Senin, 03 Juni 2013

FW: Sayang Anak, Ayo Beli, Sayang Anak!

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Suparman
Sent: Tuesday, June 04, 2013 7:11 AM
To: BDI
Subject: Sayang Anak, Ayo Beli, Sayang Anak!

 

Sayang Anak, Ayo Beli, Sayang Anak!

Senin, 27 Mei 2013, 06:14 WIB

Keluarga mengaji (Ilustrasi)

 

REPUBLIKA.CO.ID, Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Saat jalanan macet atau menunggu di lampu merah, seringkali momen tersebut menjadi ajang aksi beranekaragam kemampuan, tidak kalah dengan acara pencari bakat di televisi.

Mulai dari atraksi monyet, tarian etnis, nyanyian pengamen, manusia perak, atraksi meniup suling dari hidung, belum lagi yang berjualan dari mulai peta manual sampai GPS, buku biografi, badut sulap, jajanan, belum brosur-brosur rumah yang disebar lengkap sampai mainan anak.


“Sayang anak, sayang anak”, katanya. Mantap juga “keywords” nya, sayang anak! Memang tidak membeli bukan berarti tidak sayang tapi terbersit juga untuk menyenangkan hati anak-anak saya.

Biasanya kita berpikir untuk menyenangkan anak dengan membeli mainankah? atau berliburkah? Jajan, nonton film, games atau hal-hal lainnya yang disukai oleh anak-anak kita.

Namun lebih jauh dalam kemacetan ini pikiran saya dilayangkan menuju apa yang sebenarnya anak-anak kita butuhkan, bukan hanya apa yang diinginkan “wants” tapi juga “needs”. Tentang kesehatan, pendidikan, wawasan, kreativitas, tabungan masa depan mungkin, dan sebagainya-dan sebagainya, bagaimana tentang akhlak dan budi pekerti?

Nah yang terakhir ini yang utama agama!.

Teringat surah Luqman dalam Alquran yang sangat terkenal menjadi dasar nasihat seorang ayah terhadap anaknya. Dalam beberapa tafsir yang dimaksud dalam surah ini adalah seorang ayah yang terkenal dengan kata-kata bijak yang bernama Luqman Al-Hakim.
Banyak pendapat tentangnya, ada yang berpendapat beliau berasal dari Nuba penduduk Ailah, ada yang menyebutkan dari Ethiopia, ada yang dari Mesir, ada yang berkulit hitam, ada yang berasal dari Ibrani. Profesinya pun ada yang menyebutkan sebagai tukang kayu, penjahit ataupun penggembala. Tetapi hampir semua yang meriwayatkan sepakat bahwa Luqman Al Hakim bukanlah seorang Nabi dan bukan seorang Arab.

Sahabat Umar bin Khattab ra menyatakan bahwa Nabi SAW bersabda; “Aku berkata benar, sesungguhnya Luqman bukanlah seorang Nabi, tetapi dia adalah seorang hamba Allah yang banyak menampung kebajikan, banyak merenung, dan keyakinannya lurus. Dia mencintai Allah, maka Allah mencintainya, menganugerahkan kepadanya hikmah.

Suatu ketika dia tidur di siang hari, tiba-tiba mendengar suara memanggilnya seraya berkata; “Hai Luqman maukah engkau dijadikan Allah khalifah yang memerintah bumi?” Luqman menjawab,”Kalau Tuhanku memberi pilihan, maka aku memilih afiat (perlindungan) tidak memilih ujian. Tetapi bila itu ketetapanNya, maka akan kuperkenankan dan kupatuhi, karena kau tahu bahwa bila itu ditetapkan Allah bagiku, pastilah Dia melindungiku dan membantuku.

Para Malaikat yang tidak dilihat Luqman bertanya,“Mengapa demikian?” Luqman menjawab, “Karena penguasa adalah kedudukan yang paling sulit dan paling keruh. Kezaliman menyelubunginya dari segala penjuru. Bila seorang adil maka wajar ia selamat, dan bila ia keliru, keliru pula ia menelusuri jalan ke surga. Seorang yang hidup hina didunia lebih aman daripada ia hidup mulia (dalam pandangan manusia). Dan siapa memilih dunia dengan mengabaikan akhirat, ia tidak memperoleh sesuatu di akhirat"

Para malaikat sangat kagum terhadap ucapannya. Selanjutnya Luqman tertidur lagi. Dan ketika ia terbangun, jiwanya telah dipenuhi hikmah dan sejak itu seluruh ucapannya adalah hikmah. Demikian ditemukan dalam kitab hadits Musnad Al Firdaus Tafsir Al Misbah.

Inilah ayat-ayat yang mengisahkan tentang nasihat dari Luqman terhadap anaknya. [Ayat 13] Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Kata “ya’izhuhu” yang diartikan pelajaran, terambil dari kata wa’zh yaitu nasihat menyangkut berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati. Ini memberi gambaran tentang bagaimana perkataan itu beliau sampaikan, yakni tidak membentak, tetapi penuh kasih sayang sebagaimana dipahami dari panggilan mesranya kepada anak.

Dikarenakan kata “bunnayya” menggambarkan sesuatu yang mungil. Karena asal katanya dari “ibn” yakni anak lelaki. Dari hal trersebut dapat dipahami bahwa memberi pelajaran atau mendidik mesti didasari oleh rasa kasih sayang. Kemudian Luqman memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik.

Hal tersebut mengandung pengenalan terhadap tauhid atau keesaan Allah sekaligus menekankan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik. “At takhliyah muqaddamun ‘ala at-tahliyah” artinya ; menyingkirkan keburukan lebih utama daripada menyandang perhiasan.

