Kamis, 19 September 2013

Silaturrahim

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Silaturrahim

Rabu, 18 September 2013, 00:08 WIB

Silaturahim (ilustrasi).

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Usataz Aslih Ridwan, MA
Berakhirnya bulan Syawal bukan berarti berakhir pula silaturrahim. Hakikat silaturrahim bukan dengan orang yang berbuat baik dengan kita. Karena hal itu sangatlah mudah, justru yang terberat adalah menyambungnya apabila terputus. Idzaa quthi’at rohimuhu washalahaa (HR Bukhori no. 5991)

Seorang laki-laki menemui Rasulullah SAW, kemudian dia berkata, “Ya Rasulullah, aku mempunyai karib kerabat, aku menyambung silaturrahim dengan mereka, namun mereka memutuskannya. Aku berbuat baik kepada mereka, namun mereka berbuat jahat kepadaku, aku sabar terhadap mereka. Namun mereka jahil kepadaku.”

Atas pertanyaan tersebut Rasulullah saw bersabda, “Jika keadaannya seperti yang engkau katakan maka seolah-olah menyuapi mereka dengan pasir yang panas, engkau senantiasa akan mendapat bantuan dari Allah dalam menghadapi mereka selama dalam keadaan demikian.” (HR. Muslim no. 2558)

Makna sabda Nabi tusiffuhumul malla atau menyuapi mereka dengan pasir panas, disebabkan dosa yang mereka dapatkan karena perbuatan mereka. Adapun makna zhahiirun adalah mendapat pertolongan dari Allah dalam menghadapi mereka dan menolak gangguan mereka.

Sedangkan makna maa dumta ‘alaa dzaalika (selama engkau dalam kondisi seperti itu) sangat jelas menunjukkan anjuran untuk menyambung silaturrahim kepada orang yang karakternya seperti itu dan tidak membalasnya dengan perbuatan yang sama.

Dalam konteks kekinian, menyambung silaturrahim seperti seorang laki-laki yang bertanya pada hadits tersebut, sangat mendesak untuk dilakukan karena realitas kehidupan umat Islam saat ini, ukhuwah Islamiyah belum membumi, baru pada tataran wacana.

Terjadinya perpecahan dan permusuhan di kalangan umat Islam itu sendiri menjadi bukti nyata. Padahal media untuk bersatunya umat Islam sudah sangat tersedia.

Seperti kalimat syahadat yang menghapus diskriminasi, shalat berjama’ah dengan rapatnya barisan ternyata belum serapih hubungan solidaritas yang terjalin di antara muslim ketika di luar shalat berjama’ah. Ibadah haji yang merupakan muktamar dunia ternyata belum mampu membangun persaudaraan muslim sedunia. 

Manakala ukhuwah Islamiyah terwujud maka akan tampaklah seperti satu tubuh. Jika bagian satu tubuh sakit maka semua bagian yang lain merasakan hal yang sama.

Dengan sangat indah Rasulullah SAW melukiskan ukhuwah dalam sabdanya, “Perumpamaan mukmin satu dengan yang lainnya dalam rasa cinta kasih sayang dan keberpihakannya seperti tubuh yang satu. Jika satu bagian tubuh merasa sakit maka semua bagian tubuh lainnya ikut merasakan sakit, tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Lima larangan dalam Al Qur’an yang harus dijauhi umat Islam saat ini. Pertama, tidak berbantahan (adamuttanazu). QS. Al Anfal : 46.

Kedua, tidak memperolok-olok (adamussukriyah) QS. Al Hujurat : 11. Ketiga, tidak mencari-cari kesalahan (adamut-tajassus) QS. Al Hujurat : 12. Keempat, tidak menggunjing (adamul ghibah) QS. Al Hujurat : 12. Kelima, tidak memanggil panggilan buruk (tarkut tanabus) QS. Al Hujurat : 11

Saat ini, kekuatan umat Islam terpecah. Disorientasi antar golongan semakin terlihat jelas. Bukan tujuan yang menjadi hal paling utama justru sarana yang menjadi tujuan.

Tujuan perjuangan Islam adalah untuk membumikan Islam dan menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya sembahan apapun wadah dalam perjuangannya.

Tetapi ini justru kebalikannya, sarana dan wadah menjadi tujuan sehingga antara yang satu kelompok dengan kelompok yang lain saling menjatuhkan, merasa paling superior, paling baik dan hebat di antara yang lain.

