Senin, 25 Maret 2013

FW: Gubernur yang Miskin

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Suparman
Sent: Thursday, March 21, 2013 7:22 AM
To: BDI
Subject: Gubernur yang Miskin

 

Gubernur yang Miskin

Selasa, 19 Maret 2013, 15:03 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oeh : H Ahmad Dzaki, MA
 
Pada masa khalifah Umar bin Khattab, ada seorang gubernur yang ditugaskan di Syiria. Dia bernama Said bin Amir, ia adalah seorang pemimpin yang baik, jujur dan sangat dicintai rakyatnya.

Tapi dia hidup dalam keprihatinan. Dia bukan orang kaya, rumahnya tidak mewah, tidak memiliki kendaraan dinas dan tidak mau menggunakan fasilitas negara.

Suatu hari, ada serombongan rakyat Syiria yang datang menghadap Khalifah Umar bin Khattab, lalu khalifah berkata kepada mereka: coba kalian tuliskan nama-nama orang miskin yang ada di Syiria, saya akan membagikan bantuan kepada mereka dari baitul mal.

Mereka pun menulis nama-nama penduduk Syiria yang miskin salah satunya adalah Said bin Amir. Membaca daftar nama-nama tersebut, khalifah Umar bin Khattab terkejut sambil berkata, “Siapa Said bin Amir ini ? Mereka menjawab: Dia adalah gubernur kami, wahai khalifah.''

“Gubernur kalian miskin ?“ tanya Khalifah. “Benar, wahai khalifah,“ jawab mereka serempak “Bahkan sudah beberapa hari ini kami lihat istrinya tidak memasak apapun.”

Lalu Khalifah Umar bin Khattab menangis tersedu-sedu sambil memasukkan uang seribu dinar ke dalam kantong, lalu ia berkata : “Bawa ini ke gubernur kamu, dan serahkan ini untuk biaya hidupnya”.

Rombongan itu kembali ke Syiria dan menyerahkan amanat dari khalifah kepada gubernur, saat membuka isi kantong, Said bin Amir berucap dengan kencangnya ; Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, telah datang kepada ku dunia yang akan merusak akhiratku.'' Istrinya lalu berkata : “ Lenyapkan saja dunia itu wahai suamiku.”

Atas persetujuan istrinya, Said bin Amir membagi-bagikan uang seribu dinar tersebut kepada rakyatnya.

Pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab datang mengunjungi Syiria untuk melihat situasi umat Islam di sana, lalu menanyakan rakyat Syiria tentang apa yang diperbuat Said bin Amir, sang gubernur.

Karena ini adalah kesempatan yang sangat langka bisa bertemu dengan Khalifah Umar bin Khattab, rakyat pun mengadukan tiga hal tentang gubernur mereka.

Namun khalifah sudah memanggil gubernur tersebut sebelumnya untuk bersama-sama mendengarkan keluhan rakyat Syiria.

Seorang rakyat mengadu, “Gubernur kami selalu datang terlambat dalam bekerja, dia baru datang manakala hari sudah hampir siang.”

Khalifah Umar bin Khattab meminta Said bin Amir menjelaskan hal tersebut. Said bin amir berkata “Demi Allah, sebenarnya saya tidak ingin mengatakan hal ini. Tiap pagi saya bekerja membuat roti untuk keluarga karena saya tidak memiliki pembantu, setelah semuanya siap, barulah saya berwudhu dan keluar untuk bekerja menemui rakyat.''

Lalu khalifah berkata lagi. “Apalagi yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?” Seorang rakyat berbicara “Kalau malam tiba gubernur kami tidak mau menerima tamu siapapun.'' Lalu gubernur menjawab, “Aku membagi waktuku, siang aku gunakan untuk bekerja dan mengurusi urusan dunia, malam hari aku gunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.''

Khalifah berkata lagi, “Apalagi keluhan kalian?“ Seorang rakyat kembali berkata “Setiap bulan gubernur memiliki satu hari yang tidak mau diganggu oleh siapapun.”