[Ayat 14 - 15] Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Ayat-ayat diatas dinilai oleh banyak ulama bukan bagian dari pengajaran Luqman kepada anaknya. Ia disisipkan Alquran untuk menunjukan betapa penghormatan dan berbakti kepada kedua orangtua menempati tempat kedua setelah pengagungan kepada Allah SWT.

Menurut al-Biqa’I tetapi bukanlah berarti Luqman tidak menasehati akan hal tersebut, namun ini dikarenakan Allah ingin agar nasihat tersebut mencakup seluruh manusia. Menurut Ibn ‘Asyur dikarenakan Luqman bukanlah seorang Nabi karenanya nasehat ini bentuk redaksionalnya menjadi sisipan, bukan yang beliau sampaikan sesuai dengan wahyu seperti para Nabi, namun kecenderungan bahwa Luqmanpun menasehati hal tersebut diatas sangatlah besar.

[Ayat 16] (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Ayat ini mengedepankan agar anak mengenal Allah (marifatullah), dan segala sesuatu yang diupayakan berupa kebaikan (begitu pula dengan keburukan) akan mendapat balasannya, walaupun hanya setitik atau seberat biji sawi.

[Ayat 17] Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Nasihat Luqman diatas menyangkut segala hal amal saleh yang puncaknya adalah shalat, serta amal kebajikan yang tercermin dalam amar ma’ruf nahi munkar. Juga nasihat berupa benteng atau perisai yang melindungi seseorang dari perasaan-perasaan kegagalan, musibah dan sebagainya yaitu sabar dan tabah.

[Ayat 18 - 19] Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Nasihat Luqman dalam ayat diatas adalah berkaitan dengan akhlaq dan sopan santun berinteraksi dengan sesama manusia. Hal tersebut menegaskan bahwa ajaran akidah dan akhlaq merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

InsyaAllah semoga kita dapat mengkajinya lagi dalam kesempatan lain, tulisan ini hanya sebagai trigger untuk kita para orang tua untuk mengkaji nasihat-nasihat Luqman yang mencakup pokok-pokok tuntunan agama. Dimana akidah, syariat dan akhlak dikedepankan dalam nasihat kepada anaknya.

Akhlak terhadap Allah, terhadap orang tua, terhadap orang lain sekaligus diri sendiri. Perintah amar ma’ruf nahi mungkar, perintah bersabar yang merupakan syarat untuk sukses dunia akhirat. Dan dari itu semua, kembali kepada teriakan sayang anak, sayang anak dikemacetan tadi.

Sudahkah kita mengedepankan seluruh prioritas dari apa yang semestinya kita berikan kepada anak-anak kita? yaitu mengenalkan Allah dan RasulNya, Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Insya Allah, Mari !.

Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi Allah adalah yang mengamalkannya.

Ustaz Erick Yusuf: Penggagas iHaqi
@erickyusuf

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

FW: Produksi minyak Indonesia di titik nadir... tapi akan naik

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Triono Hari Wibowo
Sent: Tuesday, June 04, 2013 8:54 AM
To: BDI
Subject: Produksi minyak Indonesia di titik nadir... tapi akan naik

 

Informasi yang baik diketahui agar tidak mudah terpengaruh banyaknya info menyimpang di banyak media. Semoga bermanfaat…

Wassalamu’alaikum wr wb

 

VIVAnews -  Pemerintah berencana menaikkan harga Bahan Bakar Minyak pada bulan Juni ini. Sebab harga minyak dunia terus merangkak naik. Menyebabkan jumlah subsidi pemerintah terus melonjak. Mencekik APBN. Sementara produk migas Indonesia sendiri terus turun. Jika tidak melakukan sesuatu, maka ekonomi nasional secara keseluruhan bisa terganggu.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini, saat berkunjung ke redaksi TV One beberapa waktu lalu, yang juga dihadiri wartawan VIVAnews.com, menyampaikan bahwa produksi migas Indonesia kini nyaris berada di titik nadir. Namun Guru Besar Teknik Perminyakan ITB ini meyakini produksi itu akan naik dengan masifnya eksplorasi dan eksploitasi untuk menemukan cadangan baru.

Indonesia saat ini memang telah berubah menjadi importir minyak bumi dan bukanlah negara dengan kekayaan migas yang berlimpah. Cadangan minyak Indonesia hanya 3,6 miliar barel, sungguh jauh bila dibandingkan dengan Venezuela yang jumlah cadangannya mencapai 300 miliar barel. Jika temuan baru tidak ada, "Kira-kira cadangan minyak kita habis 12 tahun lagi," kata Rudi Rubiandini.

Lahir di Tasikmalaya 9 Februari 1962, Rubiandini sudah lama bergelut dengan semua urusan di dunia perminyakan. Setelah lulus dari Teknik Perminyakan ITB tahun 1985, dia kuliah di Technische Universitaet Clausthal Jerman. Lama berkarir di BPMIGAS mengantarkan Rubiandini ke kursi Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).  Turun dari kursi Wamen Januari 2013, dia kemudian diangkat Presiden menjadi Kepala SKK Migas. Jabatan yang mengharuskannya menguasai secara rinci setiap perkembangan dunia minyak Indonesia.

Bagaimana kondisi perminyakan kita, seberapa besar stok yang tersedia, apakah ada temuan sumber minyak baru, dan bagaimana strategi SKK Migas  menggenjot produksi?  Berikut petikan wawancara dengan Rudi Rubiandini.

Sebenarnya, berapa cadangan minyak Indonesia saat ini dan akan habis kapan?

Jadi begini. Indonesia memiliki 3,6 miliar barel minyak. Apabila kita produksikan 800-900 ribu barel setiap hari, maka kira-kira cadangan minyak kita  habis 12 tahun lagi.  Itu logis, kalkulatif, semua dapat dihitung. Tetapi jangan lupa, cadangan minyak bisa bertambah, dengan cara eksplorasi. Ketika eksplorasi menghasilkan jumlah minyak yang sama untuk produksi maka level cadangan tidak pernah turun.

