Selasa, 02 April 2013

FW: Taklim Bulanan - Zakatku Sudah Tepat atau Hanya Sekedar Penggugur Kewajiban ?

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Pengurus BDI Jakarta
Sent: Wednesday, April 03, 2013 11:01 AM
Subject: Taklim Bulanan - Zakatku Sudah Tepat atau Hanya Sekedar Penggugur Kewajiban ?

 

FW: Nurani

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Suparman
Sent: Tuesday, April 02, 2013 6:50 AM
To: BDI
Subject: Nurani

 

Nurani

Sabtu, 30 Maret 2013, 03:03 WIB

Pemandangan matahari terbenam di Masjid Nabawi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Yaswirman
Allah SWT tidak menganugerahkan dua hati bagi manusia. Istilah dua hati identik dengan hati mendua, yakni wujud dari keragu-raguan dalam bertindak.

Hakikat hati dalam Alquran disebut dengan qalbu yang bermakna jantung. Qalbu atau jantung, karena berbentuk segumpal daging, disebut juga dengan mudghah.

Rasulullah bersabda: “Dalam tubuh ada mudghah, jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik pula. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hati yang baik disebut qalbun salim selalu mendapat petunjuk dari Allah dan dibimbing untuk bertindak baik. Karena itu ia disebut hati nurani (hati yang bercahaya).

Sedangkan hati yang tidak baik disebut qalbu ghairu salim dimurkai oleh Allah dan disebut juga dengan hati zhulmani (hati yang gelap/zalim). Karena itu tidak mungkin hati kita separuhnya nurani dan separohnya lagi zhulmani.

Nurani berasal dari kata nur yang berarti cahaya atau perunjuk. Dalam Alquran tidak ditemukan kata jamaknya, seperti yakni anwar (beberapa cahaya), begitu kata al-huda  dan al-haqq juga tunggal. Karena itu, cahaya atau petunjuk itu hanya satu karena bersumber dari Yang Satu, yakni Allah.

Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk berislam, maka ia memperoleh nur/petunjuk dari Tuhannya.” (QS az-Zumar [39]: 22). Pada ayat lain: “Allah membimbing melalui nur-Nya terhadap siapa saja yang dikehendaki-Nya” (QS an-Nur [24]: 35).

Hati nurani selalu terbuka menerima dan menyampaikan yang benar, membimbing mulut untuk berkata benar, mata untuk melihat yang baik, telinga untuk mendengar yang bermanfaat. Bahkan ketika mendengar pembicaraan, diseleksi yang terbaiknya (QS az-Zumar [39]: 18).

Rasulullah bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang benar, kalau tidak bisa, sebaiknya diam.” (HR Muslim). Pepatah mengatakan: “Diam itu emas, bicara itu perak.”

Bagi yang memiliki hati nurani selalu rindu untuk dekat kepada Allah, jiwa terasa tenang dan damai (nafs al-muthmainnah), jauh dari kegelisahan. Kerinduan itupun disambut oleh Allah dengan firman-Nya: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh rasa ridha, bergabunglah bersama hamba-hamba-Ku (yang saleh) dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr [89]: 27-30).

Kebalikan dari hati nurani adalah hati zhulmani yang berarti gelap/zalim. Kata zhalim  sering ditemukan dalam Alquran dalam bentuk jamak atau zhulumaat. “Allah pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan (azh-zhulumaat) kepada petunjuk (an-nur)… (QS Al-Baqarah [2]: 257). Kalau kebenaran itu satu, maka kezaliman itu cenderung banyak.

Gelap dari petunjuk berarti menutup diri dari kebenaran, cenderung kepada dishamonisasi, memutus silaturahim, egois, suka membuat teror dan provokasi. Jika suatu kebenaran merugikan dirinya, selau ia tutup-tutupi.

Mempermainkan kata-kata adalah wujud dari kezaliman hati. Gambaran bagi orang yang punya hati zhulmani lebih sesat dari binatang, (QS. Al-A`raf [7]: 179). Na`uzdubillah. 

