusuk duri sekalipun, maka, surga untuknya,” (HR Bukhari Muslim)

Menakar sabar berarti menhadirkan seluruh hati, pikiran, jiwa dan raga untuk lebih meyakini, bahwa Allah Swt, tidak mungkin menghendaki sesuatu yang buruk bagi setiap hamba-Nya. Dia selalu memberikan apa yang kita inginkan di saat yang tepat dengan cara dan waktu yang telah ditetapkan-Nya.

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

Tiga Pengawas

Visit waysofmuslim.blogspot.com

 

BY JAMILAZZAINI ⋅ SEPTEMBER 19, 2013 ⋅ 

Saat ini penggunaan kamera CCTV (closed-circuit television) sedang ngetrend. Orang-orang yang berbuat kejahatan akan mudah tertangkap karena kamera CCTV tersebar dimana-mana. Kamera ini merekam gerak-gerik kita di ruang publik. Hasil rekamannya bisa diputar ulang dan menjadi salah satu barang bukti di pengadilan.

Dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya semua perkataan dan perbuatan kita juga terlihat dan terekam dengan sempurna. Siapakah yang melihat dan merekam semua perkataan dan perbuatan kita itu? Pertama, Allah SWT. Dia Maha Melihat, Maha Tahu dan Maha Mendengar.

Allah SWT dapat melihat seekor semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di malam yang gelap gulita. Dia juga tahu setiap daun yang jatuh di muka bumi. Allah SWT juga mendengar apa yang terbersit di dalam pikiran dan hati kita. Dia adalah CCTV yang maha sempurna.

Kedua, Malaikat. Kemanapun kita pergi selalu ditemani oleh dua orang Malaikat yaitu Roqib dan Atid. Semua kebaikan dan keburukan yang kita lakukan dicatat dan direkam dengan sangat baik oleh kedua malaikat ini.

Mereka yang cerdas akan berusaha membuat malaikat pencatat kebaikan (Roqib) sibuk bekerja. Di sisi lain, orang cerdas akan berusaha dengan sekuat tenaga agar malaikat pencatat keburukan (Atid) santai dan sedikit bekerja. Caranya? Orang cerdas akan menyibukkan diri dengan berbuat kebaikan dan menghindari sekuat tenaga sengaja berbuat keburukan.

Ketiga, anggota tubuh kita. Di akhirat kelak, ada masa dimana mulut kita akan dikunci. Lantas siapa yang bicara menjadi saksi? Anggota tubuh kitalah yang bicara. Kaki akan menjadi saksi dan berkata kemana saja ia pernah melangkah. Tangan juga akan berbicara apa saja yang pernah dilakukannya.

Kamera CCTV bisa rusak atau rekamannya tidak sempurna. Berbeda dengan tiga pengawas yang saya sebutkan di atas. Ketiganya melakukan dengan sangat sempurna. Tidak ada yang terlewat, tidak ada yang tidak tercatat dan tidak terekam.

So, waspada dan berhati-hatilah karena tiga pengawas itu selalu menyertai kita dimanapun dan kapanpun. Masih berani sengaja berbuat maksiat? Bila jawabannya masih, maka saya berkata singkat saja, "Sungguh terlalu…"

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

 

http://www.jamilazzaini.com/tiga-pengawas/

 

 

Disclaimer:
The contents of this email, together with its attachments, may contain confidential information belong to Virginia Indonesia Co., LLC ("VICO") and Virginia Indonesia Co., CBM Limited  ("VICO CBM"). If you are not the intended recipient, please notify the sender immediately and delete this e-mail from your system, and you should not disseminate, distribute, copy or otherwise use this email or any part thereof.

Menjaga Allah

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Menjaga Allah

Kamis, 26 September 2013, 15:46 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: TGH Habib Ziadi
“Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu….” (HR Tirmidzi).

Kalimat emas di atas adalah potongan dari pesan Nabi SAW kepada sahabat kecilnya, Abdullah bin Abbas. Melalui putra pamannya itu, Nabi SAW mengajarkan kita semua, bila kita menjaga Allah sebaik-baiknya, Allah pasti akan menjaga kita dengan penjagaan yang melebihi upaya kita.