Pada tahun 1970 juga pernah dikatakan bahwa cadangan minyak kita akan habis pada 10 tahun lagi. Sekarang sudah 2013. Dan sekarang saya bilang bahwa 12 tahun lagi minyak kita akan habis, tapi nanti tahun 2100 akan ada juga yang mengeluarkan statement yang sama. Mengapa bisa begitu? Karena ada eksplorasi. Yang menyebabkan minyak kita akan habis atau tidak, adalah eksplorasi. Minyak yang kita sedot hari ini adalah hasil eksplorasi dari kakek dan orang tua kita 10-20 tahun lalu.

Minyak itu adalah sebuah benda yang keluar dari bawah, karena lebih ringan dari air maka bisa otomatis naik, apalagi gas. Minyak akan naik hingga berhenti di batuan cekungan ke atas. Untuk mencari minyak di dalam tanah maka kita lakukan ultrasonik dan ledakkan dinamit untuk mendapatkan seismik, bentuk batuan tanah. Ketika menemukan cekungan di dalam tanah, ada dua kemungkinan, apakah berisi air asin atau minyak bumi. Kalau dapatnya air, maka kita sebut dry hole.

Pertama kali orang menemukan minyak adalah di permukaan dan zaman dulu minyak bumi digunakan sebagai obat. Ada koreng, dibalut dengan minyak pasti sembuh. Kenapa? Karena minyak itu hidrokarbon, tidak ada oksigen. Sedangkan koreng butuh oksigen untuk berkembang. Dengan kulit dilapisi minyak, maka korengnya akan mati. Lalu berkembang menjadi obor saat dilapisi dengan kain dan dibalut di atas kayu lalu menjadi bahan bakar.

Setelah minyak di permukaan habis maka lama-lama minyak semakin dalam. Harus di bor menggunakan pipa. Paling dalam bisa hingga 15 ribu meter dari permukaan tanah. Dan bukan hanya dibor secara vertikal, namun bisa miring dan horizontal. Akibatnya, investasi eksplorasi menjadi mahal. Ada sumur yang harganya bisa mencapai US$100 juta atau setara Rp1 triliun dan itu belum pasti dapat minyak.

Dan semua cost recovery diganti oleh negara?

Pemerintah tentu tidak mau menanggung eksplorasi migas yang membutuhkan dana besar, maka dibuatlah kontrak eksplorasi. Silahkan ngebor eksplorasi. Kalau tidak dapat, maka tidak diganti serupiah pun oleh negara. Kalau dapat minyak, maka baru diganti oleh negara setelah berproduksi. Dibayarnya bukan menggunakan uang, tetapi equivalent dengan minyaknya, kita sebut sebagai kontrak bagi hasil.

Silahkan investasi, tidak berhasil maka tidak dibayar. Kalau berhasil, seluruh produksinya dipotong dulu biaya eksplorasi, baru dibagi hasilnya. Itu pun bukan 50:50, tetapi negara mendapatkan 85 persen, kontraktor hanya 15 persen. Jadi betapa keberpihakan kepada negara cukup tinggi. Perhitungannya, untuk kontraktor 15 persen, untuk cost recovery atau pengembalian investasi itu 20-25 persen dan sekitar 60 persen pasti untuk negara.

Bandingkan dengan industri pertambangan, yang keluar dari tanah paling hanya 25 persen yang masuk ke dalam kas negara. Sisanya ke para kontraktor, karena mereka menggunakan konsep kontrak karya. Bandingkan pertambangan emas, tembaga, batu bara, dan 100 jenis pertambangan dapatnya hanya Rp120 triliun ke kas negara, sedangkan industri migas hanya satu komoditas dapatnya Rp360 triliun masuk ke kas negara.

Jadi untuk meningkatkan produksi migas membutuhkan eksplorasi besar-besaran?


Iya. Pertanyaannya kenapa banyak perusahan asing? Kita tanya balik ke perusahaan Indonesia, siapa yang mempunyai uang puluhan hingga ratusan triliunan secara tunai, bukan pinjam dari bank untuk eksplorasi? Dan kalau tidak berhasil maka kontrak bisa diputus dan tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada yang berani.

Kebetulan kita punya warisan blok migas dari Belanda dan itu semuanya diberikan kepada Pertamina. Sedangkan perusahaan asing disuruh cari dari tempat kosong, maka muncullah Chevron, Total, BP. Yang bekas Belanda, dikuasai oleh Pertamina namun ternyata Pertamina tidak bisa mengelola sendiri blok migas, maka minta pihak ketiga, munculah JOB, Joint Opearation Body. Jadi ada, bagian Pertamina yang dikelola oleh perusahaan asing.

Dari seluruh Indonesia, 50 persen lahan industri migas dikuasai oleh Pertamina. Tapi produksi nasional, produksi migas asing lebih besar daripada produksi Pertamina. Di media massa dibalik termnya, industri migas dikuasai asing. Padahal, perusahaan asing justru telah membuat produksi migas kita itu tinggi.

Apakah karena Pertamina minim eksplorasi?

Nah, kenapa Pertamina tidak begitu agresif? Ada masalah kecil ketika Petronas belajar dari Pertamina, tetapi saat ini Petronas tumbuh pesat. Petronas tidak memberi dividen kepada pemerintah sehingga dananya bisa untuk eksplorasi dan mereka bisa mengembangkan bisnis migas. Sedangkan Pertamina tidak, karena pertamina tunduk pada peraturan BUMN dan wajib memberikan deviden. Seharusnya keuntungan Pertamina digunakan untuk eksplorasi tetapi ini dikembalikan ke negara menjadi deviden. Jadi tidak ada feedback, tidak ada return uang, dari pengelolaan minyak tadi menjadi penemuan minyak baru.