Di saat saudara terjatuh seharusnya dinasihati serta dibangkitkan semangatnya bukan disiarkan aibnya. Mari kita mulai dengan membangun persaudaraan melalui gerakan silaturrahim agar kita mendapatkan zhahirun, kalau tidak? Akan mendapat tusiffuhumul malla (disuapi pasir panas). Semoga.

*Ketua Umum GPMI (Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia)

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

Doa Lelaki Buta

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Doa Lelaki Buta

Kamis, 19 September 2013, 13:52 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Yunahar Ilyas
Namanya Abdullah, putra Qais ibn Zaid, paman Khadijah, istri Nabi SAW. Ibunya bernama Atiqah binti Abdullah. Karena Abdullah, putra yang buta sejak lahir, ibunya dijuluki Ummu Maktum. Abdullah lebih dikenal dengan nasab ibunya dibanding bapaknya. Jadi, namanya Abdullah ibn Ummi Maktum.

Siapa pun yang membaca asababun nuzul surah Abasa pasti kenal dengan Abdullah ibn Ummi Maktum. Empat belas ayat diturunkan kepada Rasulullah SAW dan dibaca terus sampai hari Kiamat datang.

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.  Karena, telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya…”

Nabi ditegur langsung oleh Allah SWT karena mengabaikan Abdullah ibn Ummi Maktum yang datang memotong pembicaraan Rasulullah SAW dengan Utbah ibn Rabiah, Syaibah ibn Rabiah, Amr ibn Hisyam, Umayyah ibn Khalaf, dan Walid ibn Mughirah.

Nabi sangat berharap para pemuka Quraisy itu masuk Islam. Tetapi, pembicaraannya terpotong oleh kedatangan Ibn Ummi Maktum, yang karena tidak dapat melihat tidak mengetahui situasi Nabi.

Setelah peristiwa itu, Nabi sangat menghormati Ibn Ummi Maktum. Tatkala sudah di Madinah, Nabi menunjuk Ibn Ummi Maktum menjadi muazin berdua dengan Bilal ibn Rabbah.

Pada Ramadhan, Bilal mengumandangkan azan pertama membangunkan kaum Muslimin untuk makan sahur dan Ibn Ummi Maktum pada azan kedua memberitahukan bahwa fajar sudah menyingsing, tanda puasa hari itu sudah dimulai.

Abdullah ibn Ummi Maktum sangat gembira dan bahagia menjalankan tugas sebagai muazin. Namun, yang membuat dia sedih adalah setelah datang seruan untuk jihad fisabilillah, dia tidak dapat berangkat karena buta. Apalagi setelah Perang Badar, turun ayat yang memuji orang-orang yang pergi berperang.

Suatu hari dia berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, seandainya saya tidak buta tentu saya pergi berperang.” Sejak itu, dia selalu memohon kepada Allah agar menurunkan ayat mengenai orang-orang yang uzur seperti dirinya.

Allah mengabulkan doanya dengan menurunkan surah an-Nisa ayat 95, “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.”

Walaupun permohonannya sudah dikabulkan Allah dengan mengecualikan orang-orang yang uzur seperti dirinya, Abdullah ibn Ummi Maktum tetap tidak puas.

Dia tetap ingin pergi berperang. Keinginannya baru terkabul pada zaman Khalifah Umar ibn Khattab. Di bawah panglima Saad ibn Abi Waqqash, dia ikut dalam Perang Qadisiyah menaklukkan Persia.

Tugasnya hanya memegang bendera Islam dan berdiri di tengah-tengah pasukan. Dia pun gugur dalam perang tersebut. Itulah Abdullah ibn Ummi Maktum. Sekalipun buta tetapi mempunyai kemauan yang sangat keras.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

Petugas Kebersihan Masjid

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Petugas Kebersihan Masjid

Selasa, 17 September 2013, 14:12 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Mahmud Yunus
Menjadi petugas kebersihan (cleaning service) lazimnya dipandang sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan. Sehubungan dengan itu, khususnya bagi angkatan kerja yang berijazah sekolah menengah, apalagi berijazah perguruan tinggi, tidak termasuk dalam daftar pilihan karier mereka sama sekali.

Terhadap murid-murid saya yang kala itu sebentar lagi akan ujian, saya pernah berbincang-bincang seputar harapan-harapan mereka setelah lulus SMA.