Menjaga Allah, menurut para ulama, artinya menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah-perintah, dan larangan-larangan Allah.

Lebih jauh lagi, bentuk penjagaan itu dengan berkomitmen untuk menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batasan yang dilarang oleh-Nya. Jika semua itu dikerjakan, maka ia termasuk orang yang menjaga Allah sebaik-baiknya.

Termasuk di dalam upaya menjaga Allah adalah menjaga lisan dari mengucapkan kata-kata kotor, melakukan provokasi, sumpah palsu, menggunjing, dan berbohong.

Menjaga perut dari makan dan minum barang-barang yang haram atau syubhat. Menjaga kemaluan agar tidak terjerembab dalam hubungan terlarang.

Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang bisa menjaga di antara dua rahangnya (mulut) dan dua kakinya (kemaluan), maka dia masuk surga.” (HR Hakim).

Abu Idris al-Khaulani berujar, “Titah yang pertama kali disampaikan Allah kepada Adam AS saat turun ke dunia adalah hendaklah dia menjaga kemaluannya. Dikatakan kepadanya, ‘Janganlah kamu menggunakannya melainkan kepada yang halal bagimu.’”

Orang yang menjaga Allah berarti dia memuliakan-Nya, menjaga hak-Nya, selalu mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, serta mencintai-Nya dan menjadikan cinta tersebut sebagai dasar hidupnya. Hidupnya hanya untuk meraih ridha-Nya.

Jika seseorang telah memuliakan Allah dan memberikan hak Allah, berarti dia telah berserah diri, tawakal, ridha dengan ketetapan-Nya, bersedia dibimbing oleh-Nya. Dia juga tidak akan menyalahi perintah-Nya, tidak bersekutu untuk memerangi agama-Nya dan syiar-syiar-Nya.

Konsekuensi dari menjaga Allah adalah Allah akan menjaga hamba-Nya tersebut. Menurut Ibnu Rajab, penjagaan Allah itu mengandung dua unsur. Pertama, Allah akan menjaga hamba-Nya dengan memenuhi kebutuhan dunianya, seperti terjaga badan, anak, keluarga, dan hartanya.

Kedua, Allah akan menjaga agama dan imannya. Hamba itu terjaga dari perkara syubhat yang menyesatkan dan dari syahwat yang diharamkan.

Agamanya terjaga, hingga hamba itu meraih husnul khatimah saat menutup matanya di akhir hayatnya. Penjagaan kedua ini lebih mulia dibanding yang pertama.

Betapa luar biasa balasan dan penghargaan Allah kepada hamba-Nya. Kita sadari, betapa pun upaya kita menjaga Allah, tetap saja kita tidak akan pernah bisa melakukan yang terbaik sesuai dengan kehendak-Nya. Tapi, Allah selalu membalas dengan balasan terbaik yang sejatinya itu belum pantas untuk kita.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

Keajaiban Doa

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Keajaiban Doa

Kamis, 26 September 2013, 11:25 WIB

Orang berdoa

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh M Husnaini*
Namanya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi Al-Bukhari (196 H/810 M-256 H/870 M). Siapa saja yang belajar hadis pasti mengenal ulama bernama populer Imam Bukhari ini.

Lahir di Bukhara, Uzbekistan, dia adalah ahli hadis termasyhur sepanjang masa. Tetapi, tahukah Anda bahwa ulama yang hafal puluhan ribu hadis beserta detail sanadnya ini pernah mengalami kebutaan sewaktu kecil?

Adalah sang ibunda yang begitu sedih melihat kondisi Bukhari kecil. Ibnu Hajar dalam ‘Hadyu As-Sari’ meriwayatkan bahwa ibunda Imam Bukhari tiada henti berdoa untuk memohon kesembuhan putranya. Allah akhirnya mengabulkan doanya.

Pada suatu malam, ibunda Imam Bukhari bermimpi melihat Nabi Ibrahim yang berkata, “Hai Fulanah, sungguh Allah telah mengembalikan penglihatan putramu karena seringnya engkau berdoa.” Pagi harinya, ibunda Imam Bukhari menyaksikan bahwa penglihatan putranya telah kembali normal.