Lahan pertamina memang bekas Belanda. Tapi ambilah contoh Cepu, yang semula dibor dengan kedalaman 300-400 meter oleh Belanda. Di zaman Pak Harto diberikan kepada Tommy melalui Humpuss. Tommy perlu uang dijual ke Ampolex, lalu dijual lagi ke Exxon. Diperluas dan diperdalam oleh Exxon dan dapatlah seperti sekarang, 165 ribu barel pada 2014 nanti.

Ada beberapa hal yang sebenarnya perlu kita dilakukan. Pertama, cobalah sumur Pertamina yang dangkal-dangkal ini dibor lebih dalam. Memang belum tentu dapat, tapi keberanian untuk mengebor lebih dalam ini terbatas. Kedua, Pertamina kan dapatnya bekas Belanda, semua di darat. Belum pernah Pertamina mencari sendiri di laut. Yang ada ambil alih punya BP di Offshore North West Java dan utara Madura, West Madura Offshore. Padahal masa depan migas Indonesia ada di laut, dan itu pun di laut dalam, seperti Inpex di selat Timor, Donggi Senoro, ENI di lapangan Jangkrik. Laut-laut dalam di Timur Indonesia terus eksplorasi.

Kenapa belum dilakukan?

Bagi pertamina, daripada uang kosong melompong karena tidak dapat, mending akuisisi minyak yang sudah berproduksi. Tanah itu kosong melompong, jadilah peta. Selama Pertamina tidak melakukan self exsploration maka tidak pernah ada tambahan minyak.

Selama ini Pertamina sebagai BUMN, kalau dry hole, dianggap merugikan negara. Kalau eksplorasi belum tentu dapat minyak.  Rasio sukses eksplorasi itu 30-40 persen, paling tinggi 50 persen. Jadi artinya ngebor 10, yang berhasil 3-4 sumur. Maka yang gagal itu kan duit hilang. Jumlahnya miliaran, triliunan. Pemerintah membatasi Pertamina untuk masuk dalam bisnis yang beresiko tinggi.

Pertamina saat ini saya dorong untuk eksploitasi lapangan yang masih tidak diapa-apakan, Enhanced Oil Recovery (EOR) sedang digalakkan. Kenapa? lapangan asing tadi sudah disedot 40-50 persen. Lapangan Pertamina ini baru 10-15 persen. Ini lapangan kalau diurus secara benar pun hasilnya akan naik. Pertamina bisa kok. 

Tetapi kan Pertamina mengelola sumur tua?

Sebetulnya sumur tua bukan berarti minyaknya akan habis. Justru sumur itu telah terbukti ada minyak. Kalau masuk ke lapangan baru kan belum tentu ada hasilnya.

Masalah ini terjadi karena political will atau internal Pertamina?

Kalau dalam hal Pertamina, ini intern Pertamina. Pertamina sudah mendapatkan privilege dari negara. Perusahaan asing itu mendapatkan bagian 15 persen dari minyak, 30 persen dari gas. Sedangkan Pertamina mendapatkan bagian 40 persen. Ditambah kewajiban Domestic Market Obligation. Perusahaan asing dibayar 25 persen dari harga dunia, Pertamina itu full price. Jadi, pantaslah pendapatan negara mengecil, pendapatan Pertamina membesar. Sebenarnya keberpihakan kepada Pertamina itu sudah terlihat, tetapi mengaku sebagai anak tiri padahal sudah dianak emaskan.

Kenapa saat ini industri hulu migas Indonesia seperti tertinggal dari negara lain?

Kalo masalah industri migas kenapa tertinggal dibanding negara lain, itu political will. Seperti dana eksplorasi, pemerintah bisa sisihkan lima persen dari pendapatan migas untuk eksplorasi.

Masalahnya, saat ini kalau ada perusahaan asing masuk ke Indonesia, mereka hanya dikasih lembar kosong tanpa peta, perusahaan asing di Indonesia harus melakukan seismik sendiri. Padahal di Malaysia, itu investor diberikan CD isi peta dan hasil seismik tiga dimensi. Dana yang disebut petroleoum fund ini sangat dibutuhkan di Indonesia, jumlahnya tidak besar. Cukup sekitar lima persen dari hasil migas dikembalikan untuk eksplorasi.

Apakah masalah petroleoum fund sudah diusulkan kepada pemerintah?

Jadi masalah petroleoum fund, kami sudah siapkan beberapa poin di revisi Undang-undang migas yang baru. Salah satunya, kita coba adakan lima persen dari hasil migas untuk eksplorasi, sedangkan 95 persen sisanya masuk ke kas negara. Sehingga, petroleoum fund ini tidak meminta dari pajak atau manapun.

Siapa yang berhak mengelola dana ini, sebab jumlahnya tidak kecil. Bisa mencapai Rp15 triliun?

Petroleoum fund ini akan masuk ke dalam Badan Geologi, sebuah badan milik negara yang bertugas untuk eksplorasi pertambangan dan migas. Kalau tidak ada uangnya, maka Badan Geologi ini hanya sebagai pengumpul data hasil eksplorasi yang dikerjakan orang lain. Kuncinya adalah duit. Ketika duitnya ada maka Badan Geologi jalan, data jadi ada, maka cadangan meningkat.

Saat ini ada badan pengambil data, semi swasta. Namanya Patra Nusa Data. Itu semi pemerintah yang tugasnya mengumpulkan data namun berada di bawah Kementerian ESDM. Ini kan salah? Seharusnya dikembalikan ke Badan Geologi namun karena Undang-undangnya belum ada sehingga tidak jalan.

Kenapa bukan SKK Migas?

SKK Migas lebih bertugas untuk mengamankan kontrak yang telah ditandatangani oleh pemerintah dengan kontraktor. Watchdognya ini SKK Migas. By the law, Badan Geologi inilah yang berhak memegang petroleoum fund.

