Minggu, 07 April 2013

[Reminder ]RE: Taklim Bulanan - Zakatku Sudah Tepat atau Hanya Sekedar Penggugur Kewajiban ?

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

From: Pengurus BDI Jakarta
Sent: Wednesday, April 03, 2013 11:01 AM
Subject: Taklim Bulanan - Zakatku Sudah Tepat atau Hanya Sekedar Penggugur Kewajiban ?

 

Jumat, 05 April 2013

FW: Demi Waktu yang Terus Bergerak

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Suparman
Sent: Friday, April 05, 2013 6:56 AM
To: BDI
Subject: Demi Waktu yang Terus Bergerak

 

Demi Waktu yang Terus Bergerak

Kamis, 04 April 2013, 10:44 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Haji Damanik

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran ( QS  Al ´Ashr (103; 1-3)

Karena waktu yang terus berlari. Manusia pada saatnya mengalami kerugian yang besar. Kerugian yang membuat malang. Kerugian yang akan dirasakan ketika semuanya telah berlalu.

Waktu itu tidak akan kembali. Ia selalu melangkah. Pada setiap langkah yang suci itu, tinggal kita maukah mengisi dengan jejak sejarah dan karya. Ataukah hanya berkhayal dan bermimpi dengan hari esok yang indah.

 Tapak kehidupan ini sesungguhnya kita sendiri-lah yang mengaturnya. Mendesignnya menjadi bidang-bidang yang kita inginkan. Bukan lagi pada takdir ataupun suratan nasib. Kita adalah kita yang terus berlari, berlomba bersama sang waktu.

Setiap dari kita mempunyai jatah waktu yang sama yakni 24 jam dalam sehari semalam. Namun, bila kita amati dengan seksama, waktu yang sama tersebut bisa jadi akan menghasilkan perbedaan yang tajam antar satu sama lain. Ada yang karena kejeniusannya memanfaatkan waktu, seseorang dapat memperoleh kekayaan yang berlipat, tetapi dalam kurun waktu yang sama, banyak orang yang tidak mendapatkan apa-apa dari bergulirnya sang waktu.

Tiba-tiba saja detik berganti jam, jam berganti bulan, bulan berganti tahun. Tiba-tiba terasa rambut sudah memutih, keriput di kulit sudah mulai tampak, tetapi kita terasa belum melakukan apa-apa dalam perjalanan panjang waktu.

Sebegitu berharganya waktu, sehingga sering kita temui orang menyesali perbuatan karena gagal menjadikan waktu sebagai pedoman hidup. Ia dilindas kecepatan waktu tanpa berbuat banyak bagi kehidupan dirinya sendiri ataupun orang lain. Waktu adalah kehidupan yang setiap detiknya tidak akan kembali.

Sekarang ataupun nanti, waktu adalah penguasa bagi kemutlakan yang kekuasaannya tanpa batas.  Sebab, apapun yang kita lakukan semuanya berhubungan dengan waktu. Kita tidak bisa menyuruhnya untuk memperlambat jalannya ataupun menghentikannya. Yang kita bisa adalah bagaimana mengisi waktu untuk mencapai apa yang menjadi keinginan-keinginan kita di masa depan.

Yang harus kita lakukan menggunakan waktu sebaik-baiknya secara efektif dan efisien untuk mengejar mimpi-mimpi, bukan sebaliknya bersantai-santai menikmati waktu luang. Jika tidak, kita akan terlindas oleh derap langkah sang waktu yang tidak mengenal kompromi pada siapapun. Karenanya, diri kita sendirilah yang mesti bertanggung jawab terhadap waktu kita, mau kita pergunakan untuk apa waktu yang milikinya.Tidak cukup menghargainya dengan berleha-leha, bermimpi akan datangnya keajaiban.

Sehingga tepat bila dikatakan, waktu sangat penting bagi orang yang sedang mengejar mimpi. Sampai-sampai bagi pebisnis menyebut waktu sama dengan uang. Setiap detik baginya adalah aliran uang yang masuk ke kantong sakunya.