Gubernur menjawab, “Aku tidak memiliki pembantu yang mencucikan pakaian, dan aku juga tidak memiliki pakaian kecuali yang aku pakai ini, pada hari itu, aku mencuci pakaianku dan aku menunggunya sampai kering sehingga aku tidak bisa menemui rakyatku, setelah pakaianku kering pada sore hari barulah aku pakai lagi dan menemui rakyatku.”

Khalifah Umar bin Khattab pun berdecak kagum sambil mengucap subhanallah. Cerita tersebut di atas sangat menginspirasi kita, saat kita sedang ramai memilih calon pemimpin.

Telinga peka mendengar berita-berita yang tidak mengenakkan, seseorang yang berkeinginan menjadi gubernur dia harus menyiapkan uang milyaran rupiah untuk kampanye dan menarik simpati rakyat.

Berbagai macam taktik dan siasat disusun dan direncanakan, tidak dipikir apakah itu halal atau haram? Rakyat juga cenderung memilih calon pemimpin yang memiliki harta berlimpah, bermobil mewah, selalu muncul di televisi, selalu dimuat di surat kabar bila memberikan sumbangan, tidak peduli apakah dia layak menjadi pemimpin atau tidak.

Lihatlah Said bin Amir, seorang pemimpin yang patut dicontoh. Kehidupannya sangat memprihatinkan bahkan dia termasuk ke dalam daftar orang yang miskin, luar biasa. Tapi,dia bisa melaksanakan amanah dengan baik.

Semoga kisah ini dapat dibaca dan dijadikan bahan renungan saudara-saudaraku yang berkeinginan menjadi pemimpin.

Ingat itu adalah amanah yang harus dilaksanakan dengan baik bukan kedudukan yang digunakan untuk memperkaya diri sendiri dan menumpuk harta, wallahu a’lam bish-shawab.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

Masjidil Haram

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/03/24/mk638o-masjidil-haram

 

Senin, 25 Maret 2013, 03:03 WIB

 

Kabah di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi, Selasa (23/10). (Hassan Ammar/AP)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ustaz Yusuf Mansur

Masjidil Haram memiliki 'aura' yang sangat luar biasa. Jangankan bagi orang yang belum pernah ke Masjidil Haram, yang sudah ke sana saja merasakan rindu yang teramat besar.

Bisa melihat Ka'bah yang selama ini jadi kiblat 'yang tidak kelihatan', sekarang tiba-tiba bisa melihat dengan mata telanjang. Yang tidak diizinkan Allah pun bisa memegang, menyentuh, meraba, kiswah Ka'bah.

Bagi yang sudah pernah ke sana, mungkin ingat pertama kali momentum mulai melihat menara Masjidil Haram dari kejauhan, saat memasuki kota Makkah. Bermandikan cahaya! Rata-rata jamaah umrah, memasuki Makkah, malam hari, dini hari, atau menjelang shubuh.

"Bapak Ibu, Dhuyuufurrohmaan (,para tamu Allah), lihat, Masjidil Haram sudah kelihatan...", begitu kata muthowwif, pembimbing kepada jamaah. Sebagian jamaah yang tertidur, langsung melek. 

Sebagiannya berdiri, kemudian bertasbih, bertalbiyah, bershalawat, dan sebagian besarnya akan menangis. Nggak menyangka, sudah sampai di Makkah, dan segera ke Masjidil Haram.

Sejurus kemudian, dalam keadaan berpakaian ihram, pintu Masjidil Haram sudah di depan mata. Warna keramik, lalu lalangnya jamaah umrah, karpet masjidil haram, ornamen-ornamennya, masih bisa kita ingat dengan jelas. Dan kemudian setelah memasuki Masjidil Haram, kita melewati deretan galon air zamzam. Subhaanallaah...

Di tengah Masjidil Haram, Ka'bah berdiri dengan sejuta pesonanya. Kiswah hitam menyelubungi Ka'bah. Berdegup jantung memandangnya.

Terdengar kemudian muthowwif mengucapkan doa ketika melihat Ka'bah, yang bagian sebagian orang doa itu makin membuat air mata tambah berlinang.