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

FW: Kita Kelompok yang Mana? < Jamil Azzaini

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

-----Original Message-----
From: Nana Triana
Sent: Monday, April 01, 2013 9:54 AM
To: BDI
Subject: Kita Kelompok yang Mana? « Jamil Azzaini

 

 

http://www.jamilazzaini.com/kita-kelompok-yang-mana/

 

Kita Kelompok yang Mana?

 

Menurut Khalil bin Ahmad, ada empat jenis manusia. Pertama, orang yang memiliki ilmu dan ia mengetahui dirinya memiliki ilmu, lalu mengamalkannya. Terhadap kelompok yang pertama ini segera contoh dan bergurulah. Jangan ditunda-tunda. Perbanyak waktu bersama mereka agar Anda mendapatkan “cipratan” ilmunya.

 

Kedua, orang yang mempunyai ilmu tetapi ia tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki ilmu, hingga dirinya tidak beramal dengan ilmu yang dimilikinya itu. Berhati-hatilah bertemu dengan orang-orang seperti ini, boleh jadi tutur katanya indah dan terlihat cerdas namun ia enggan beramal sholeh.

 

Kelompok kedua dua ini pandai berdiskusi namun miskin dalam aksi. Senang mengkritisi aksi orang lain padahal reputasi mereka di dunia aksi sangatlah tak terdeteksi. Atau dengan kata lain, kelompok kedua ini adalah kelompok wacana. Berhati-hatilah, Anda bisa mendapat pengaruh buruk dari kelompok kedua ini.

 

Ketiga, orang yang tidak memiliki ilmu, dan ia mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki ilmu. Orang ini sadar dengan keterbatasannya sehingga ia ingin memiliki ilmu. Terhadap orang seperti ini, selayaknya diberikan bimbingan yang dibutuhkan. Mereka haus ilmu, mereka ingin bertumbuh maka berikanlah ilmu terbaik kepada mereka.

 

Keempat, orang yang tidak memiliki ilmu, namun ia tidak mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki ilmu. Orang-orang semacam ini biasanya sombong dan angkuh. Ia sebenarnya bodoh namun tidak sadar bahwa dirinya bodoh. Sulit menerima nasehat karena sudah merasa hebat. Menjauhlah dari kelompok ini karena tidak banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan.

 

Bila Anda punya ilmu, jadilah seperti kelompok pertama, Anda mengamalkannya dan menyebarluaskannya. Sebaliknya, apabila Anda merasa belum punya banyak ilmu jadilah seperti kelompok ketiga. Terus belajar kepada orang-orang seperti kelompok pertama.

 

Berhentilah sejenak, renungkanlah. Kira-kira Anda termasuk kelompok yang mana? Semoga tidak termasuk kelompok yang kedua atau keempat.

 

Salam SuksesMulia!

 

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Senin, 01 April 2013

FW: Kita Kelompok yang Mana? < Jamil Azzaini

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

-----Original Message-----
From: Nana Triana
Sent: Monday, April 01, 2013 9:54 AM
To: BDI
Subject: Kita Kelompok yang Mana? « Jamil Azzaini

 

 

http://www.jamilazzaini.com/kita-kelompok-yang-mana/

 

Kita Kelompok yang Mana?

 

Menurut Khalil bin Ahmad, ada empat jenis manusia. Pertama, orang yang memiliki ilmu dan ia mengetahui dirinya memiliki ilmu, lalu mengamalkannya. Terhadap kelompok yang pertama ini segera contoh dan bergurulah. Jangan ditunda-tunda. Perbanyak waktu bersama mereka agar Anda mendapatkan “cipratan” ilmunya.

 

Kedua, orang yang mempunyai ilmu tetapi ia tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki ilmu, hingga dirinya tidak beramal dengan ilmu yang dimilikinya itu. Berhati-hatilah bertemu dengan orang-orang seperti ini, boleh jadi tutur katanya indah dan terlihat cerdas namun ia enggan beramal sholeh.

 

Kelompok kedua dua ini pandai berdiskusi namun miskin dalam aksi. Senang mengkritisi aksi orang lain padahal reputasi mereka di dunia aksi sangatlah tak terdeteksi. Atau dengan kata lain, kelompok kedua ini adalah kelompok wacana. Berhati-hatilah, Anda bisa mendapat pengaruh buruk dari kelompok kedua ini.