Mereka pada umumnya berharap dapat melajutkan studi dan diterima di perguruan tinggi favorit di dalam maupun luar negeri. Meski pun kelihatan kurang pede, beberapa di antara mereka secara terus-terang menyatakan ingin menjadi dokter, apoteker, atau profesi lainnya yang berkaitan dengan kesehatan.

Meski pun erat kaitannya dengan kesehatan, faktanya tak seorang pun menyatakan bercita-cita menjadi petugas kebersihan masjid.   

Ketika saya tanya apa alasannya, dengan sedikit malu-malu mereka mengatakan ingin mendapat penghasilan yang baik dan hidup sejahtera.

Meskipun erat kaitannya dengan menolong orang lain, terutama di daerah tertinggal, terpencil, dan terluar, faktanya tak seorang pun menyatakan bercita-cita mewakafkan jiwa dan raganya untuk menolong mereka.

Dalam pandangan Islam, petugas kebersihan masjid posisinya sangat strategis. Mereka bisa lebih mudah dibukakan pintu-pintu kebaikan. Bahkan, bukan sekadar penghasilan yang baik dan hidup sejahtera di dunia.

Mereka sejatinya para investor dunia akhirat. Para investor dunia berpeluang mendapatkan keuntungan dunia. Para investor dunia akhirat berpeluang mendapatkan keuntungan dunia akhirat.

Para investor dunia akhirat tersebut tentunya lebih menguntungkan (profitable). Katakanlah, walaupun keuntungan itu tidak didapatkan di dunia, mereka masih berpeluang mendapatkannya di akhirat.

Hemat saya, siapa pun yang memperhatikan petugas kebersihan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dapat merasakan kekaguman tersendiri. Aktivitas mereka sehari-hari dapat dijadikan sebagai bahan renungan sangat berharga.
Mengenakan seragam warna hijau daun, mereka siap melaksanakan tugasnya. Mereka datang ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dari berbagai negara, tak terkecuali dari Indonesia.

Saya tak tahu berapa jumlahnya dan saya tak berusaha mencari tahu soal itu. Tapi, sekitar puluhan hingga ratusan petugas kebersihan diturunkan ke lapangan ketika jeda waktu shalat berjamaah.

Mereka mengepel lantai masjid, mengepel lantai di sekitar keran air zamzam yang acapkali basah, membersihkan karpet (dari debu), sesekali membantu mengambilkan air zamzam untuk jamaah yang meminta bantuan, dan seterusnya.

Mereka terlihat bercakap-cakap antara sesama mereka menggunakan bahasa Arab dengan lancar. Mereka terlihat berjamaah shalat fardu saban waktu. Mereka mendapatkan gaji cukup besar dari muassasah al-haramain.

Mereka terlihat menerima riyal demi riyal dari jamaah yang ingin mendermakan sebagian harta yang dititipkan Allah SWT kepadanya. Di samping itu, mereka berpeluang melaksanakan tugas pokoknya sambil membaca shalawat, membaca tasbih, membaca tahlil, membaca Alquran, dan sebagainya.

Saya membayangkan mereka begitu leluasanya mengerjakan bermacam-macam amalan kebaikan di Masjidil Haram dan atau di Masjid Nabawi. Sebab, sekecil apa pun amalan kebaikan di dua masjid yang dimuliakan tersebut tentu bakal dilipatgandakan pahalanya.

Mahabesar Allah yang telah menganugerahkan kemudahan kepada mereka untuk bermukim di al-haramain. Saya kira, mereka tergolong segelintir orang yang sangat beruntung.

Jamaah haji dan atau umrah asal Indonesia ada beberapa orang yang sengaja bercakap-cakap dengan petugas kebersihan berseragam hijau daun tersebut.

Menanyakan daerah asal mereka, bagaimana caranya mereka bisa bekerja di al-haramain. Bahkan, ada juga yang menanyakan penghasilan mereka per bulan.

Mereka konon mendapatkan gaji yang cukup besar, sehingga bisa menabung. Dan, pada musim haji, khususnya mereka yang berasal dari Indonesia, biasanya bisa mengumpulkan riyal dalam jumlah besar.