Buat jamaah yang belum pernah melihat Ka'bah, masuk kota Suci Makkah, masya Allah, baca atau dengar cerita seperti ini, akan ikut merinding. Air mata pun menetes. Kangen pengen ke sana.

Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika la syarika laka Labbaik. Innal hamda, wanni'mata laka wal mulk. La syarika lak. Lautan manusia mengucapkan kalimat talbiyah ini. Allahu Akbar. 

Saya doakan semoga saudara semua bisa ikut tawaf. Merasakan berdoa di Multazam. Bisa menyentuh dan mencium Hajar Aswad. Bisa berdoa di dekat Maqam Ibrahim, dan di tempat-tempat mustajabah.

Perbanyaklah berdoa, bersedekah, dan mintalah sama Allah agar dimudahkan bisa ke sana, apalagi bisa berhaji, menyempurnakan Rukun Islam kelima, bukan hanya untuk umrah.

Yang sudah pernah ke sana, saya doakan bisa ke sana, khususnya di waktu-waktu Ramadhan. Bisa tarawih, tahajud, dan witir di Masjidil Haram. Subhanallah. Ini belum lagi cerita tentang Masjid Nabawi di Kota Rasul, Madinah al Munawwaroh.

Jamaah sekalian. Saat saudara baca ini, kami berada di Dubai, untuk menjemput kedatangan seseorang yang dimuliakan Allah, Syeikh al Ghomidi. Salah seorang Imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Kedatangan beliau dalam rangka menghadiri acara Wisuda Akbar IV, di Gelora Bung Karno Senayan, 30 Maret mendatang.

Insya Allah, pada Jumat (29/3),  mudah-mudahan beliau diizinkan Allah menjadi khatib di Masjid Istiqlal. Sehingga jamaah yang rindu dengan Kota Makkah dan Madinah, rindu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, bisa merasakan sensasi dan suasana seakan-akan berada di Tanah Suci. Allahu akbar.

Kami mohon doanya dari semuanya, agar perjalanan Syeikh al Ghomidi ke Indonesia, diberi kelancaran, kemudahan, dan Syeikh diberi kesehatan. Juga agar bisa memberkahi bumi Indonesia yang betul-betul lagi butuh rahmat-Nya Allah. 

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

Minggu, 24 Maret 2013

FW: Cinta Perlu Bukti < Jamil Azzaini

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

 

-----Original Message-----
From: Nana Triana
Sent: Monday, March 25, 2013 6:12 AM
To: BDI
Subject: Cinta Perlu Bukti « Jamil Azzaini

 

 

http://www.jamilazzaini.com/cinta-perlu-bukti/

 

Bila saya bertanya kepada Anda, “Apakah Anda mencintai bapak dan ibu Anda?” Sebagian besar pasti menjawab, “Ya iyalah!” Tapi bila saya tanya, “Apa buktinya bahwa Anda mencitai mereka?” Apa kira-kira jawaban Anda? Berhentilah sejenak, renungkanlah apa bukti-bukti yang sudah Anda lakukan sebagai perwujudan cinta Anda kepada orang tua.

 

Bukti cinta kepada orang tua itu setidaknya diwujudkan dalam 3 hal. Pertama, memenuhi keinginan orang tua. Selama keinginan orang tua bukan dosa dan maksiat, penuhilah, walau mungkin berat bagi Anda. Bila mereka menginginkan Anda bekerja, sementara Anda ingin jadi pengusaha maka bekerja adalah pilihan terbaik.

 

Bila passion Anda memang ingin jadi pengusaha, tetaplah pelihara dan jaga itu. Gunakan waktu-waktu luang Anda untuk membangun kerajaan bisnis. Apabila semua sudah tertata dengan baik, bicaralah dengan penuh rasa hormat untuk minta ridho kepadanya untuk menjadi pengusaha. Saya yakin bila Anda sudah memberikan bukti, orang tua berpeluang besar meridhoi Anda. Ingatlah keberkahan dan ketenangan hidup Anda ditentukan ridho mereka.