 

Ketiga, orang yang tidak memiliki ilmu, dan ia mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki ilmu. Orang ini sadar dengan keterbatasannya sehingga ia ingin memiliki ilmu. Terhadap orang seperti ini, selayaknya diberikan bimbingan yang dibutuhkan. Mereka haus ilmu, mereka ingin bertumbuh maka berikanlah ilmu terbaik kepada mereka.

 

Keempat, orang yang tidak memiliki ilmu, namun ia tidak mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki ilmu. Orang-orang semacam ini biasanya sombong dan angkuh. Ia sebenarnya bodoh namun tidak sadar bahwa dirinya bodoh. Sulit menerima nasehat karena sudah merasa hebat. Menjauhlah dari kelompok ini karena tidak banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan.

 

Bila Anda punya ilmu, jadilah seperti kelompok pertama, Anda mengamalkannya dan menyebarluaskannya. Sebaliknya, apabila Anda merasa belum punya banyak ilmu jadilah seperti kelompok ketiga. Terus belajar kepada orang-orang seperti kelompok pertama.

 

Berhentilah sejenak, renungkanlah. Kira-kira Anda termasuk kelompok yang mana? Semoga tidak termasuk kelompok yang kedua atau keempat.

 

Salam SuksesMulia!

 

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini Powered by XL BlackBerry®

FW: Nurani

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

From: Suparman
Sent: Tuesday, April 02, 2013 6:50 AM
To: BDI
Subject: Nurani

 

Nurani

Sabtu, 30 Maret 2013, 03:03 WIB

Pemandangan matahari terbenam di Masjid Nabawi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Yaswirman
Allah SWT tidak menganugerahkan dua hati bagi manusia. Istilah dua hati identik dengan hati mendua, yakni wujud dari keragu-raguan dalam bertindak.

Hakikat hati dalam Alquran disebut dengan qalbu yang bermakna jantung. Qalbu atau jantung, karena berbentuk segumpal daging, disebut juga dengan mudghah.

Rasulullah bersabda: “Dalam tubuh ada mudghah, jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik pula. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hati yang baik disebut qalbun salim selalu mendapat petunjuk dari Allah dan dibimbing untuk bertindak baik. Karena itu ia disebut hati nurani (hati yang bercahaya).

Sedangkan hati yang tidak baik disebut qalbu ghairu salim dimurkai oleh Allah dan disebut juga dengan hati zhulmani (hati yang gelap/zalim). Karena itu tidak mungkin hati kita separuhnya nurani dan separohnya lagi zhulmani.

Nurani berasal dari kata nur yang berarti cahaya atau perunjuk. Dalam Alquran tidak ditemukan kata jamaknya, seperti yakni anwar (beberapa cahaya), begitu kata al-huda  dan al-haqq juga tunggal. Karena itu, cahaya atau petunjuk itu hanya satu karena bersumber dari Yang Satu, yakni Allah.

Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk berislam, maka ia memperoleh nur/petunjuk dari Tuhannya.” (QS az-Zumar [39]: 22). Pada ayat lain: “Allah membimbing melalui nur-Nya terhadap siapa saja yang dikehendaki-Nya” (QS an-Nur [24]: 35).

Hati nurani selalu terbuka menerima dan menyampaikan yang benar, membimbing mulut untuk berkata benar, mata untuk melihat yang baik, telinga untuk mendengar yang bermanfaat. Bahkan ketika mendengar pembicaraan, diseleksi yang terbaiknya (QS az-Zumar [39]: 18).

Rasulullah bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang benar, kalau tidak bisa, sebaiknya diam.” (HR Muslim). Pepatah mengatakan: “Diam itu emas, bicara itu perak.”

Bagi yang memiliki hati nurani selalu rindu untuk dekat kepada Allah, jiwa terasa tenang dan damai (nafs al-muthmainnah), jauh dari kegelisahan. Kerinduan itupun disambut oleh Allah dengan firman-Nya: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh rasa ridha, bergabunglah bersama hamba-hamba-Ku (yang saleh) dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr [89]: 27-30).