Namun, sekali lagi yang jauh lebih berharga mereka telah diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mengerjakan bermacam-macam kebaikan di Masjidil Haram dan atau Masjid Nabawi.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

Rabu, 18 September 2013

Spirit Haji Menuju Kebahagiaan Sejati

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Spirit Haji Menuju Kebahagiaan Sejati

Rabu, 18 September 2013, 12:36 WIB

Jamaah calon haji siap naik pesawat menuju Tanah Suci

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr  HM Harry Mulya Zein 
Labaik Allahumma Labaik. Panggilan haji kembali tiba. Jamaah haji Indonesia sudah mulai diberangkatkan menuju tanah suci Makkah serta menjadi tetamu Allah SWT.  Momen haji adalah momen yang mampu memberikan inspirasi bagi kemajuan kemanusiaan.

Proses ini ditandai dengan jutaan manusia berbondong-bondong ke baitul Ka’bah, simbol pemersatu umat Islam. Dalam ritual haji, manusia diperlakukan secara sama dan adil, tanpa melihat ras, suku dan latarbelakang dunia lainnya. Harkat dan martabat mereka sebagai manusia adalah sama. Hak dan kewajiban mereka sebagai hamba juga sama. Tujuan dan arah perjuangan hidup mereka hakikatnya juga sama, yaitu berusaha meraih kebahagiaan yang sejati abadi.

Itulah sesungguhnya yang menjadi hikmah dan tujuan utama di syariatkannya ibadah haji. Dalam bahasa Alquran, hikmah dan tujuan ibadah haji - yang merupakan puncak tertinggi ajaran rukun Islam – diungkapakan dengan istilah liyasyhaduu manaafi`a lahum, yaitu untuk “menyaksikan” kemanfaatan-kemanfaatan duniawi dan ukhrawi (kebahagiaan sejati) yang mahadasyat yang akan terus mengalir dan menjadi “milik” mereka yang berhasil menunaikan haji secara mabrur (QS. Al-Hajj 22:28)

Secara etimologis, sebagaimana dikemukan Ibn Mandzur dalam kitabnya, Lisaan al-Arab, kata hajj antara lain berarti “menuju pada target tertentu” (al-qashd). Lebih spesifik lagi, al-Ishfahani dalam kitabnya, Mufradaat Alfaadz al-Qur`aan, menjelaskan pengertian hajj sebagai “menuju kepada target tertentu untuk dikunjungi” (al-qashd li al-ziyarah). Dari situlah muncul istilah haji dalam Islam yang berasal diambil dari kalimat hajj al-bait atau “berkunjung ke baitullah”, yaitu kunjungan khusus ke Masjidil Haram dengan tujuan menunaikan manasik haji (QS. Ali `Imran 3:97).

Ditilik dari segi filosofis makna kata (fiqh qiyaas al-lughah), kata hajj yang dibentuk oleh rangkaian tiga huruf dasar haa`jiim, jiim pada hakikatnya menunjukan simpul makna dasar yang menggambarkan “keberadaan sesuatu yang bisa dijadikan landasan, sandaran, atau fokus perhatian” (ma u`tumida`alaihi) atau “berproses menuju landasan, sandaran, atau fokus  perhatian” (al-i`timaad).

Misalnya, kata hujjah yang memiliki arti dasar argumentasi (al-daliil) atau bukti kebenaran (al-burhaan). Begitu juga kata mahajjah  yang berarti jalan terbuka yang arah-arahnya (al-thariiq al-jaaddah). Disebut demikian karena jalan tersebut bisa dijadikan sandaran untuk sampai pada alamat yang dituju. Atau kata hajj (al-syijaaj) yang memiliki arti memeriksa luka di kepala secara teliti, terfokus, dan penuh perhatian untuk keperluan pengobatan serta penyembuhan.

Jadi, substansi haji adalah mencari dan mengukuhkan sandaran atau landasan yang hakiki bagi kehidupan menuju kebahagiaan sejati yang merupakan fokus perhatian dan target pencarian yang dituju oleh seluruh umat manusia. Karena itu, banyak ulama menyebutkan, haji mabrur adalah yang disertai dengan tanda-tanda ke-mabrur-an setelah berhaji, diantaranya akhlak dan amal perbuatannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

Meminta Pemimpin

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Meminta Pemimpin

Minggu, 15 September 2013, 22:55 WIB

Ustaz Yusuf Mansur

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ustaz Yusuf Mansur
Jelang Pilpres sudah dekat. Malahan Pemilihan Calon Legislatif lebih duluan. Ini agenda yg teramat penting buat nasib dan warna bangsa dan negara masa yang akan datang.