 

Kedua, sediakan waktu untuk mereka. Saat kita kecil, kita akan senang bila orang tua menemani kita. Saat kita sudah besar, orang tua sangat senang bila kita bisa sering menemani mereka. Saat mereka sakit, kehadiran kita sangatlah dirindukan. Sungguh terlalu bila orang tua sakit, kita tidak menyediakan waktu untuk menemaninya.

 

Ngobrol ringan tentang masa lalu, memijat lembut tubuh mereka yang mulai keriput, tidur di pangkuannya sambil bercerita, adalah waktu-waktu yang sangat berharga bagi mereka. Menemani mereka berkunjung ke rumah teman-temannya adalah kebahagiaan tersendiri buat mereka. Jangan sampai saat kita berkunjung menemui mereka, ternyata waktu kita dihabiskan untuk kepentingan pribadi kita, egois.

 

Ketiga, kirimkan pahala untuk mereka. Saya sangat yakin bahwa setiap kebaikan dan amal sholeh yang kita lakukan, pahalanya juga akan mengalir kepada orang tua kita. Sibukkan diri kita dengan berbuat kebaikan, bayangkan wajah mereka walau mungkin sudah tiada dan kirimkan amal sholeh itu kepada mereka. Jangan pernah sedikitpun berniat berbuat maksiat, karena itu pasti akan membuat orang tua kita tersiksa.

 

Sadarilah, kita pasti tidak bisa membalas kebaikan orang tua. Walau seluruh ucapan terima kasih di dunia dijadikan satu kemudian dipersembahkan bagi mereka, itu amatlah sedikit dibandingkan dengan kasih sayang mereka. Lakukan tiga hal di atas, agar setidaknya kita tidak menyadang predikat anak durhaka.

 

Salam SuksesMulia!

 

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

FW: Sikap Amanah

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

 

From: Suparman
Sent: Wednesday, March 20, 2013 6:58 AM
To: BDI
Subject: Sikap Amanah

 

Sikap Amanah

Selasa, 19 Maret 2013, 16:46 WIB

Berdoa (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh; Kurnia MH

Amanah adalah bersikap adil, menempatkan sesuatu sesuai dengan kedudukannya dan tidak mengurangi sedikit pun hak-haknya. Amanah merupakan persaksian kepada Allah, nasihat kepada orang-orang Muslim, dan menjelaskan kebenaran.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS al-Ahzab [33]: 72).

Ibrahim bin Adham pernah menjadi penjaga kebun milik orang kaya. Dia menjaga kebun tersebut sambil terus memperbanyak shalat. Suatu hari, pemilik kebun meminta dipetikkan buah delima. Ibrahim mengambil dan memberinya. Tapi, pemilik kebun malah memarahinya. Ia tersinggung karena diberikan buah delima yang asam rasanya.

“Apa kau tak bisa membedakan buah delima yang manis dan asam?” Ibrahim menjawab bahwa dia belum pernah merasakannya. Pemilik kebun menuduh Ibrahim berdusta.

Ibrahim lantas shalat di kebun itu. Pemilik kebun menuduhnya berbuat riya dengan shalatnya. “Aku belum pernah melihat orang yang lebih riya dibanding engkau.” Ibrahim menjawab, ”Betul tuanku, ini baru dosaku yang terlihat. Yang tidak, jauh lebih banyak lagi.”

Di hari lain, majikannya kembali meminta buah delima. Kali ini Ibrahim memberi yang terbaik menurut pengetahuannya. Tapi lagi-lagi pemilik kebun kecewa karena buah yang dia terima asam rasanya. Dia pun memecatnya.

Ibrahim kemudian pergi. Di perjalanan, ia menjumpai seorang pria yang sekarat karena kelaparan. Ibrahim memberinya buah delima yang tadi ditolak majikannya.

Ibrahim lantas berjumpa lagi dengan pemilik kebun yang berniat membayar upahnya. Ibrahim berkata agar dipotong dengan buah delima yang ia berikan kepada orang sekarat yang ia jumpai.

“Apa engkau tak mencuri selain itu,” tanya pemilik kebun. “Demi Allah, jika orang itu tidak sekarat, aku akan mengembalikan buah delimamu.” Setelah upahnya dibayar Ibrahim pun pergi.