Soal cadangan migas Indonesia sebesar 3,6 miliar barel tadi. Apakah itu ukurannya sangat besar untuk sebuah negara? Artinya, apakah Indonesia negara kaya minyak?

Indonesia mempunyai cadangan minyak 3,6 miliar barel sedangkan Venezuela itu 300 miliar barel. Kalau Indonesia mempunyai cadangan minyak 300 miliar maka saya berani seperti Hugo Chavez dengan menasionalisasikan perusahaan minyak asing. Sekarang ini, investor mau datang ke Indonesia saja saya bersyukur. Orang kaya sombong seperti Venezuela itu biasa, orang miskin sombong itu luar biasa. Kita harus sedikit terbuka dengan investor asing.

Norwegia saat ini booming dengan cadangan migas yang mencapai 10 miliar barel dengan penduduk 8 juta. Sedangkan kita, cadangan lebih sedikit dari Norwegia namun penduduknya 240 juta. Beda sekali konteksnya dalam membuat aturan. Di negeri yang kaya minyak, mereka menggunakan services contract. Kontraktor asing diundang dibayar dengan barang dan tenaga kerja mereka, sedangkan seluruh minyak untuk negara. Sedangkan di Indonesia tidak, yang bayar kontraktor.

Ingat, nasionalisasi di Venezuela itu bukan berarti perusahaan diusir tetapi mereka beli dari kontraktor-kontraktor asing lalu perusahaan tersebut menjadi perusahaan nasional karena cadangan minyak mereka melimpah. Masalahnya Indonesia, uangnya dari mana?

Anda sudah petakan kendala di industri migas. Kira-kira bagaimana produksi migas Indonesia ke depan?

Beberapa waktu lalu saya bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama dua jam. Karena selembar demi selembar paparan saya dia kupas dan beberapa masukan dari saya diterima dan keluar sebagai keputusan. Ada hal yang minimal harus dilakukan. Pertama, pemangkasan birokrasi. Kedua, insentif fiskal eksplorasi.

Saya juga ceritakan kepada Pak Presiden bahwa untuk kegiatan eksplorasi ada 25 izin dan memproses izinnya butuh 2-3 tahun. Pak Presiden bilang kapan mulai kerjanya? Lalu Presiden memerintahkan Pak Sudi Silalahi (Mensesneg) untuk menyederhanakan perizinan menjadi tujuh. Seluruh menteri bergerak untuk merevolusi perizinan.

Saya ingin menyampaikan bahwa visi SKK Migas jangka panjang adalah meningkatkan penemuan cadangan migas dengan eksplorasi. Kenapa? Hari ini kita nikmati minyak karena hasil eksplorasi 10-20 tahun lalu. Jangka menengah, kegiatan lapangan-lapangan yang idle dengan sentuhan EOR, lalu tingkatkan kapasitas nasional, hidupkan perbankan dan kontraktor nasional.

Sedangkan jangka pendek, mengamankan lapangan yang akan onstream dalam waktu dekat, seperti proyek Banyu Urip, Jangkrik, dan Donggi Senoro. Lalu menurunkan decline rate jadi nol. Dari minus lima hingga sepuluh menjadi nol. Ini bukan pekerjaan gampang, dari dulu sulit kok. Aslinya, sebuah blok migas itu bisa turun 20-40 persen, namun karena ditekan dengan menambah sumur maka menurun menjadi enam persen. Tahun ini saya canangkan nol, bukan hanya nol namun malah naik.

Sekarang saya targetkan produksi minyak Indonesia 840-850 ribu barel. Akhirnya kementerian keuangan menggunakan angka 840 ribu barel. Per hari ini produksi 842 ribu barel. Jadi bukan hanya zero decline. Tetapi sekarang memang titik nadir produksi  migas indonesia, tapi nanti akan naik. Saat ini produksi migas terbukti mulai rebound. Insya Allah.

Anda yakin produksi migas Indonesia akan naik?

Saya sampaikan kepada Pak Presiden, sampai 2019 minyak dari lapangan Banyu Urip, Cepu sudah keluar semua. Gas dari Tangguh train tiga juga sudah keluar. Pada 2019 nanti Indonesia sudah berubah dari minyak ke gas. Jadi kalau kita tidak mulai bangun infrastruktur gas maka akan susah. Saya berharap swasta cepat masuk, alokasi gas telah disediakan.

Yang Banyu Urip saya sudah cek.  Beberapa waktu lalu sudah cek ke lapangan dan sudah mulai bor dua rig. Rencana 42 sumur, 13 sumur diantara untuk inject tingkatkan lifting. Saat ini produksi Blok Cepu baru 53 persen. Insya Allah 2014 akhir sudah produksi penuh. Lalu proyek deep water seperti Bangka, Gendalo dan Gihem akan selesai 2015-2017 dengan jumlah gas 114.742 juta kaki kubik. Ini jumlah yang besar. Kemudian Blok Muara Bakau, Jangkrik yang dikelola ENI dari Italia akan hasilkan 450 juta kaki kubik pada 2016.

Lalu ada blok Masela di selat Timor, ini selesai 2018 dengan produksi 421 juta kaki kubik. Tangguh train 3 produksi 500 juta kaki kubik selesai 2019.

Ketika saya dipanggil, Presiden sempat bertanya, adakah yang selesai sebelum Agustus 2014? Saya katakan Bapak tidak perlu khawatir.  Bapaklah yang sudah membuat ini terjadi dan biarlah Presiden selanjutnya yang menikmati. Bapak Presiden tinggal bilang ke presiden selanjutnya, kami persembahkan proyek-proyek migas yang tinggal dinikmati. Ini tabungan bangsa indonesia, anak cucu kita. Totalnya tidak kurang dari US$30 miliar investasi dan tidak menggunakan uang negara.