Kebalikan dari hati nurani adalah hati zhulmani yang berarti gelap/zalim. Kata zhalim  sering ditemukan dalam Alquran dalam bentuk jamak atau zhulumaat. “Allah pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan (azh-zhulumaat) kepada petunjuk (an-nur)… (QS Al-Baqarah [2]: 257). Kalau kebenaran itu satu, maka kezaliman itu cenderung banyak.

Gelap dari petunjuk berarti menutup diri dari kebenaran, cenderung kepada dishamonisasi, memutus silaturahim, egois, suka membuat teror dan provokasi. Jika suatu kebenaran merugikan dirinya, selau ia tutup-tutupi.

Mempermainkan kata-kata adalah wujud dari kezaliman hati. Gambaran bagi orang yang punya hati zhulmani lebih sesat dari binatang, (QS. Al-A`raf [7]: 179). Na`uzdubillah. 

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

FW: Belajar dari Nyamuk

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

From: Suparman
Sent: Monday, April 01, 2013 7:19 AM
To: BDI
Subject: Belajar dari Nyamuk

 

Belajar dari Nyamuk

Sabtu, 30 Maret 2013, 17:54 WIB

(Illustrasi) Nyamuk Anophles, penular Malaria

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhbib Abdul Wahab
"Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?"

Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik."(QS Al-Baqarah [2]: 26).

Ayat tersebut secara tidak langsung memotivasi dan mengilhami kita semua untuk mau belajar dari nyamuk. Karena tidak mungkinkan Allah SWT membuat perumpamaan tanpa ada pelajaran berharga yang dapat dipetik oleh yang mau mempelajarinya.

Dari sekian banyak makhluk Allah, fakta empirik menunjukkan nyamuk merupakan serangga yang paling banyak membunuh manusia, meskipun ukurannya tergolong sangat kecil.

Menurut sebuah riwayat, raja superdiktator,  Namrud juga mati karena telinganya dipenuhi dan digigit nyamuk. Hampir setiap hari ada saja warga kita meninggal akibat terkenan DBD.

Tidak sedikit pula warga yang terserang cikungunya yang virusnya juga ditularkan melalui gigitan nyamuk. Mengapa manusia banyak mati karena nyamuk daripada karena gigitan ular atau binatang buas lainnya?

Fakta tersebut setidaknya menjadi pelajaran yang sangat bernilai bagi manusia. Pertama, siapa pun yang ingin terbebas dari bahaya nyamuk tentu harus menjaga kebersihan lingkungan. 

Dalam hal ini, peluang untuk perkembangbiakan nyamuk perlu diminimalisir, misalnya dengan menguras dan membersihkan bak atau penampungan air secara rutin, mengubur barang-barang bekas, dan menangkal diri dari gigitan nyamuk dengan tanaman pengusir nyamuk atau obat anti nyamuk.

Kedua, nyamuk telah menginspirasi pentingnya profesi dokter di bidang penyakit akibat gigitan nyamuk. Nyamuk juga mengilhami aneka ragam produk obat anti nyamuk. Hal ini tentu menguntungkan para produsen, pekerja, pegawai, dan sebagainya.

Belum ada produk 'penolak' yang melebihi produk anti nyamuk. Jadi, nyamuk sesungguhnya dapat menyebabkan kematian, sekaligus kehidupan bagi banyak orang. Tidak terhitung berapa banyak orang yang dapat bertahan hidup karena bekerja pada perusahaan produksi obat nyamuk.

Ketiga, nyamuk memang suka usil dan mengganggu kenyamanan tidur kita.  Tapi ketika menggigit dan mengisap darah kita, nyamuk pada dasarnya melatih kesabaran dan 'kedermawanan' kita untuk mendonorkan sebagian darah yang kita miliki. 

Keempat, nyamuk merupakan objek penelitian yang sangat menantang. Menurut Harun Yahya, manusia sering salah paham terhadap nyamuk. Misalnya, makanan nyamuk adalah darah manusia, padahal tidak semua nyamuk mengisap darah manusia.

Hanya nyamuk betina yang mengisap darah manusia. Nyamuk jantan ada yang mengisap dedaunan, buah-buahan, dan lainnya.