Karena itu izinkan saya memberi pandangan seputar apa yang harus dilakukan oleh kita? Sebagai rakyat? Yang sebagian besarnya pasti tidak ikut dipilih, melainkan memilih?

Rasanya, harus jadi perhatian semua pihak. Bahwa persoala presiden, dan calon legislatif, bukan saja persoalan memilih. Tapi lebih kepada meminta dan mengikhtiarkan. Kalau hanya memilih, saya khawatir, kita akan salah memilih.

Satu sosok dan juga sosok-sosok lainnya, kita sama-sama tidak bisa tahu bagaimana sejatinya. Bagaimana aslinya, ga ada di antara kita yang paham sebener-benernya.

Praktis kita hanya tahu dari media. Soal wujud, karya nyata, sepak terjang, pun kadang tidak lepas juga dari soalan media. Bungkusnya baik, hal yang seharusnya sudah menjadi kewajibannya, mendadak bisa disebut sebagai keberhasilannya.

Mata kita hanya bisa memandang, melihat, membaca. Tidak bisa Maha Memandang, Maha Melihat, Maha Membaca. Telinga kita pun hanya bisa mendengar. Bukan Maha Mendengar.

Itu artinya, kesalahan memilih, sangat mungkin terjadi. Belum lagi praktek kecurangan, tipu daya, politik jegal menjegal, sampe politik uang, dari yang halus sampe yang kasar. Jadi, harus ada yang dilakukan oleh bangsa ini. Yakni, meminta dan mengikhtiarkan.

Mintalah sama Allah, pemimpin yang pas, yang baik, yang lurus, yang amanah, yang jago, yang arif, yang disegani dalam dan internasional, yang berpihak kepada rakyat, bukan kepada kepentingan segolongan orang.

Minta juga sama Allah, pemimpin negeri yang tidak opportunis, tidak menyalahgunakan wewenangnya, tidak haus kekuasaan, apalagi serakah. Minta sama Allah dengan kriteria dan permintaan apa yang kita inginkan.

Habis shalat, shalat fardhu dan sunnah2, dan di saat-saat mustajab, baiknya disertakan urusan kepemimpinan nasional dan daerah-daerah, menjadi doa. Minta sama Allah, Allah yang menyediakan, Allah yang memilihkan.

Dan soal harus juga kita ikhtiarkan, ya harus ada keinginan dari kita untuk bener-bener punya dan dapat yang sungguh-sungguh baik dan bagus.

Dan semua itu akan terlihat di kesungguhan kita meminta dan memilih. Jangan sampe terpengaruh yang membuat kita sendiri ga obyektif.

Jadi, bukan hanya Indonesia Memilih. Tapi juga sebaiknya Indonesia Meminta dan Mengikhtiarkan. Insyaa Allah 2014 Allah akan sediakan itu semua. Kalau tidak, maka sekali lagi, bisa jadi kita yang tidak sungguh-sungguh meminta dan mengikhtiarkan.

Doa saya buat semua yang memilih dan dipilih. Agar Allah ridha buat semuanya. Dan semoga Allah kasih kemudahan dan keringanan buat semua yang terlibat di urusan pemilihan di tingkat nasional, hingga daerah.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

Cara Rasulullah SAW Memuliakan Istrinya

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Cara Rasulullah SAW Memuliakan Istrinya

Selasa, 17 September 2013, 05:47 WIB

Rasulullah

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh M Husnaini
Siapa tidak mendamba pasangan setia dan selalu mesra? Siapa pula tidak jengah hidup dengan pasangan yang durhaka lagi gampang marah? Faktanya, menjadi pasangan setia dan mesra sungguh tidak mudah.
 
Alangkah baik kita menjadikan rumah tangga Rasulullah sebagai teladan utama. Inilah potret rumah tangga yang diliput berkah dan bertabur cinta. Panutan umat sejagat ini adalah sosok suami yang pandai mengistimewakan istri.
 
Beliau biasa memanggil Aisyah dengan sebutan Humaira, yang kemerah-merahan pipinya. Kadang juga Aisy, yang dalam budaya Arab, pemenggalan huruf terakhir dari nama itu menunjukan panggilan manja sebagai tanda sayang. Tidak ada wanita yang tidak tersanjung dipanggil demikian oleh suaminya.
 