Mengisi waktu dengan tujuan bermanfaat dan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna adalah sebuah aktivitas yang sama ( Ali Imran 3 : 104).

Tinggal kita mau pilih yang mana ?

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

FW: Kelembutan Hati

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Suparman
Sent: Friday, April 05, 2013 6:49 AM
To: BDI
Subject: Kelembutan Hati

 

Kelembutan Hati

Jumat, 05 April 2013, 03:03 WIB

Zikir dan munajat kepada Allah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ustaz HM Arifin Ilham

Usia suaminya sudah menjelang 40 dan Sayyidah Khadijah menangkap kegelisahan yang makin tampak di wajah itu. Wanita agung ini tidak bertanya. Tetapi beliau dapatkan jawab dari mata Muhammad saw yang senantiasa basah melihat ketidakadilan.

Putri Khuwailid ini tidak bertanya, tapi beliau membaca wajah yang menunduk tiap kali keberhalaan membunuh kemanusiaan; saudagar wanita berhati mulia ini tidak bertanya, tapi memahaminya dari wajah yang perih tiap kali menyaksikan pertikaian tanpa makna.

Dan hari itu adalah puncaknya. Hari itu beliau menyaksikannya bukan dengan wajah segar terlepas dari beban seperti biasanya. Beliau melihat suami terkasihnya menggigil ketakutan.

Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya, Muhammad saw basah kuyup; wajahnya pucat, mimik pias dan napasnya tersengal-sengal. Denyut jantungnya memburu sementara tatapan matanya tercekam seakan dikejar sesuatu yang begitu mengerikan.

“Zammilunii, selimuti aku! Selimuti aku,” lirih suaminya ini dengan wajah pasi dan sinar mata ketakutan.

Sayyidah Khadijah tak kalah cemas. Beliau begitu ketakutan. Hatinya meneriakkan tanya, “Ada apa sebenarnya?” pasti telah terjadi peristiwa besar yang mengguncang. Tentu ini perkara yang serius.

Tapi beliau surut, lisannya dibungkam kuat-kuat. Ditahannya keinginan untuk tahu. Yang dibutuhkan suaminya kini bukan menceritakan apa yang dialami. Yang diperlukannya adalah ketenangan.

Maka kembali ibunda Sayyidah Fatimah ini pun tak bertanya. Sepertinya sikap ummul mukminat ini yang tak bertanya dan tidak bersegera mencari tahu ini hanya persoalan kecil, remeh.

Tapi mari bayangkan apa jadinya riwayat kenabian dan dakwah andai Sayyidah Khadijah adalah istri yang tak mampu memahami apa yang dihajatkan suami pada saat dilanda panik? Apa jadinya jika saat mendapat wahyu pertama Khadijah menampilkan diri sebagai wanita yang tak rela kehilangan berita di momen pertama?

Ternyata beliau ingin mengajari kita sebuah kaidah penting. Bahwa kita harus punya kepekaan hati untuk mengenal kebutuhan orang yang kita cintai. Bahwa kita mesti memiliki kelembutan nurani untuk memberi kesempatan ruh orang yang spesial di hati kita melepaskan beban-bebannya.

Karenanya kepedulian yang terlembut bukan sekadar rasa ingin tahu. Tapi kepedulian yang terlembut kadang tampil dalam bentuk kesadaran bahwa mungkin kita belum perlu tahu sampai tibanya suatu waktu. Sungguh kesabaran akan menuntun kita untuk tahu, di saat yang tepat dengan cara yang super indah!

Jelilah melihat keadaan diri dan keadaan orang lain. Pintar-pintarlah membaca situasi terbaik yang dibutuhkan.

Ternyata memberondong dengan berbagai pertanyaan kepada istri atau suami atau anak dan siapa pun orang dekat kita, meski terkesan baik dan seakan peduli, menjadi tidak efektif jika tidak pas dan tepat waktu dan situasinya.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

FW: Aku punya ceritra

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

 

From: Muh. Thamsil
Sent: Friday, April 05, 2013 7:57 AM
To: BDI
Subject: RE: Aku punya ceritra

 

 

Salam,

 

Muh. Thamsil

Bussiness Planning & Control | SCM Dept. | VICO Indonesia

Phone : 0541-524211, Mobile : 085-252639424

Email   : Muhammad.Thamsil@vico.co.id

 

 

 

Sahabat….