Setahun kemudian, pemilik kebun mendapat tukang kebun yang baru. Dia kembali meminta buah delima. Tukang kebun barunya itu memberinya yang paling harum dan manis.

Pemilik kebun itu bercerita bahwa ia pernah memiliki tukang kebun yang paling dusta. Karena mengaku tak pernah mencicipi buah delima dan memberi buah delima kepada orang yang kelaparan, minta dipotong upahnya untuk buah delima yang ia berikan kepada orang kelaparan itu.

“Dia juga selalu shalat. Betapa dustanya dia,” kata pemilik kebun. Tukang kebun yang baru lantas berujar. ”Demi Allah, wahai majikanku. Akulah orang yang kelaparan itu. Dan tukang kebun yang engkau ceritakan itu dulunya seorang raja yang meninggalkan singgasananya karena zuhud.”

Pemilik kebun lantas mengambil debu dan menaburnya di atas kepalanya sembari menyesali. “Celaka, aku telah menyia-nyiakan kekayaan yang tak pernah aku temui.”

Itulah kisah Ibrahim bin Adham yang terkenal karena amanah dan kezuhudannya, dia telah melaksanakan hak orang lain, memenuhi hajat orang miskin, dan membantu orang yang membutuhkan. Ia juga melaksanakan amanah dengan baik. Semoga kita bisa meneladaninya. Wallahu a'lam.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

 

FW: Empat Prinsip Etos Kerja Islami

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

 

From: Suparman
Sent: Thursday, March 21, 2013 7:10 AM
To: BDI
Subject: Empat Prinsip Etos Kerja Islami

 

Empat Prinsip Etos Kerja Islami

Kamis, 21 Maret 2013, 06:45 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh M Husnaini

Bekerja merupakan keniscayaan dalam hidup. Dalam suasana zaman yang semakin sulit, kaum beriman dituntut mampu survive dan bangkit membangun peradaban seperti sedia kala. Syarat untuk itu tidak cukup lagi ditempuh dengan kerja keras, tetapi harus kerja cerdas.

Tidak ada lain bagi kaum beriman kecuali harus mengkaji pandangan Islam tentang etos kerja. Meski makhluk hidup di bumi sudah mendapat jaminan rezeki dari Allah, namun kemalasan tidak punya tempat dalam Islam. Fatalisme atau paham nasib tidak dikenal dalam Islam. Firman Allah, "...maka carilah rezeki di sisi Allah, kemudian beribadah dan bersyukurlah kepada Allah. Hanya kepada Allah kamu akan dikembalikan” (Qs Al-Ankabut: 17).

Menurut ayat itu, rezeki harus diusahakan. Dan seakan mengonfirmasi ayat di atas, firman Allah di ayat lain tegas menyatakan, cara mendapat rezeki adalah dengan bekerja. “Jika shalat telah ditunaikan, maka menyebarlah kalian di muka bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung” (Qs Al-Jumu’ah: 10).

Ayat lain bahkan menyatakan, dijadikannya siang terang agar manusia mencari rezeki dari Allah (Qs Al-Isra: 12), terlihatnya bahtera berlayar di lautan agar manusia mencari karunia Allah (Qs An-Nahl: 14), adanya malam dan siang agar manusia beristirahat pada waktu malam dan bekerja pada waktu siang (Qs Al-Qashash: 73).

Masih banyak ayat serupa. Intinya, rezeki Allah hanya akan diperoleh dengan etos kerja tinggi. Bagaimana teknis pelaksanaan etos kerja sebagaimana perintah Allah di atas?

Menurut riwayat Al-Baihaqi dalam ‘Syu’bul Iman’ ada empat prinsip etos kerja yang diajarkan Rasulullah. Keempat prinsip itu harus dimiliki kaum beriman jika ingin menghadap Allah dengan wajah berseri bak bulan purnama.

Pertama, bekerja secara halal (thalaba ad-dunya halalan). Halal dari segi jenis pekerjaan sekaligus cara menjalankannya. Antitesa dari halal adalah haram, yang dalam terminologi fiqih terbagi menjadi ‘haram lighairihi’ dan ‘haram lidzatihi’.