Di tengah kesibukan mengurus umat, Rasulullah juga mampu menjaga keintiman bersama istri. Perhatikan penuturan Aisyah berikut. “Aku pernah mandi janabat bersama Rasulullah dengan satu tempat air. Tangan kami bergantian mengambil air.” (HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah juga pernah minum di gelas yang digunakan Aisyah. Beliau pernah makan daging yang sudah digigit Aisyah (HR Muslim).
 
Kemesraan bahkan tetap dilakukan Rasulullah ketika istri sedang dalam keadaan haid. Simak penuturan Ummu Salamah. “Ketika aku rebahan bersama Rasulullah di lantai, tiba-tiba aku haid. Aku keluar mengambil pakaian haidku. Beliau bertanya, ‘Mengapa kamu, apakah kamu haid?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu memanggilku, dan aku tidur bersama beliau di lantai yang rendah.”
 
Rasulullah memang begitu memuliakan istri. Boleh jadi sebagian suami lebih nyaman keluar rumah bersama rekan, meninggalkan istri di rumah. Perhatikan sikap Rasulullah, sebagaimana kesaksian Aisyah. “Ketika hendak melakukan sebuah perjalanan, Nabi biasa membuat undian di antara para istri beliau. Siapa yang namanya keluar undian, dialah yang ikut pergi bersama Rasulullah.” (HR Bukhari dan Muslim).
 
Demikian pula ketika beliau menyaksikan hiburan. Aisyah berkisah, “Pada suatu hari, orang-orang berkulit hitam mempertontonkan permainan perisai dan lembing. Aku tidak ingat apakah aku yang meminta atau Nabi sendiri yang berkata padaku, apakah aku ingin melihatnya. Aku menjawab, ‘Ya.’ Lalu beliau menyuruhku berdiri di belakang beliau. Pipiku menempel ke pipi beliau. Beliau berkata, ‘Teruskan permainan kalian, Wahai Bani Arfidah (julukan orang Habasyah)!’ Hingga ketika aku merasa bosan, beliau bertanya, ‘Apakah kamu sudah puas?’Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau lalu berkata, ‘Kalau begitu, pergilah!’.” (HR Bukhari dan Muslim).
 
Itulah sosok suami sejati. Kendati demikian, sebagai manusia normal, tentu saja rumah tangga Rasulullah tidak bebas dari konflik. Perselisihan dalam rumah tangga adalah bumbu cinta. Namun, ketika berselisih, Rasulullah tidak pernah melibatkan emosi. Ketika sedang marah kepada Aisyah, beliau berkata, “Tutuplah matamu!” Kemudian Aisyah menutup matanya dengan perasaan cemas, khawatir dimarahi Rasulullah. Nabi berkata, “Mendekatlah!” Tatkala Aisyah mendekat, Rasulullah kemudian memeluk Aisyah sambil berkata, “Humairahku, telah pergi marahku setelah memelukmu.”
 
Tidak pernah ada kalimat kasar dan menyakitkan dalam rumah tangga Rasulullah. Bahkan, beliau biasa memijit hidung Aisyah jika dia marah, sambil berkata, “Wahai Aisyah, bacalah do’a, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan’.” (HR Ibnu Sunni).
 
Semua kita pasti berharap memiliki rumah tangga yang sakinah dan penuh berkah. Rasulullah telah mengajarkan suami bagaimana memuliakan istri. Seperti sabda beliau, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Lelaki yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Penulis Buku “Menemukan Bahagia”. Email: hus_surya06@yahoo.co.id

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

Senin, 16 September 2013

Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

Visit waysofmuslim.blogspot.com

Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

Sabtu, 10 Agustus 2013, 06:08 WIB

Syekh Yusha Evans

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Friska Yolandha

Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Yusha begitu yakin akan kebenaran yang tercantum dalam kitab suci itu.

Suatu hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.

‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.

‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.

‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’

Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.

Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.

Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 

‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.

Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.

Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’

Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.

Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.

Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.

Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.

Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.

Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.

‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.


****

Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.
‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.

Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di akhir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.

Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.

Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televisi. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’

Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.


****

Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.

Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yusha kembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.

Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.

Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.

‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.

‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.

“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”

Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.

Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”

Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Yusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.


****

Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.

Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.

“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.

Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’

‘’Aku sedang menunggu Musa.’’

‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’

Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.

Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.

Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’

‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’

Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’

Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.

Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.
Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”

‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’

Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’

Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com

 

Redaktur : Heri Ruslan