 

 

Tedy remaja kelas 5 SD berubah menjadi anak yg pendiam, suka menyendiri, tdk semangat belajar, sulit diajak bicara dan dianggap aneh oleh teman2 juga gurunya.

 

Suatu hari mereka memberikan hadiah kepada ibu guru Any sebagai tanda kenaikan kelas. Seperti biasa kado dibuka didepan kelas.

 

Semua kado dibungkus dgn kertas warna warni dan pita yg indah kecuali kado Tedy dibungkus dgn kertas coklat pembungkus nasi tanpa pita dan ketika dibuka berisi parfum yg sudah setengah (bekas pakai) dan sebuah gelang yang sederhana.

 

Semua teman2 tertawa tentunya namun ibu guru langsung memakai gelangnya dan menyemprot parfum di badannya dan ruangan begitu harum seketika, yah untuk membuat Tedy senang tentunya.

 

Setelah semua teman pulang, Tedy mendatangani ibu guru dan berkata " ibu sangat cantik dgn gelang itu dan itu kepunyaan ibuku yg paling berharga, aku sangat senang dgn parfum itu dan kini aku sedang mencium bau ibuku"....

 

Ibu Any sangat kaget dan merah mukanya krn senang mendengarnya.....setelah Tedy pergi ibu any langsung mencari file Tedy :

- kelas 1 tedy anak pandai di kelas, periang, punya banyak teman

- kelas 2 tedy, suka  murung dan kurang semangat belajar , ibunya sakit

- kelas 3 tedy, prestasi belajar menurun, pendiam, menyendiri, ibunya meninggal dunia

- kelas 4 tedy, prestasi belajar menurun, sulit diajak bicara, minder, dijauhi teman, ayahnya tdk memperdulikannya.

 

Besok harinya, ibu Any langsung menemui Tedy, memeluknya, mengajak ngobrol, mengajarnya, pokoknya memberikan perhatian penuh kpd tedy.......

 

ibu any telah memakai kacamata kasih dan merubah dunianya.......

 

Beberapa thn kemudian tedy mengirim surat kpd ibu any "trima kasih bu, aku sudah lulus sma rangking 2 di kelasku"

 

Beberapa thn kemudian, tedy mengirim surat lagi "terima kasih bu any, sekarang aku sudah lulus fakultas kedokteran dgn nilai cumlaude"

 

dan beberapa tahun kemudian ibu any menerima surat lagi " tks bu, sekarang aku sudah menjadi dokter, dan akan menikah, aku mengundang ibu datang ke pernikahanku dan aku pastikan ibu any yang akan duduk di kursi depan tempat yg akan diduduki ibuku"

 

Ibu any, sangat terharu, hatinya gado2,  gembira dgn air mata......ternyata segala sesuatu bisa berubah kalau saja Kita memandang orang lain dgn memakai mata kasih-Nya…………..

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 03 April 2013

FW: Ini Rahasia Keistimewaan Ibadah Shalat

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

 

From: Suparman
Sent: Thursday, April 04, 2013 6:35 AM
To: BDI
Subject: Ini Rahasia Keistimewaan Ibadah Shalat

 

Ini Rahasia Keistimewaan Ibadah Shalat

Rabu, 03 April 2013, 13:11 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Bahri Baidhawi
Suatu ketika Abdullah bin Mas'ud bertanya pada Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam, "Wahai Rasulullah pekerjaan apa yang paling Allah cintai?"
Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya".

Ia bertanya, "Lalu apalagi ya Rasul?" 
Beliau menjawab, "Taat kepada orang tua."

Ia bertanya: "Lalu apalagi Ya Rasul?" 
Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah."

Hadis di atas diriwayatkan lebih dari satu imam, sebut saja Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Ahmad, Dârul Quthni dan yang lainnya.