Ketajaman penciuman dan kemampuan menyuntik, bagaimana virus ditularkan nyamuk kepada manusia, dan lainnya sungguh menantang para ilmuwan untuk menemukan jawabannya secara ilmiah.

Nyamuk sering disepelekan manusia, padahal ia merupakan salah satu serangga yang banyak memberi pelajaran bagi manusia. Karena itulah Allah SWT membuat perumpamaan dengannya. 

Hikmah di balik penciptaan nyamuk itu sungguh luar biasa. Tidak hanya mendorong kita selalu menjaga kebersihan lingkungan, melainkan juga menginspirasi kita untuk mengembangkan riset ilmiah untuk memajukan ilmu pengetahuan.

 "Ya Tuhan kami, sungguh tidak ada yang sia-sia  apa yang telah Engkau ciptakan. (QS Ali Imran [3]: 191).

Kita memang harus belajar dari nyamuk untuk bisa hidup sehat dan jauh dari penyakit sekaligus memajukan sains dan teknologi di bidang 'pernyamukan'. Wallahu a'lam bish-shawab!

 

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

FW: Mengelola Yang Cukup…

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

-----Original Message-----
From: Agam97@gmail.com [mailto:agam97@gmail.com]
Sent: Saturday, March 30, 2013 8:17 AM
To: BDI
Subject: Mengelola Yang Cukup…

 

 

Mengelola Yang Cukup…

 

 

Published on Monday, 25 March 2013 06:23 Oleh : Muhaimin Iqbal

 

Ketika Thomas Malthus mengeluarkan teorinya (1798) bahwa populasi dunia tumbuh secara deret ukur (1,2,4, 8 dst…) sedangkan sumber daya kehidupan tumbuh secara deret hitung (1,2,3,4 dst…), saat itu penduduk dunia belum mencapai 1 Milyar. Gara-gara teori tersebut, timbul pemikiran yang ganjil dari Thomas Malthus ini – bahwa tidak ada gunanya mengentaskan kemiskinan – karena bila si miskin tambah makmur, dia akan menambah anak dan problem kekurangan sumber daya kehidupan akan semakin serius.

 

 

Pemikiran Thomas Malthus yang ganjil tersebut kemudian menjadi justifikasi bagi Karl Marx, Lenin dan teman-temannya – untuk menentang kapitalisme. Menurut mereka ini justru itu perlunya sumber daya-sumber daya kehidupan yang terbatas tersebut untuk dibagi sama rata dan sama rasa agar cukup bagi semua.

 

 

Separuh saja dari teorinya Thomas Malthus yang mendekati kebenaran , yaitu bahwa penduduk bumi tumbuh secara deret ukur. Dua tahun setelah teori tersebut penduduk bumi mencapai 1 Milyar pertama (1800), ini adalah hampir 12,000 tahun sejak peradaban manusia mengenal pertanian menetap. Sejak saat itu jumlah penduduk bumi melesat dengan cepat seiring dengan peningkatan kemakmurannya.

 

 

130 tahun kemudian penduduk bumi mencapai 2 milyar (1930), 30 tahun kemudian mencapai 3 milyar (1960), 15 tahun kemudian mencapai 4 milyar (1975),  12 tahun kemudian mencapai 5 milyar (1987),  12 tahun kemudian mencapai 6 milyar (1999) dan 12 tahun kemudian mencapai 7 milyar (2011). Lihat kelipatan ini,  12,000 tahun  untuk mencapai jumlah 1 milyar dan hanya perlu sekitar 200 tahun kemudian untuk mencapai 7 Milyar !. Dengan pertumbuhan seperti ini penduduk bumi akan mencapai 8 Milyar sebelum tahun  2023 !.

 

 

Sisi pertumbuhan populasi bumi secara deret ukur tersebut nampaknya akan terbukti tetapi sisi sumber daya kehidupan ternyata juga tetap cukup untuk menopang kehidupan penduduk bumi yang kini sudah lebih dari 7 Milyar dan akan segera mencapai 8 milyar ini. Artinya sisi lain teori Thomas Malthus bahwa penopang kehidupan yang tumbuh secara deret hitung terbukti tidak benar, penduduk bumi secara kumulatif ternyata tidak berkurang kemakmurannya kini dibandingkan dengan ketika teori Malthus tersebut  dikeluarkan lebih dari dua abad lalu - ketika penduduk bumi belum mencapai 1 Milyar pertamanya.