Analoginya, menjadi anggota DPR adalah halal. Tetapi jika jabatan DPR digunakan mengkorupsi uang rakyat, status hukumnya jelas menjadi haram. Jabatan yang semula halal menjadi haram karena ada faktor penyebabnya. Itulah ‘haram lighairihi’. Berbeda dengan preman. Dimodifikasi bagaimanapun ia tetap haram. Keharamannya bukan karena faktor dari luar, melainkan jenis pekerjaan itu memang ‘haram lidzatihi’.

Kedua, bekerja demi menjaga diri supaya tidak menjadi beban hidup orang lain (ta’affufan an al-mas’alah). Kaum beriman dilarang menjadi benalu bagi orang lain. Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang muda dan kuat tetapi pekerjaannya mengemis. Beliau kemudian bersabda, “Sungguh orang yang mau membawa tali atau kapak kemudian mengambil kayu bakar dan memikulnya di atas punggung lebih baik dari orang yang mengemis kepada orang kaya, diberi atau ditolak” (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, setiap pekerjaan asal halal adalah mulia dan terhormat dalam Islam. Lucu jika masih ada orang yang merendahkan jenis pekerjaan tertentu karena dipandang remeh dan hina. Padahal pekerjaan demikian justru lebih mulia dan terhormat di mata Allah ketimbang meminta-minta.

Ketiga, bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga (sa’yan ala iyalihi). Mencukupi kebutuhan keluarga hukumnya fardlu ain. Tidak dapat diwakilkan, dan menunaikannya termasuk kategori jihad. Hadis Rasulullah yang cukup populer, “Tidaklah seseorang memperoleh hasil terbaik melebihi yang dihasilkan tangannya. Dan tidaklah sesuatu yang dinafkahkan seseorang kepada diri, keluarga, anak, dan pembantunya kecuali dihitung sebagai sedekah” (HR Ibnu Majah).

Tegasnya, seseorang yang memerah keringat dan membanting tulang demi keluarga akan dicintai Allah dan Rasulullah. Ketika berjabat tangan dengan Muadz bin Jabal, Rasulullah bertanya soal tangan Muadz yang kasar. Setelah dijawab bahwa itu akibat setiap hari dipakai bekerja untuk keluarga, Rasulullah memuji tangan Muadz seraya bersabda, “Tangan seperti inilah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya”.

Keempat, bekerja untuk meringankan beban hidup tetangga (ta’aththufan ala jarihi). Penting dicatat, Islam mendorong kerja keras untuk kebutuhan diri dan keluarga, tetapi Islam melarang kaum beriman bersikap egois. Islam menganjurkan solidaritas sosial, dan mengecam keras sikap tutup mata dan telinga dari jerit tangis lingkungan sekitar. “Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian harta yang Allah telah menjadikanmu berkuasa atasnya.” (Qs Al-Hadid: 7).

Lebih tegas, Allah bahkan menyebut orang yang rajin beribadah tetapi mengabaikan nasib kaum miskin dan yatim sebagai pendusta-pendusta agama (Qs Al-Ma’un: 1-3). Itu karena tidak dikenal istilah kepemilikan harta secara mutlak dalam Islam. Dari setiap harta yang Allah titipkan kepada manusia, selalu menyisakan hak kaum lemah dan papa.

Demikianlah, dan sekali lagi, kemuliaan pekerjaan sungguh tidak bisa dilihat dari jenisnya. Setelah memenuhi empat prinsip di atas, nilai sebuah pekerjaan akan diukur dari kualitas niat (shahihatun fi an-niyat) dan pelaksanaannya (shahihatun fi at-tahshil). Itulah pekerjaan yang bernilai ibadah dan kelak akan mengantarkan pelakunya ke pintu surga.


Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

Kamis, 21 Maret 2013

FW: Hati yang Lapang

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Suparman
Sent: Friday, March 22, 2013 7:02 AM
To: BDI
Subject: Hati yang Lapang

 

Hati yang Lapang

Jumat, 22 Maret 2013, 06:49 WIB

Berdoa (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Zainal Arifin SPd   
Seorang pemuda yang sedang galau mendatangi seorang ulama yang bijaksana. Pemuda tersebut sudah tidak mampu lagi menjalani kehidupannya yang penuh problematika, sehingga ia pun mengadu kepada ulama tersebut.