Hadis ini cukup menarik perhatian kita, selain perawinya yang banyak, kandungan hadis di atas pun layak untuk dicermati. Mengapa shalat tepat pada waktunya dapat menempati rating teratas dari sekian banyak pekerjaan yang sangat Allah cintai?

Ternyata shalat tepat waktu dapat "menyisihkan" ketaatan pada orang tua dan jihad di jalan Allah. Padahal, sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa perintah untuk taat pada orang tua adalah perintah yang sangat penting, terbukti hampir dalam setiap larangan menyekutukan Tuhan (syirik) selalu disandingkan dengan perintah untuk menaati orang tua. Belum lagi dengan Jihad.

Ternyata "shalat tepat pada waktunya" dapat mengungguli sebuah amalan yang balasannya sudah dijanjikan Allah berupa surga dan selalu menjadi idaman seluruh Muslim.
Menurut Prof Musthafa 'Imarah, Dosen Hadis dan Ilmu Hadis Fakultas Ushuludin Univeristas Al-Azhar, Kairo, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam memang tidak hanya sekali ditanya tentang pekerjaan yang paling dicintai Allah.

Jawaban Beliau pun variatif disesuaikan dengan orang yang bertanya dan kondisi saat itu. Walau demikian, hadis shalat pada awal waktu adalah hadis terbanyak yang terdapat dalam kitab-kitab hadist dibanding dengan hadis-hadis lain.

Kenyataan ini cukup menarik hingga Ibnu Hajar dalam "Fathul Bari"-nya menukil perkataan Ibnu Bazizah bahwa jihad memang didahulukan dibanding pekerjaan fisik yang lain karena ia merupakan pekerjaan yang berat, akan tetapi kesabaran untuk menjaga shalat dan melaksanakannya "tepat waktu" adalah pekerjaan yang terus dilakukan secara berulang-ulang hingga hanya orang yang benar-benar bertakwalah yang dapat terus menjaganya.

Dr Abdul Fattah Abu Ghuddah menyimpulkan bahwa dalam hadis tersebutlah terdapat kunci kesuksesan Umat Islam, yaitu dengan "memanfaatkan waktu". Beliau berargumen karena shalat termasuk ibadah yang sudah ditentukan waktunya.

Jika seorang Muslim melaksanakannya tepat waktu, dan juga selalu memperhatikan setiap pekerjaan pada waktunya, maka hal itu akan membuat semua janji dan pekerjaan yang ada di dunianya dapat mudah terlaksana dengan baik sebagaimana mestinya. Karena telah menjadi pola kebiasaan dan watak dalam prilaku serta kehidupan seorang Muslim.

Dari sinilah terlihat jelas rahasia mengapa syariat mengistimewakan ibadah shalat dibanding seluruh ibadah lain.

Selain shalat sebenarnya syariat pun telah menggambarkan beberapa pekerjaan yang harus sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Seperti haji, zakat (baik zakat fitr atau zakat mâl), puasa, berkurban, memberi nafkah, utang, gadai, bertamu, haid, nifas dan lain-lain.

Dari sini Islam ingin mengisyaratkan akan pentingnya penentuan waktu dan banyaknya kemaslahatan dan manfaat yang ada di dalamnya.

Mudah-mudahan kita selalu dijadikan orang-orang yang selalu menjaga shalat dan menjadi hamba yang "on time". Allahu wa Rasuluhu a'lam.

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

FW: Burung Kecil Yang Memadamkan Api…

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

 

-----Original Message-----
From: Agam210979@gmail.com [mailto:agam210979@gmail.com]
Sent: Thursday, April 04, 2013 6:17 AM
To: BDI
Subject: Burung Kecil Yang Memadamkan Api…

 

 

Burung Kecil Yang Memadamkan Api…

 

Published on Monday, 01 April 2013 07:58 Oleh : Muhaimin Iqbal

 

Di kalangan suku Aztec Meksiko mereka memiliki cerita rakyat bahwa dahulu kala terjadi kebakaran besar di hutan mereka. Semua makhluk yang ada di hutan itu lari menyelamatkan diri, kecuali sekelompok burung-burung kecil yang berterbangan mengambil air dalam paruhnya untuk memadamkan api yang sangat besar. Melihat apa yang dilakukan burung-burung kecil ini, burung-burung yang lebih besar mendatanginya sambil bertanya : "Apa yang sedang kalian lakukan  ?"