Ada cerita di sektor migas bahwa Indonesia berhasil produksi 1,6 juta barel pada tahun 1977. Negara Indonesia beruntung karena menemukan lapangan besar. Setelah itu turun. Titik puncak kedua muncul lagi pada 1995,  produksi minyak bisa 1,6 jt barel. Kenapa? Karena disentuh EOR di lapangan Duri, caranya injeksi uap. Lalu kemudian turun terus.

Lalu kapan ada puncak ketiga? Jawabannya ada pada dua komponen yakni eksplorasi dan EOR. Jika dilakukan bersamaan maka akan membuat puncak produksi yang ketiga. Tetapi kalau dikatakan turun tidak, saat ini produksi Migas Indoenesia mencapai 2,1 juta ekuivalen setara minyak. Lebih tinggi dari produksi Migas pada 1976.

Untuk program BBM menjadi BBG sendiri, sejauh mana komitmen SKK Migas dalam hal ini?

Kami ditantang untuk mengkonversi BBM menjadi BBG. SKK Migas telah siapkan 32 juta kaki kubik untuk proyek ini dari tahun lalu. Tetapi tidak terjadi. Masalahnya bukan di suplai gas tapi converter kit serta SPBG mother daughter tidak jadi-jadi. Kenapa? Karena dibangun menggunakan uang APBN. Saya ingat, karena waktu itu masih menjadi Wakil Menteri ESDM, Dirjen Migas waktu itu, Ibu Evita menyatakan tender SPBG baru selesai November dan baru dibangun Maret. Pak Menkeu tidak mau kalau multiyear karena sudah ada pengalaman pahit di Hambalang. Saya bilang, ini kan multiyear tapi single budget, tapi tetap tidak mau.

Jadi sebenarnya proses berjalan. Kesiapan hulu ada tetapi masalahnya di infrastruktur gas belum siap karena menunggu dana dari APBN.  Saya lebih suka agar swasta masuk. Swasta lebih cepat jadi asal diberikan margin cukup.

Bagaimana dengan renegosiasi harga gas Tangguh?

Sebenarnya ekspor gas Tangguh ke Fujian itu kecil, hanya 11 persen. Tetapi magnitude politiknya besar.  Padahal efek rupiah kecil, hanya Rp40 triliun tambahannya. Tetapi seolah-olah kita jual barang murah ke luar negeri, padahal tidak. Banyak juga gas yang kita jual mahal hingga 17 dolar per MMBTU, tetapi karena Fujian dijual US$3,35 per MMBTU kelihatannya kecil. Waktu itu kita jual gas ketika pasokan gas di dunia sedang besar. Bisa kejual juga bersyukur waktu itu.

Proses renegosiasi Tangguh telah dimulai, untuk harganya belum tahu. Yang jelas, CNOOC telah berkomitmen untuk mengubah harganya. Kami bercita-cita dalam dua bulan selesai, tetapi negosiasi membutuhkan proses yang tidak mudah.

Kami pernah dihujat karena mengekspor gas lebih banyak daripada untuk kebutuhan dalam negeri. Tapi pada tahun 2012, hampir seimbang karena ada kontrak gas yang sudah habis, dan kami  langsung mengalihkannya untuk kebutuhan dalam negeri. Lalu ada usul, kenapa tidak seluruh gas itu digunakan untuk kebutuhan dalam negeri? Jawabannya sederhana. Ini infrastrukturnya tidak ada, apa gasnya ditenteng dalam plastik?

© VIVA.co.id

http://us.m.news.viva.co.id/news/read/417723--produksi-minyak-indonesia-di-titik-nadir--tapi-akan-naik

 

A good example is more valuable than good advice

Disclaimer:
The contents of this email, together with its attachments, may contain confidential information belong to Virginia Indonesia Co., LLC ("VICO") and Virginia Indonesia Co., CBM Limited  ("VICO CBM"). If you are not the intended recipient, please notify the sender immediately and delete this e-mail from your system, and you should not disseminate, distribute, copy or otherwise use this email or any part thereof.

Minggu, 02 Juni 2013

FW: Sedekah

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Suparman
Sent: Monday, June 03, 2013 7:06 AM
To: BDI
Subject: Sedekah

 

Sedekah

Monday, 03 June 2013, 05:31 WIB

Ustaz Yusuf Mansur

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ustaz Yusuf Mansur

Masjid Istiqlal, 2 Juni 2013, berlangsung kegiatan dakwah, dengan tajuk Indonesia Bertadabbur Qur'an. Kerja sama antara Lembaga Tadabbur Qur'an Internasional, dengan Ustaz Zaitun dari Wahdah Islamiyah, Ustaz Bachtiar Nasir dari ar-Rahman Qur'anic Learning Center (QLC), dan PPPA Daarul Qur'an.

Alhamdulillaah, nggak tanggung-tanggung, ulama senior dari Arab Saudi, Syeikh Naseer al Omar, yang juga merupakan Sekjen Ulama Internasional, turut menghadiri perhelatan yang diikuti sedikitnya 25 ribu jamaah ini. Syeikh Naseer al Omar juga merupakan Ketua Umum Lembaga Tadabbur Internasional.

Alhamdulillaah, saya jelaskan, atas izin Allah, di Masjid Istiqlal, saat saya mendapatkan kesempatan menjelaskan hubungan antara membaca, menghafal, mentadabburi (merenungkan, memikirkan, menjiwai, meresapi, merasakan), dan beramal dengan Qur'an.

Saya mengambil contoh dengan bidang yang insya Allah sangat dekat dengan bidang saya, yakni tahfidz dan sedekah.

Saya sodorkan, ketika kita menghafal, misalnya, ayat tentang sedekah, atau sekadar membacanya, apakah benar-benar sekadar membaca dan menghafalnya?