“Wahai orang alim, aku sudah bosan hidup dengan permasalahan yang tiada henti mendera kehidupanku. Dapatkah engkau membantuku menyelesaikan segala masalah yang selalu ada dalam hidupku ini?” Tanya pemuda itu.

“Hai pemuda yang gagah, adakah tempat di muka bumi ini yang tidak menimbulkan masalah? Sesungguhnya setiap yang bernyawa di dunia ini tidak akan terlepas dari yang namanya permasalahan. Nah, maukah kamu aku berikan cara agar mudah menghadapi permasalahanmu itu?” Ulama tersebut balik bertanya.

“Apa yang harus aku lakukan?” Pemuda itu kembali bertanya.

Ulama tersebut hanya tersenyum sembari mengambil segenggam garam dan memasukkannya ke dalam gelas yang berisi air. Garam itu diaduknya dalam gelas yang berisi air tersebut hingga larut dan diberikan kepada pemuda itu. Kemudian, pemuda tersebut diminta meminum air garam dalam gelas tadi.

“Bagaimana rasanya?” Tanya ulama tersebut.

“Asin sekali,” jawab pemuda itu.

Selanjutnya sang ulama mengajak pemuda itu ke tepi danau air tawar yang luas. Ia pun memasukkan segenggam garam yang sama ukurannya dengan garam sebelumnya yang dimasukkan ke dalam gelas tadi. Setelah beberapa saat mengaduk-aduk air di tepi danau itu, ia pun menyuruh anak muda tadi mengambil air dari danau itu dan diminta meminumnya.

“Bagaimana rasanya?” Ulama itu kembali bertanya.

“Hambar, tawar dan tidak berasa,” kata pemuda itu.

“Demikianlah permasalahan hidup, jika kita menghadapinya dengan hati sempit seperti gelas tadi, maka sangat terasa berat permasalahan hidup ini. Sebaliknya, jika kita menghadapi berbagai macam masalah dengan hati yang lapang seluas danau itu, maka tidak akan terasa permasalahan di dunia ini. Sesungguhnya masalah yang paling berat hanya ketika manusia berada di neraka, maka jadikanlah permasalahanmu di dunia ini sebagai lumbung amal sholehmu agar terbebas dari perkara di neraka jahim.” Jelas ulama itu sambil berlalu meninggalkannya.

Hikmah yang dapat diambil dari ulasan kisah tersebut adalah pentingnya melapangkan hati dalam menyikapi problematika hidup ini. Hati yang lapang akan mampu menampung dan menetralisir permasalahan hidup yang silih berganti datangnya.

Luas dan sempitnya hati sangat mempengaruhi mental seseorang dalam menjalani liku-liku kehidupan. Dengan hati yang lapang, seseorang akan lebih bijak memahami permasalahan hidupnya. Karena hati yang lapang merupakan bagian dari kesabaran seseorang, dan kesabaran adalah anugerah terbaik dari Allah SWT. ''...dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang dari pada kesabaran.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dan telah banyak pembahasan mengenai sabar yang merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang beriman. “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, maka ia bersyukur. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena mengetahui bahwa hal tersebut adalah baik baginya.” (HR Muslim).

Redaktur : Heri Ruslan

 

 

FW: KLiK-Kajian Lintas Perkantoran Maret 2013; PERAN KELUARGA DALAM MEMBANGUN UMAT

Please visit BDI Website http://vico-bdi.vico.co.id/

Pengurus BDI berupaya menghindari peredaran email-email yang dianggap dapat menimbulkan polemik antara anggota BDI

 

 

 

From: Nana Triana
Sent: Thursday, March 21, 2013 9:25 AM
To: BDI
Subject: KLiK-Kajian Lintas Perkantoran Maret 2013; PERAN KELUARGA DALAM MEMBANGUN UMAT