 

Burung-burung kecil tersebut menjawab : "kami sedang berusaha memadamkan kebakaran hutan ini". Dengan geregetan burung-burung besar tersebut berteriak : "kamu tidak akan bisa melakukannya ! kami saja yang besar juga tidak bisa melakukannya, apalagi kamu ! Ayo kita menyelamatkan diri kita saja !".

 

Burung-burung besar tersebut kemudian terbang sekuat tenaga meninggalkan hutan yang lagi terbakar. Demikian pula dengan seluruh makhluk yang ada di hutan itu, mereka berlarian menjauh dari hutan untuk menyelamatkan diri. Tetapi tidak sekelompok burung-burung kecil tadi, mereka tetap mengambil air dengan paruhnya yang sangat kecil untuk memadamkan api yang sangat besar membakar hutan mereka.

 

Atas kehendak Yang Maha Kuasa, kebakaran hutan itu akhirnya padam – tetapi suku Aztec Mexico – yang tidak mengenal Tuhannya dengan benar, mereka berkepercayaan bahwa burung-burung kecil inilah yang memadamkan api.

 

Dalam Islam, orang beriman memiliki kewajiban untuk berbuat sesuatu manakala melihat kemungkaran. Yang terbaik tentu berbuat dengan (tangan) atau kekuasaannya, kalau tidak bisa baru dengan ucapannya (jaman sekarang bisa berarti tulisan !), dan kalau inipun tidak bisa setidaknya mengubah (menolak) dalam hatinya – dan ini selemah-lemah iman.

 

"Barangsiapa diantara kamu  yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika ia tidak mampu, maka  ubahlah dengan lisannya; dan jika tidak mampu, (ubahlah) dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman." (HR Bukhari, Muslim, dan Ashabus Sunan).

 

Kemungkaran di jaman ini banyak sekali bentuknya, bisa berupa kebijakan publik yang menyengsarakan rakyat. Bisa system ekonomi yang membuat si kaya tambah kaya dan memperbanyak jumlah penduduk miskin. Bisa berupa penyia-nyiaan lahan produktif hanya untuk kepentingan spekulasi, penguasaan berlebihan sumber daya alam oleh sekelompok orang tertentu dlsb. dlsb.

 

Intinya kita harus berbuat sesuatu bila melihat kemungkaran, bila selemah-lemah iman itu mengubah atau menolak dalam hati, berarti kalau hati kita tidak menolaknya – jangan-jangan memang tidak ada atau belum ada iman di hati kita ?

 

Bisa jadi yang kita lakukan ini adalah hal yang sangat kecil, seperti air dalam paruh burung-burung kecil di atas. Akal manusia-pun tidak sampai bisa memahami air yang sangat kecil tersebut untuk memadamkan kebakaran hutan.

 

Tetapi di hadapan Yang Maha Kuasa, tidak ada yang terlalu kecil untuk merubah sesuatu yang sangat besar. Anak-anak kecil Palestina-pun membuktikannya dengan ketapel-ketapel dan lemparan kerikil mereka, mereka mampu menghadang tank-tank yang canggih penjajah Zionis Israel. Maka sekarang waktunya kita berbuat untuk melawan kemungkaran itu, sekecil apapun yang bisa kita lakukan…mudah-mudahan dengan yang kecil itu kita bisa menghadirkan pertolonganNya Yang Maha Kuasa !. Amin.

 

"…dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar…." (QS 8 : 17)

 

 

 

Disclaimer:
The contents of this email, together with its attachments, may contain confidential information belong to Virginia Indonesia Co., LLC ("VICO") and Virginia Indonesia Co., CBM Limited  ("VICO CBM"). If you are not the intended recipient, please notify the sender immediately and delete this e-mail from your system, and you should not disseminate, distribute, copy or otherwise use this email or any part thereof.