Atau memikirkannya, larut dalam ayat-ayat sedekah, merenungkan, dan kemudian terdorong mengamalkannya? Jika iya, maka terjadilah pembelajaran, pemahaman, plus pengamalan yang integral.

Nggak cuma membaca, nggak hanya menghafal, nggak cuma mempelajari. Tapi juga mengamalkan. Inilah sesungguhnya puncak dari mempelajari Alquran, dan mengamalkan.

Adalah Pak Eman, yang saya panggil dengan izin Allah ke panggung. Beliau saya bacakan ayat tentangg sedekah: man jaa-a bil hasanati falahuu 'asyru amtsaalihaa. Siapa yang bersedekah akan dibalas 10 kali lipat.

Sebagaimana biasa, saya memberikan tantangan kepada beliau, ada berapa duit di kantong? Ayo coba keluarkan. Alhamdulillah, di dompetnya ada Rp 884 ribu.

Saya pisahkan, Rp 84 ribu dan Rp 800 ribu. Lalu saya tanya, pilih sedekah yang mana? Kalo Rp 800 ribu, maka akan menjadi Rp 8 juta. Kalo Rp 84 ribu, maka menjadi Rp 840 ribu. Alhamdulillah Pak Eman memilih Rp 800 ribu.

Di luar dugaan, Syeikh Naseer al Omar memanggil saya. Saya turun dari panggung. Beliau bilang, dalam Bahasa Arab, "Saya mau kasih hadiah buat orang ini, 3.000 riyal Saudi." Lalu ucapan ini diralatnya. Beliau ubah menjadi 1.000 dolar AS. Subhaanallaah...

Betapa kalau membaca dan memahami ayat Alquran, lalu mengamalkannya, akan terjadi sesuatu yang luar biasa...

Insya Allah, dengan izin Allah, Lembaga Tadabbur Qur'an Internasional, akan hadir di banyak kota di Indonesia. Akan dibuka cabang-cabangnya. Melengkapi gerakan dakwah tahfidz Qur'an. Allahu Akbar. Allah yang menyempurnakan.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

FW: Small Is Complicated

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Suparman
Sent: Monday, June 03, 2013 6:47 AM
To: BDI
Subject: Small Is Complicated

 

Small Is Complicated

Jumat, 31 Mei 2013, 10:48 WIB

 

Otak cerdas (ilustrasi)

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr Muhammad Hariyadi, MA
Salah satu karakter yang tetap identik dengan orang-orang bodoh adalah sikapnya yang gampang meremehkan segala sesuatu termasuk penemuan ilmiah baru. Sikap tersebut sama dengan sikap orang-orang kafir, karena kebodohan dan kekafiran pada hakekatnya serupa.

Kebodohan berkaitan dengan tidak sampainya akal pikiran pada hakekat ilmu penetahuan. Kekafiran tidak sampainya akal pikiran pada hakekat keimanan.

Ketika Allah yang Maha Agung menyampaikan bahwa sesungguhnya diri-Nya tidak segan membuat perumpamaan  dengan seekor nyamuk atau bahkan yang lebih kecil dari nyamuk (QS. Al-Baqarah: 26), orang-orang kafir berkata:"Apa maksud Allah membuat perumpamaan sekecil itu?". Sementara orang-orang beriman dengan dasar keimanan dan  pemikirannya yang mendalam berkata: "Jika berasal dari Allah, maka tentu ada kebenaran dan hikmah yang terkandung di dalamnya."

Dua sikap yang bertolak belakang ini pada satu sisi menggambarkan sikap meremehkan sesuatu yang kemudian berimplikasi negatif karena didasarkan pada cara berpikir negatif yang pada akhirnya memalukan diri sendiri sebab kebenaran ilmiahnya pada waktu tertentu menjadi nyata.

Sementara di sisi lain menggambarkan sikap hati-hati, sikap yang harus menghargai sebuah penemuan sekecil apapun, apalagi datangnya dari Dzat yang Maha Benar yang dipastikan memiliki makna kebenaran dan perlu diselidiki isyarat kebenaran yang ditunjukkan-Nya.

Nyatanya dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi trendnya menuju ke bentuk yang semakin mengecil. Dulu di awal kemunculannya, komputer hadir dengan bentuk body dan CPU yang serba besar, lalu berkembang menjadi sederhana, terus mengecil dan bahkan semakin kecil saat ini. Mobil, radio, jam, handphone dan semua alat-alat elektronik mengalami proses dan perkembangan serupa. Demikian pula yang terjadi dalam teknologi lain.

Berubahnya bentuk produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi ke arah yang lebih kecil dengan tanpa mengurangi kecanggihannya menunjukkan bahwa justru semakin kecil semakin complicated, semakin rumit, semakin canggih dan semakin simple. Bukan sebaliknya.

Pada saat yang sama perubahan tersebut menjungkirbalikkan sikap dan perilaku orang-orang bodoh yang dulu menertawakan perumpamaan yang dibuat Tuhan, maka sekaranglah giliran mereka ditertawakan oleh zaman, generasi karena keterbatas ilmu pengetahuan mereka.

Sesungguhnya secara alamiah, semakin banyaknya penduduk di bumi, ukuran manusia yang dulu tinggi dan besar telah berubah menjadi pendek dan kecil. Tidak mungkin manusia tidak berevolusi pada perubahan yang lebih kecil karena alam menuntut keseimbangan hukumnya. Maka demikian pula lah yang terjadi pada trend produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia akan bergerak ke arah yang lebih canggih, lebih kecil, lebih simple, lebih complicated sejalan dengan hukum alam yang diberlakukan Tuhan.