 

 

Tetapi kecukupan penopang kehidupan bukan berarti tanpa masalah. Dengan pola ekonomi yang dikendalikan kapitalisme sekarang, rata-rata penduduk negara maju seperti Amerika menyerap  sumber daya kehidupan di bumi 32 kali lebih banyak dari yang diserap rata-rata penduduk negeri miskin seperti Kenya misalnya . Sumber daya kehidupan yang disedot mereka ini meliputi pangan, air, energy, mineral, hasil tambang dlsb.

 

 

Jadi masalahnya jelas, bukan sumber daya kehidupan di bumi yang tumbuh secara deret hitung sehingga tidak bisa mengejar pertumbuhan populasi yang tumbuh secara deret ukur – tetapi lebih pada masalah distribusi sumber daya tersebut yang tidak dilakukan secara adil.

 

 

Berbagai system mulai dari keuangan, perdagangan, standar industri, teknologi dlsb. diciptakan untuk mengunggulkan segelintir orang atau kelompok terhadap mayoritas penduduk bumi. Negeri-negeri yang memiliki sumber daya alam melimpah, tidak jaminan bahwa mereka yang paling makmur dan paling cepat pertumbuhannya – mereka justru menjadi target penjajahan jenis baru – penjajahan ekonomi, keuangan, politik dan pemikiran.

 

 

Lantas apakah yang benar Marxism dan Leininism yang membagi sumber daya kehidupan yang terbatas secara sama rasa dan sama rata ?, tidak juga ! Karena pembagian yang demikian juga tidak mendorong orang untuk berkinerja optimal meng-eksplorasi kekayaan alam di bumi ini.

 

 

Maka solusinya tinggal umat ini yang seharusnya bisa menghadirkan kemakmuran di bumi itu. Umat inilah yang dikabarkan oleh hadits Nabi berikut yang akan memakmurkan bumi sekali lagi sebelum kiamat datang di bumi ini :

 

 

" Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia idak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai " (HR. Muslim).

 

 

Kita bisa optimis bahwa kemakmuran di bumi masih akan datang sekali lagi – berapapun jumlah penduduk bumi saat itu, karena selain hadits tersebut di atas juga adanya janji Allah langsung di sejumlah ayat yang bunyinya senada :

 

 

"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu." (QS 15 :21).

 

 

Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tidak seimbang seperti ketidak seimbangan antara jumlah penduduk bumi dengan sumber daya kehidupannya – yang diteorikan oleh Thomas Malthus tersebut di atas :

 

 

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?" (QS 67 :3)

 

 

Bahwa belum semuanya sumber daya kehidupan tersebut kita temukan dan kita kuasai saat ini, karena ke-Maha Tahu-an Allah juga – yang tidak menghendaki kita berlebih-lebihan dalam menggunakannya :

 

 

"Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." (42:27)

 

 

Jadi sumber daya di bumi itu cukup untuk semuanya, tidak berlebih dan tidak kurang - tetapi harus terus digali dan dikelola secara adil. Untuk bisa terus menggali dan mengelola sumber daya yang ada di bumi ini secara adil itulah kita diciptakan oleh Allah sebagai khalifahNya – yang memakmurkan bumi ini (QS 11 :61).

 

 

Bila kapitalism itu memperebutkan sesuatu yang dianggapnya sedikit atau terbatas (scarcity), Marxism membagi yang sedikit itu sama rata sama rasa dan berharap cukup dengan yang sedikit itu. Kita bukan keduanya, kita yakin bahwa sumber-sumber kehidupan itu cukup, hanya perlu terus digali dan dikelola secara adil mengikuti petunjuk-petunjukNya. InsyaAllah.

 

 

Disclaimer:
The contents of this email, together with its attachments, may contain confidential information belong to Virginia Indonesia Co., LLC ("VICO") and Virginia Indonesia Co., CBM Limited  ("VICO CBM"). If you are not the intended recipient, please notify the sender immediately and delete this e-mail from your system, and you should not disseminate, distribute, copy or otherwise use this email or any part thereof.