Selasa, 02 April 2013

FW: Permata Dunia

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Suparman
Sent: Tuesday, April 02, 2013 6:57 AM
To: BDI
Subject: Permata Dunia

 

Permata Dunia

Jumat, 29 Maret 2013, 06:07 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Soraya Khoirunnisa Halim
Rasulullah SAW bersabda, “Dunia adalah kenikmatan (sementara) dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah” (HR. Muslim). Diantara kenikmatan adalah keindahan. Dan permata dapat dijadikan simbol keindahan yang tertinggi. Maka dalam hal ini wanita diibaratkan sebagai permata.

Hadis di atas mengisyaratkan bahwa pada dasarnya setiap wanita memiliki potensi yang luar biasa. Setiap wanita memiliki kesempatan untuk menjadi permata dunia. Namun, banyak yang salah kaprah menginterpretasikan maksud dari “permata dunia” yang sesungguhnya.  Tidak dapat disangkal bahwa wanita adalah keindahan. Mungkin mayoritas menyadari akan keindahan itu.

Namun hanya minoritas yang mengerti bagaimana menjaga keindahan yang dimiliki wanita. Sehingga, banyak permata yang tercuri keindahan dan kemuliaannya, tetapi si pemilik tidak merasa. Bahkan  cenderung sengaja mengeksploitasi keindahannya. (Menemukan Permata yang Hilang : 6).

Hadis di atas menjelaskan bagaimana wanita dapat menduduki posisi yang terhormat “sebaik-baik perhiasan dunia”. Yaitu dengan menjadi wanita salehah. Kemudian muncul pertanyaan bagaimana menjadi wanita salehah?

Marilah merenungi QS. An-Nisa : 34.”Maka wanita salehah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara mereka.”

Dari Ayat tersebut terdapat dua unsur menjadi wanita salehah. Pertama adalah taat kepada Allah. Implementasi daripada ketaatan kepada Allah dapat terlihat dari sejauh mana seorang wanita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Wanita yang salehah akan berusaha memahami apa yang diperintahkan Allah kemudian menjalankannya. Sekaligus memahami apa yang menjadi larangan Allah dan kemudian menjauhinya.

Kedua adalah memelihara diri. Dalam beberapa kajian kitab tafsir, memelihara diri ini terkait dengan memelihara atau menjaga kehormatan diri dan harta suami ketika suami tidak ada. Dalam konteks wanita sebagai “permata” yang memiliki potensi untuk memancarkan keindahan, maka memelihara diri dalam ayat ini dapat dimaksudkan memelihara dan menjaga kemuliaan “permata” yang terdapat pada diri wanita. Menjaga pergaulan dan menutup aurat sebagaimana yang telah diperintahkan Allah dalam QS. An-Nur : 31. Sehingga permata yang dimiliki wanita betul terjaga keindahannya.

Sebuah permata yang sangat mahal harganya tidak akan begitu saja diletakkan di etalase. Seperti aksesoris perhiasan yang memang sengaja dipajang. Sehingga siapapun yang ingin melihat dapat melihat sesukanya. Siapapun bisa memilih, menyentuh lalu kemudian mengembalikannya lagi jika ternyata tidak sesuai dengan selera.

Namun, permata yang sangat mahal akan diletakkan pada brankas besi yang terjaga dengan sistem keamanan kelas tinggi. Tidak sembarang orang dapat melihat. Apalagi menyentuhnya. Hanya orang yang memiliki kemampuan finansial dan kesiapan yang prima sajalah yang dapat memiliki permata tersebut.

Begitulah perumpamaan sederhana dari wanita yang tidak menghormati dan menghargai “keindahannya” dengan wanita yang sadar akan keindahan yang ada dalam dirinya, lalu kemudian betul-betul menjaganya sehingga menjelma menjadi permata dunia.

Semoga para wanita dapat menjadi permata dunia yang bersinar mahal lagi menyejukkan. Bukan permata yang hilang sinarnya. Dan para laki-laki dapat bijaksana memilih wanita salehah sebagai pendampingnya, sehingga dia mendapatkan sebaik-baik kenikmatan dunia ini. Permata dunia.

 

Redaktur : Heri Ruslan