Maka berhati-hatilah dalam semua sikap yang mengandung unsur meremehkan dan menertawakan pihak lain, jangan-jangan karena keterbatasan pengetahuan kita hari ini, pada suatu saat nanti giliran kita yang ditertawakan oleh zaman. Berhati-hatilah dalam ucapan, sikap dan perbuatan karena tidak ada kerugian sedikitpun bagi mereka yang senantiasa berhati-hati. Wallahu A'lam.

*Penulis dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta.

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

Sabtu, 01 Juni 2013

FW: Syaban dan Kiblat

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Suparman
Sent: Tuesday, May 28, 2013 7:10 AM
To: BDI
Subject: Syaban dan Kiblat

 

Syaban dan Kiblat

Senin, 27 Mei 2013, 12:10 WIB

Kabah di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi, Selasa (23/10). (Hassan Ammar/AP)

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr Muhammad Hariyadi MA

"Seandainya Allah SWT tidak merubah kiblat kaum muslimin dari Bait Al-Maqdis ke Ka'bah pada bulan Rajab tahun ke-2 Hijriyah, maka dapat dibayangkan betapa kerasnya konflik keagamaan antara kaum Muslim-Yahudi-Nasrani pada saat ini." Bait Al-Maqdiq adalah simbol kiblat tiga agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam), karena ketiganya memiliki akar sejarah keagamaan dengan tempat mulia tersebut. Namun kesucian tempat tersebut seharusnya diikuti dengan tetap suci dan aslinya tiga ajaran agama samawi, sehingga dua ajaran yang pertama mengukuhkan satu ajaran yang terakhir. Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Maka Allah SWT meridhai kecondongan hati Rasulnya yang menginginkan perubahan kiblat dari Bait Al-Maqdis dan telah berjalan sekitar enam belas bulan menuju ke Bait Allah Al-Haram Makkah Al-Mukarramah. Allah SWT berfirman: "Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi." (QS. Al-Baqarah: 144). Kaum muslimin yang menjadi subyek perubahan tersebut menerima perintah perubahan kiblat dengan positif thinking dan ihlas, bukan karena melihat eksistensi perubahannya melainkan siapa yang memerintahkannya. Sebab sudah merupakan sikap kaum muslimin untuk tunduk kepada perintah Allah SWT sebagaimana ketundukan ruh dan jasadnya. Allah SWT mengabadikan sikap tersebut dalam berfirman: "Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami." (QS. Ali Imran: 7). Sementara orang-orang munafik, menanggapi perubahan kiblat tersebut dengan negative thinking dan itulah reperesentasi sikap hidup mereka secara keseluruhan yang menunjukkan kekacauan kondisi psikologisnya karena posisi mereka "tidak termasuk dalam golongan ini (orang yang beriman) dan golongan itu (orang kafir)" (QS. An-Nisa: 144). Mereka dengan nada aneh antara lain menyatakan: "Muhammad bingung hendak menghadap ke mana? Seandainya yang pertama benar, lalu mengapa ia meninggalkannya? Seandainya yang kedua benar, berarti selama ini ia berada dalam kebatilan." Adapun orang-orang Yahudi yang karekter dan sifat umumnya memang menentang apapun perintah Allah SWT dan Rasul-Nya serta mengingkari semua kenikmatan yang diberikan-Nya, bersikap sinis dan pertentangan nyata atas perubahan kiblat tersebut. Mereka mengatakan: "Muhammad telah mengingkari kiblatnya para nabi terdahulu. Seandainya ia benar-benar seorang nabi, pastilah ia akan menghadap kiblat para nabi terdahulu." Apapun reaksi mereka, sesugguhnya reaksi tersebut tidak memiliki makna yang cukup berarti karena perubahan arah kiblat merupakan kehendak Allah SWT yang mengandung berbagai sebab dan hikmah, diantaranya: Pertama, Penyatuan seluruh syiar keagamaan kaum muslimin di Makkah dan penegasan pada pengembalian Ka'bah sebagai tempat ibadah pertama manusia di bumi. Kedua, penegasan antara Bait Al-Maqdis dan Bait Al-Baram sebagai dua saudara kandung, karenanya Bait Al-Maqdis tetap dimuliakan dalam Islam dan tidak dapat dihilangkan oleh alasan apapun. Ketiga, sebagai ujian keimanan kaum muslimin kala itu hingga saat ini untuk menentukan siapa yang kuat imannya sehingga tunduk pada perintah Allah dan siapa yang lemah imannya, sehingga kembali dalam kekafirannya. Wallahu A'lam.

 

Penulis dosen pasca sarjana PTIQ Jakarta

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

FW: Pengajian VIKEBA VI'13 (9 Juni 13 - H.Mujiono)

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

From: Dodo J. Joesoef
Sent: Tuesday, May 28, 2013 4:23 PM
To: BDI
Subject: Pengajian VIKEBA VI'13 (9 Juni 13 - H.Mujiono)

 

 

"  P E N G A J I A N    V I K E B A  "

 

 

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

 

 

Kami mengundang Kaum Muslimin dan Muslimat Warga Balikpapan, untuk

bersama-sama mengikuti Pengajian Rutin/Bulanan VIKEBA, yang insya Allah akan diadakan pada :

 

 

Hari                     : A h a d

Tanggal                : 9 Juni 2013 / 2 Sya’ban 1434 H   

Jam                      : 10.30 Wita

Tempat                : Rumah Bp.H.Mujiono,  

  Pondok Karya Agung (POKA) Blok RA-37

  Balikpapan, Telp. 761677, 081350335002.                                 

Penceramah         : Bp.Ust.Drs.H.M.Idris

Tema          :” TAZKIATUN NAFS (PEMBERSIHAN JIWA)  ”

 

                  

Langkah Kaum Muslimin dan Muslimat untuk hadir mengikuti pengajian ini, merupakan manifestasi hablum minAllah dan hablum minannas.

 

 

Billahit taufiq walhidayah

Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,

 

 

Seksi Kerohanian Islam VIKEBA.