Subhanallah. Itulah keajaiban sebuah doa. Simak pula kisah yang dialami Nabi Zakaria (91 SM-1 M) sebagaimana dituturkan Al-Qur’an. Dalam usia senja, Nabi Zakaria gelisah karena belum juga dikaruniai keturunan. Kendati demikian, pantang bagi Nabi dan Rasul Allah ke-22 ini patah arang. Siang dan malam dia terus melabuhkan doa kepada Allah supaya memberinya seorang putra sebagai pewaris obor perjuangan.

“Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan telah menyala uban di kepalaku, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan sungguh aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahkanlah aku seorang putra dari sisi Engkau, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub. Dan jadikan dia, Ya Tuhanku, seorang yang diridai.” (QS Maryam: 4-6).

Ajaib. Allah menjawab doanya. Padahal, usia Nabi Zakaria saat itu sudah mencapai sembilan puluh tahun dengan kondisi istri, Hannah, yang mandul. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Setiap doa yang keluar dari ketulusan nurani dan kebersihan jiwa akan mengubah segala yang tampaknya tidak mungkin menjadi mungkin. Inilah kabar bahagia bagi kaum beriman. Apalagi Allah sendiri telah menegaskan akan mengabulkan setiap doa hamba sepanjang dia mau taat kepada-Nya.
 
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, jawablah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah: 186).

Memahami ayat di atas, tentu tidak alasan bagi kaum beriman untuk enggan berdoa. Jangan sampai ada anggapan bahwa peran doa sangat sedikit dalam pencapaian sebuah keberhasilan. Itulah pola pikir orang yang sombong dan tidak tahu diri. Merasa diri hebat sehingga perlu mengesampingkan campur tangan Allah dalam setiap tarikan gerak dan langkah. Termasuk pola pikir picik juga ketika orang mau berdoa tetapi minus kemantapan bahwa doanya itu akan didengar Sang Maha Penentu Keputusan.

Allah pasti mendengar setiap keluh kesah, sekalipun yang tidak pernah terucap. Tidak ada relung jiwa manusia yang tidak mampu ditembus Allah. Jarak antara Allah dan kita sangat dekat, melebihi urat leher. “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui segala yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS Qaf: 16).

Itulah kenapa Islam adalah agama yang sangat kaya doa. Tiada laku kehidupan Muslim yang tidak dimulai dan dipungkasi dengan doa. Menurut Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, ada dua macam doa: doa ibadah (penghambaan) dan doa masalah (permintaan). Seluruh ibadah dalam rukun Islam hakikatnya adalah doa. Karena, rangkaian gerakan dan ucapan di dalamnya berintikan permohonan rida Allah. Paketnya langsung dari nas. Kita tinggal pakai, tanpa boleh berkreasi. Lain lagi dengan doa masalah, seperti permintaan pengampunan, kebahagiaan, belas kasih, penghidupan, kesuksesan, dan semacamnya. Meskipun bacaan dari Al-Qur’an dan hadis diutamakan, tetapi kita masih boleh berkreasi dengan bahasa sendiri. Terkabulnya doa jenis ini sangat bergantung kualitas doa ibadah kita.

Masih banyak kisah keajaiban doa yang tidak mungkin dikutip semua di sini. Atau boleh jadi malah sudah Anda alami sendiri. Pastinya, tidak ada makhluk di kolong jagat ini yang bisa mengerahkan secuil daya dan upaya sekalipun, tanpa belas kasih dan uluran pertolongan Allah. Tantangan Allah sebagaimana disampaikan kepada kaum kafir Makkah sudah jelas, “Katakanlah, ‘Panggillah mereka yang kalian anggap tuhan selain Allah, niscaya mereka tidak akan memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari kalian dan tidak pula memindahkannya’.” (QS Al-Isra’: 56).

Alangkah lebih mulia sekiranya kita sanggup merenungkan dan mengamalkan firman Allah berikut. “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian membuat kerusakan di bumi, sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sungguh rahmat Allah itu amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-A’raf: 55-56).


*Penulis Buku ‘Menemukan Bahagia’. Email: hus_surya06@yahoo.co.id

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

Rabu, 25 September 2013

Kemengertian Allah

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Kemengertian Allah

Rabu, 25 September 2013, 22:29 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh; Nurlaela Wahidah
“Diwajibkan atasmu jihad dan jihad itu berat bagimu. Bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu lebih baik bagimu. Bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah: 216).

Manusia sering merasa mengerti seutuhnya diri mereka dan mengetahui kebutuhan hidupnya sehingga akal dan perasaan mereka jadi tolok ukur untuk memenuhi kepentingannya itu.

Apa yang dianggap baik oleh akal dan perasaan, itulah yang terbaik. Lalu, apa yang dianggap buruk maka itulah pilihan buruk baginya.

Sesungguhnya, Islam tidak mengajarkan demikian. Standar baik dan buruk itu bukan saja otoritas akal dan perasaan. Positif dan negatif atau baik buruknya sesuatu itu sepenuhnya urusan Allah.

Akal dan perasaan tidak bisa jadi hakim satu-satunya. Sebab, wahyulah yang akan menuntun akal dan perasaan itu menilai baik atau tidaknya suatu perbuatan agar kehidupan tidak merugi.

Misalnya, seperti kasus di atas. Jihad sebagai sebuah kewajiban terhadap agama memang perintah yang sangat berat. Di dalam jihad (perang), ada mobilisasi massa dan pengumpulan dana besar.

Jihad membuat seseorang berpisah dengan keluarga dan daerah asal. Akibat jihad, anggota tubuh mengalami luka, teramputasi, bahkan nyawa melayang.

Namun, di balik seruan itu dan berkat amaliah jihad, negeri terbebas dari kezaliman.  Harta dan harga diri manusia terjaga. Belum lagi pahala yang besar di akhirat, bahkan bagi yang wafat digelari syuhada.

Banyak hal dalam perintah agama yang tidak sesuai dengan selera manusia. Ibadah-ibadah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas keimanan sudah banyak ditinggalkan manusia.

Jangankan berjihad, shalat atau puasa saja terasa berat bagi sebagian orang. Perkara ibadah sudah dianggap memberatkan.

Manusia lebih suka bersantai-santai memuaskan selera hidup dan berlepas diri dari segala aturan yang membelenggu kebebasannya.

Segala sesuatu yang diperintahkan Allah pasti memiliki maslahat besar di dalamnya. Adapun segala sesuatu yang dilarang Allah pasti mengandung mudarat yang berbahaya. Maslahat atau mudarat itu berefek bagi jasmani atau rohani, bahkan bisa pada keduanya sekaligus.

Allah SWT mengatur segala sesuatu ini dengan ilmu-Nya. Ilmu Allah itu tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.
Namun, Kemengertian dan Kemahatahuan Allah itu di atas segala sesuatu.

Allah SWT itu lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya melebihi pengetahuan hamba itu terhadap dirinya sendiri.

Muadz bin Jabal RA berkata, “Jika seorang Mukmin diuji dengan sakit, dikatakan kepada malaikat sebelah kiri, 'Angkat penamu!' Dikatakan pula kepada malaikat sebelah kanan, 'Tulislah untuk hamba-Ku sebaik amal yang dia kerjakan saat sehatnya.'”

Allah telah mencukupi kita dengan berbagai macam hal dalam hidup ini. Dia memberi melebihi yang kita minta. Dia mencukupi di luar kebutuhan kita. Dia memuluskan langkah-langkah kita.

Dia menutupi kekurangan-kekurangan kita rapat-rapat. Bahkan, Dia mengampuni dosa-dosa kita meskipun dengan amal kita yang sedikit.

Yang Allah minta hanyalah agar kita pandai bersyukur. Syukuri segala keadaan dan gunakan segala fasilitas dari Allah di jalan yang diridhaiNya.

Demikianlah banyak hikmah positif di balik setiap kondisi kita. Kemengertian Allah atas hamba-Nya tidak bisa dimungkiri.

Seorang hamba hanya perlu bersyukur pada keadaannya dan berpikir positif (husnudzan) pada Allah. Kondisi di mana kita berada saat ini menunjukkan itulah yang terbaik bagi kita menurut ilmu Allah.

Redaktur : Damanhuri Zuhri